Disiplin Perjuangan IIBF

Indonesia Islamic Bisnis Forum

News_17082013(1)JO“Tidak usah heran jika ada pengurus IIBF daerah yang saya lantik di Jakarta,” kata Presiden IIBF, HeppyTrenggono di depan pengurus dan anggota IIBF  Jawa Barat, Sabtu petang.

Heppy menjelaskan hal itu berkaitan dengan berdirinya IIBF Cabang Cimahi yang dilantik di sekretariat IIBF di Jakarta, akhir Mei 2013 lalu.  Ketika itu ada 16 orang pengusaha asal Cimahi yang dipimpin Abdul Rozak meminta dilantik dan siap berjuang di daerah Cimahi, Jawa Barat.

“IIBF boleh jadi tidak ada secara struktural di satu daerah tapi pejuang IIBF harus ada di mana-mana,”  tegas Heppy. Maka, lanjut Heppy ketika ada orang yang datang dan menyatakan siap berjuang, tidak mungkin ditolak tetapi justru harus didukung. Tinggal perjalanannya yang harus dipantau dan evaluasi.

“Yang lebih ekstrim di Blitar pengurusnya kita lantik di depan ruko,”  kata Heppy. Meskipun semula tidak ada rencana untuk pelantikan pengurus karena perjalanan ke Blitar itu dalam rangka roadshow Ramadhan dan pendirian Debt free Centre untuk Blitar, Malang, Kediri, Trenggalek dan Tulung Agung. Namun begitu mendengar kehadiran Presiden IIBF ke wilayah itu, beberapa engine IIBF Blitar segera berkonsolidasi membentuk pengurus dan meminta dilantik.

“Indonesia ini sangat luas. Penerbangan dari Sabang sampai Merauke setara dengan penerbangan dari Jakarta ke Jeddah,” jelas Heppy. Maka membangun struktur IIBF hingga ke seluruh pelosok perlu waktu lama.  Sementara persoalan ummat dan bangsa yang harus diselesaikan demikian komplek dan beragam.

“Kita harus memastikan bahwa semua anggota IIBF adalah pejuang. Pejuang itu artinya adalah orang membuat masyarakat menjadi lebih baik,”  tegas Heppy.  Maka untuk mengkonkritkan perjuangan IIBF terhadap masyarakat luas, IIBF membentuk  Debt Free Centre (DFC) di seluruh wilayah Indonesia.

Semua anggota IIBF yang telah memenuhi syarat bias menjadi penggerak, pengelola atau anggota  DFC.  “DFC itu akan menjadi posko pengaduan masyarakat yang berkomitmen untuk memperbaiki bisnid dan kehidupannya,”  urai Heppy.

Dari perjalanan seminggu selama Ramadhan 1434 H sudah berdiri 23 DFC yang tersebar dari Bandung hingga Surabaya.  Semua wilayah dan cabang IIBF akan dijelaskan tentang bagaimana mendirikan dan menjalankan DFC. “Sodik nanti yang akan menjelaskan detailnya,”  kata Heppy.

Mengapa DFC,  tidak yang lain?. “Hutang ini telah menjadi masalah kolosal di bangsa ini yang membuat individu, rumah tangga, perusahaan, daerah bahkan Negara kita kehilangan kemerdekaannya,” kata Sodik.

Petani, nelayan, pedagang, tukang becak, tukang tambal ban dan lain-lain banyak yang terjerat hutang bukan karena mereka tidak ada income tetapi justru karena karakter kayanya yang tidak terbangun.  Gampang mengambil hutang, terbujuk dengan tawaran gaya hidup,  tidak faham dengan hutang buruk dan lain-lain.

“Bagaimana mereka akan membangun kehidupan jika income yang ada hanya untuk setoran kepada rentenir?” tambah Sodik.  Maka DFC menjadi tempat mereka membicarakan masalahnya sekaligus membangun hidupnya. Karena selama ini tidak ada yang memperdulikan  orang-orang ini untuk membantu mereka menyelesaikan permasalahannya.

Untuk para anggota IIBF yang menjadi engine,  DFC ini juga menjadi ladang dakwah dan perjuangan. Sekaligus tempat mengasah dan mengembangkan diri juga. Karena dari cerita mereka yang bermasalah dalam kehidupannya itu  akan ada pelajaran hidup yang sangat berharga.

“Bagaimana menjalankan DFC ini, IIBF pusat sudah menyusun silabus dengan step-step apa yang harus dilakukan. Sangat mudah dan praktis,” kata Sodik.

Makanya setiap anggota IIBF yang sudah mengikuti  HTBDF dan FL  saja sudah lebih dari cukup untuk menjadi Ambassador.  Satu kota atau wilayah bias memiliki satu DFC, tergantung pada ketersediaan sumber daya dan tuntutan perkembangannya. Intinya,  seorang IIBF itu adalah pejuang. Maka disiplinnya adalah disiplin perjuangan. – 2as

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.