Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Jateng

di-kelasJO, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya memajukan kualitas pendidikan di seluruh wilayah provinsi ini. Dengan begitu, akan tercipta sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan memiliki daya saing tinggi. Gubernur Jawa Tengah, H Bibit Waluyo, mengungkapkan, peningkatan pembangunan pendidikan merupakan salah satu program gerakan Bali ndeso Mbangun Deso.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan, akan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, Kebijakan program dan anggaran pada urusan pendidikan di Jawa Tengah, diarahkan pada pemenuhan perataan dan layanan akses pendidikan, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, serta tata kelola dan pencitraan penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan tersebut diimplementasikan pada lima komponen utama pendidikan dalam rangka memenuhi Standar Pendidikan Nasional (SPN).

Yakni, kelembagaan, sarana prasarana, kurikulum, kesiswaan, serta pendidik dna tenaga kependidikan. Selama lima tahun terakhri ini, perkembangan kelima komponen itu sangat baik. Dari sisi kelembagaan, telah menunjukkan perkembangan positif. Persentase satuan pendidikan yang terakreditasi pada jenajang pendidikan SD/MI, SMP/MTs dan SMS/SMK/MA telah mencapai 100 % pada 2012, sesuai dengantarget.

Jumlah satuan pendidikan SMA yang menerapkan Sistem Manajemen Mutu (ISO) versi 9001 : 2000 meniingkat dari 0 % menjadi 7,28 % (melampaui target  ,82 %). Sedangkan satuan pendidikan SMK meningkat dari 5,91 % menjadi 38,75 % (melampaui target 11,93 %). Untuk saranan prasarana, persentase ruang kelas sesuai dengan standar nasional dari 2008 sampai triwulan I 2013 meningkat pada setiap jenjang pendidikan. Yaitu, PAUD dari 20 % menjadi 60 %. Pada 2013 dialokasikan bantuan keuangan untuk pemerintah kab/kota sebesar Rp 65,535 miliar untuk 497 lembaga, 2.761 unit APE, 60 PAUD percontohan, dan 65 USB PAUD, sehingga dapat mencapai target sebesar 70 %. Sedangkan untuk jenjang SD/MI meningkat dari 54,00 % menjadi 80,00 %, serta SLB dari 40 % menjadi 70 %.

Mengenai kurikulum, penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) telah dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan sesuai ketentuan sejak 2008. Dari aspek kesiswaan, keberhasilan kinerja dan pengembangan siswa di bidang akademik dan non akademik, dapat dilihat dari capaian berbagai indicator. Antara lain, meningkatnya angka kelulusan peserta didik ujian akhir nasional 2008-2012 pada setiap jenjang pendidikan, yaitu SD/MI dari 95,17 %, SMP/MTs dari 92,83 % menjadi 99,15%, SMA/MA/SMK dari 91,62% menjadi 99,87%, serta SLB mencapai 100% setiap tahun.

Prestasi siswa juga terus meningkat dari 2008-2012, baik kejuaraan nasional (OSN, FLS2N, OOSN, Lomojari SMP terbuka), maupun Internasional (Internasional Junior Science Olympad, Mathematics Competition, International Chemistry Olympiad, Internasional Physic Olympiad, Asia-Pasific Informatics Olympiad dan International Olympiad ini Informatics), dengan perolehan medali yang bertambah dari 190 medali (6 medali internasional dan 184 medali nasional), menjadi 235 medali (20 medali internasional dan 215 medal nasional).

Capaian lain, emningkatnya pemeretaan dan layanan akses memperoleh pendidikan pada 2008-2012 si setiap jenjang pendidikan. Yakni, angka partisipasi kasar (APK) PAUD dari 59,22 % menjadi 70,50%, angka partisipasi Murni (APM) SD/MI dari 90,99% menjadi 98,30%, APK SMP/MTs dari 92,62% menjadi 100,50%, APK SLB dari 34% menjadi51,74%. Sedangkan untuk APK SMA/MA/SMK meningkat dari 53,51% menjadi 67%. Pada 2013 Pemprov mengalokasikan bantuan keuangan kepada kab/kota sebesar Rp 36,89 miliar untuk pembangunan tiga unit sekolah baru (USB) SMK, pembangunan 141 ruang kelas baru (RKB), rehab 155 paket gedung, dan beasiswa bagi 14.150 siswa SMK/SMA kurang mampu.

Berkaitan dengan pendidik dan tenaga kependidikan, terjadi peningkatan pendidik yang berkualifikasi S1/D4 pada setiap jenjang pendidikan dari 2008 sampai triwulan I 2013. Pendidik PAUD berkualifikasi S1/D4 meningkat dari 11,3% menjadi 31,01%, SD/SDLB dari 22,90% menjadi 51,56%, SMP/SMPLB dari 73,80% menjadi 85,04%, dan menjadi 93,01%. Pendidik yang bersertifikat juga meningkat pada setiapjenjang pendidikan. Yaitu, PAUD dari 1,99% menjadi 14,02%, SD/SDLB dari 6,42% menjadi 46,90%, dan SMP/SMPLB dari 7,79% menjadi 54,75%, serta SMA/SMALB/SMK dari 18,43% menjadi 50,18%.

Selain lima komponen pokok tersebut, keberhasilan pembangunan pendidikan juga ditopang dari pendidikan vokasional, yang ditandai dengan 82% lulusan SMK terserap di dunia kerja, meningkatnya ratio siswa SMK :SMA dari 42:58 menjadi 67:33, dan pembangunan desa vokasi melalui bantuan taman bacaan masyarakat 1.251 unit, dan 286 desa vokasi, kewirausahaan 321 desa,penguatan manajemen 210 desa, serta fasilitasi pendidikan tinggi. kebijakan pendidikan vokasi dengan memperbanyak SMK dengan target 70 persen jumlah SMK dan 30 % SMA pada 2013, sangat memberikan dampak positif dalam upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Lulusan SMK sudah pasti memiliki ketrampilan sesuai kebutuhan pasar kerja, sehingga setelah lulus SMK, jika tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mereka bis alangsung bekerja dengan gaji yang cukup lumayan.
Belum lagi apabila mereka yang sudah bekerja itu kemudian kreatif dan invatif mampu mengembangkan usaha mandiri, sehingga akan semakin terbuka lapangan kerja baru yang banyak menyerap tenaga kerja. Dengan begitu, secara bertahap dapat mengurangi pengangguran. Banyaknya peluang lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja, akan mengurangi kemiskinan,” kata Bibit. –hk55

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *