Tangkal Konflik Kepentingan Melalui Komunikasi

Ust. Edi Lukito - Panglima Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS).
Ust. Edi Lukito – Panglima Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS).

JO, Solo – Secara sosiologis, konflik merupakan suatu proses sosial antar dua orang atau lebih, dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Itulah definisi konflik yang di sampaikan Ust. Edi Lukito, Panglima Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS). Saat dialog publik yang mengangkat pencegahan konflik antar kepentingan di Kota Solo diselenggarakan Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK) Surakarta di Auditorium Gedung Soloraya Bakorwil II Solo, Jum’at (25/1/2013).

Namun demikian, pengertian dan definisi konflik kepentingan masih menjadi diskusi dan polemik didalam praktik penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.

Beberapa kasus di Solo yang pernah muncul di publik seperti masalah hotel Maliawan, Pajak Listrik PLN, Raperda Miras yang di tolak ormas, Ijin pendirian karaoke oleh Pemkot, Relokasi Bantaran Sungai Bengawan Solo, Pemindahan tempat sidang kasus pidana serta Kasus Terorisme.

“Beberapa kasus semacam ini sulit dilepaskan dari konflik kepentingan. Kasus kontroversi ini bisa dinilai oleh sebagian orang secara obyektif maupun subyektif,” terang Edi Lukito.

Menurutnya, penanganan konflik kepentingan semacam ini diperlukan pemahaman dan identifikasi situasi konflik kepentingan, seperti sumber, jenis serta siapa saja yang berpotensi mengalami konflik kepentingan.

Diharapkan dari penyelenggaraan diskusi ini tercapai beberapa tujuan, yakni adanya kontrol bagi penyelenggara pemerintahan untuk mengenal, mengatasi, dan menangani konflik kepentingan. Kedua, menciptakan budaya pelayanan publik yang dapat menangani situasi konflik kepentingan secara transparan dan efisien.

“Mencegah terjadinya penyelewengan dikalangan penyelenggara pemerintahan, memberdayakan dan peran serta elemen masyarakat dengan pendekatan humanis dan menjunjung tinggi rasa kebersamaan melalui silaturahmi dan komunikasi,” tambah Edi. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *