Jateng Dukung Kebijakan “Green Economy” dan “Green Enterpreunership”

JO, Semarang – Berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), 80% usaha mikro yang berada di industri kecil pedesaan, setengahnya adalah perempuan. Meski demikian, berbagai upaya tersebut belum mendapatkan hasil yang maksimal.

Masih ada beberapa hal yang harus dievaluasi untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Menurut Hj. Sri Suharti Bibit Waluyo, Istri Gubernur Jawa Tengah modal yang masih kecil, keterampilan dan penguasaan teknologi minim, pengetahuan tentang manajerial masih kurang, dan akses pada keberlangsungan bahan baku dan pasar juga masih kurang.

“Peran dan partisipasi mereka dalam proses-proses pengambilan keputusan juga masih sangat lemah,” jelasnya, bersamaan Agenda Munas IV Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, siap mendukung pemberlakuan “Green Economy” dan “Green Enterpreunership”, meskipun masih banyak usaha mikro kecil yang dikelola perempuan belum memperhatikan persoalan lingkungan hidup.

“Karena banyak pula pengusaha perempuan yang kami bina telah memanfaatkan limbah sebagai produk yang bernilai tinggi, seperti limbah kain perca, eceng gondok, limbah plastik dan kaleng, dan lainnya,” ungkapnya.

Pada agenda tersebut sebanyak 33 istri gubernur dan 35 istri bupati/walikota se Jateng, serta istri FKPD dan Organisasi Kewanitaan Prov. Jateng menerima pengarahan Ibu Kepala Negara. Usai pengarahan, dilanjutkan kunjungan di obyek wisata Shampoo Kong dan pusat kerajinan tangan, Dekranasda Jateng dalam acara Ladies Programme.

Pada kesempatan acara pengarahan menyampaikan bahwa selama ini, usaha mikro memiliki fungsi yang sangat strategis dalam menyerap tenaga kerja sebesar 91%. – bud