Bangsa Sebuah Konsep Dinamis

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka!”

Tri Widodo
Tri Widodo

JO, Wonogiri – Seminar Regional Sehari “Gerakan Radikal Kiri dan Komunisme Gaya Baru”  yang digelar di RM. Saraswati – Brumbung Wonogiri. Kamis (27/2/2014), pemateri Tri Widodo, Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta, menjelaskan tentang sejarah komunisme Indonesia.

Menurutnya, menjadi bangsa adalah sebuah konsep dinamis. Indonesia hari ini adalah Indonesia yang sama dengan apa yang dinyatakan sebagai bangsa pada 28 Oktober 1928, maupun sebagai negara berdaulat yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Tetapi karena dinamisme itu pula konsep berbangsa dan bernegara mengalami perkembangan.

“Di tengah gelombang perubahan zaman, dan karena tuntutan dinamika internal sendiri, akan selalu relevan merumuskan kembali apa makna menjadi bangsa Indonesia. Perlu menelaah ulang hakikat bangsa dan negara,” papar Tri Widodo.

Dalam proses tersebut diperlukan peneguhan kembali ikatan batin dan komitmen semua komponen bangsa terhadap cita-cita nasional, kalau perlu dengan koreksi terhadap yang lama, dengan penajaman, dan penambahan, dengan semangat pembaharuan terus menerus.

“Dengan menoleh ke belakang,  akan menemukan mutiara berharga yang akan menjadi modal besar perjalanan ke depan. Dengan visi menerawang ke depan, berusaha mengantisipasi masa yang belum tiba, dengan jiwa besar dan optimisme yang akan menguatkan kita dalam mengarungi gelombang perubahan,” tambahnya.

Mengingat perubahan adalah keniscayaan (sunatullah), sesuatu yang pasti terjadi, maka kita harus menyadari sepenuhnya akan arti sebuah perubahan dan bagaimana kita mempersiapkan diri dalam menghadapinya.
Dalam Islam, sejumlah agenda baru juga diperlukan supaya agama “sesuai” dengan perubahan-perubahan, yaitu supaya unsur muamalahnya tidak ketinggalan zaman.

Agenda baru itu dapat menjadi lahan bagi ijtihad.Pendekatan lama yang sifatnya individual tetap diperlukan karena individulah yang pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan.Namun diperlukan perluasan-perluasan supaya muamalah Islam lebih efektif.

Perluasan itu berupa enam macam kesadaran, yaitu (1) kesadaran adanya perubahan, (2) kesadaran kolektif, (3) kesadaran sejarah, (4) kesadaran adanya fakta sosial, (5) kesadaran adanya masyarakat abstrak, dan (6) kesadaran perlunya objektivikasi.

Kesadaran menjadi sangat penting, karena setiap keberhasilan membutuhkan lima hal, yaitu (1) keyakinan (faith), (2) ketekunan (diligence), (3) kesadaran (mindfulness), (4) konsentrasi (consentration), dan (5) kehidupan yang terang (insight).Guna menanamkan adanya kesadaran inilah, pentingnya memahami sejarah, karena sejarah menurut Allan Nevis, seorang sejarawan Barat mengatakan“History is a bridge the past and the present, and connecting in to the future.

”Sejarah sebagai jembatan penghubung masa lalu dengan masa sekarang dan menghubungkan ke masa depan. Kebijakan pada masa sekarang akan dituai oleh generasi yang akan datang,” kilah Tri. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.