Kebangkitan Desa di Jawa Tengah

bibit wJO – Berbagai strategi pemenangan berbasis desa dengan beragam program yang ditawarkan dalam kampanye nanti ber-ikon desa seolah mendapatkan “booming,”  setelah bergulirnya gerakan Bali Ndeso Mbangun Deso-nya Gubernur Jateng yang telah banyak memberikan lesson learn, patut diadopsi serta dikembangkan oleh semua pihak.

Di luar itu, pasca Jokowi-Ahok menempati kursi DKI I. Hal ini menandai kebangkitan kembali betapa penting dan strategisnya memberdayakan masyarakat desa yang banyak menitik beratkan pada aras transformasi sosio kultur masyarakat. Pendeknya, desa akan menjadi kunci kemenangan pemerolehan suara pada ajang pesta demokrasi rakyat Jateng.

Masyarakat desa pun pintar-pintar, mereka cukup bijak menilai siapa yang layak dicalonkan maupun siapa pula yang layak untuk dipilih atau sebaliknya mereka juga cukup cerdas memberikan catatan sosok yang (hanya) layak dicalonkan, tetapi tidak cukup layak untuk dipilih di pikiran dan hatinya. Redefinisi subyek yang ada di desa, yakni orang desa menjadi memiliki nilai tambah oleh Thukul Arwana layak kita acung jempol.  Dulu orang malu mengakui sebagai wong ndeso, Tukul jelas-jelas menyebut diri demikian. Mengapa? Untuk memperkuat bahwa menjadi wong ndeso itu, dalam ensiklopedinya, disebutkan bahwa wong ndeso itu adalah seseorang yang kurang tahu tapi tidak malu untuk terus mencari tahu.

Segmental masyarakat desa menjadi komoditas berharga dalam pesta demokrasi. Namun, di domain lain, desa juga menjadi sesuatu yang ditinggal (residu), di mana tingkat kemenarikannya hanya sebagai proyek (Chambers 1983), sehingga pandangan itu menyebabkan mengentalnya pandangan dikotomis : desa versus kota, tradisional versus modern.

Kekhawatiran Chambers menjadi menarik saat-saat menjelang pilgub, data BPS menempatkan angka kemiskinan Jateng 4,977 juta orang dan sekitar 2,976 juta orang-nya (59,79%) berada di pedesaan, rendahnya akses masyarakat pedesaan ke sumber daya ekonomi seperti lahan/tanah, permodalan, keterampilan, informasi serta jaringan kerjasama.

Demikian juga soal pendidikan, kesehatan hingga masih lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat, serta terbatasnya akses, kontrol dan partisipasi kaum perempuan nilai sosial di samping kuatnya budaya patriarkhi.

Nampaknya strategi desa tidak lagi ndeso  tidak boleh diremehkan lagi dalam pilgub dan pemilihan lainnya kini dan masa mendatang. Sekali lagi, Men-“desa”-kan Jateng barangkali tetap fokus, siapa pun Gubernurnya. Jika sudah demikian, Plato pun di akhir hayatnya bergetar ketika ditanya sari-sari pemikirannya, dia menjawab : mencintai dan bekerja. Begitulah Gubernur yang dinanti 2013-2018 : mencintai, ngayomi dan ngayemi masyarakat dan bekerja keras bahkan rela blusukan hingga pelosok desa hingga subuh pun dijalani demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat Jateng yang semakin sejahtera. – humas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.