Investasi Kota Solo Tertinggi

Nasabah Bank BNI saat melakukan transaksi
Nasabah Bank BNI saat melakukan transaksi

JO, Solo – Bulan Januari 2014 kinerja perbankan di wilayah eks Karesidenan Surakarta semakin meningkat, terlihat dari pertumbuhan aset (17,48% yoy), kredit/pembiayaan (22,34% yoy), dan Dana Pihak Ketiga (13,00% yoy)  secara umum.

Menurut perkembangan data perbankan terkini, kegiatan investasi yang menggunakan dana perbankan cukup gencar dilakukan di Kota Surakarta. Hingga saat ini, aset perbankan masih terkonsentrasi di Kota Surakarta dengan pangsa 73,26%, meskipun Kabupaten Karanganyar memiliki perkembangan aset perbankan yang relatif lebih tinggi dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu dengan pertumbuhan sebesar 18,84% (yoy).

Dari sisi kepemilikannya, perbankan milik pemerintah secara umum memiliki kinerja yang relatif lebih tinggi dibandingkan perbankan swasta, dilihat dari pangsa aset dan pertumbuhanbaik aset, kredit, maupun DPK secara yoy.

Intermediasi perbankan kepada kelompok debitur UMKM meningkat dibandingkan bulan Desember 2013. Jumlah debitur UMKM penerima kredit sebanyak 518.034 debitur (meningkat 27,62% yoy) dengan total kredit sebesar Rp18,2 triliun atau dengan share sebesar 38,73% terhadap total kredit sebesar Rp46,91 triliun.

“Sementara, outstanding KUR pada Januari 2014 mencapai Rp1,30 triliun atau tumbuh 19,65% (yoy) yang direalisasikan kepada 115.768 debitur.
Tercatat pertumbuhan kredit tertinggi masih berasal dari penyaluran kredit investasi yaitu sebesar 41,78% (yoy),” terang Tigor Silalahi
Asisten Direktur, KBI Solo.

Terutama disalurkan untuk industri pengolahan dengan share sebesar ±38%, diikuti sektor perdagangan besar dan eceran (22%) dan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum (13%). Kota Surakarta masih memiliki daya tarik bagi investor untuk melakukan proyek-proyek investasinya. Hal ini terlihat dari perkembangan yang cukup signifikan pada penyaluran kredit investasi dengan lokasi proyek di Kota Surakarta, dimana pertumbuhan kredit investasi industri pengolahan mencapai 120,97% dibandingkan Januari 2013, atau mencapai Rp806,97 miliar, pertumbuhan kredit investasi penyediaan akomodasi dan makan minumsebesar 77,27% (yoy), serta pertumbuhan kredit investasi perdagangan besar dan eceran sebesar 43,84% (yoy).

Selain itu, Kota Surakarta juga masih menempati pangsa kredit investasi tertinggi (31%) dibandingkan dengan Kabupaten lainnya, disusul oleh Kabupaten Karanganyar dengan pangsa sebesar 17%.
Sementara itu, penyaluran kredit modal kerja yang memiliki pangsa tertinggit erhadap total kredit, yaitu sebesar 56,13%, masih didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran (share 45%) dan sektor industri pengolahan (share 37%).

Dalam penyaluran KMK di sektor perdagangan besar dan eceran, Kota Surakarta memiliki pangsa terbesar (±28%), namun pertumbuhan tertinggi terdapat di Kabupaten Sragen (51,92% yoy). Selanjutnya, penyaluran KMK di sektor industri pengolahan terutama terdapat di Kabupaten Karanganyar (share 31%), tetapi pertumbuhan tertinggi di Kabupaten Sukoharjo (31,29% yoy).

DPK yang dihimpun oleh bank umum & BPR pada bulan Januari 2014 sebagian besar masih berupa tabungan dengan pangsa mencapai 53,21%, akan tetapi pertumbuhan tertinggi masih terdapat pada deposito yaitu 23,59% (yoy).  Peningkatan DPK terutama pada deposito tersebut terkait dengan suku bunga tertimbang Januari 2014 yang meningkat hingga mencapai 6,55%, dimana pada bulan yang sama tahun sebelumnya hanya sekitar5,51%. Selanjutnya, walaupun Kota Surakarta tercatat memiliki pangsa DPK terbesar (55,33%), pertumbuhan DPK tertinggi bulanJanuari 2014 terdapat di Kabupaten Boyolali yang tumbuh 18,74% (yoy) diikuti Kabupaten Sragen (16,03% yoy).

Pencapaian Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan secara keseluruhan di wilayah eks Karesidenan Surakarta pada Januari 2014 mencapai 117,70%, yang berarti bahwa seluruh simpanan masyarakat di bank telah disalurkan dalam bentuk kredit kepada debitur yang membutuhkan, bahkan bank juga menggunakan modal sendiri dan dana antar kantornya untuk mendukung penyaluran kredit.

Sebenarnya, LDR yang terlalu tinggi bukanlah hal yang bagus karena dana yang disalurkan untuk kredit terlalu melebihi DPK yang dimiliki bank. Namun, hal ini masih tertutupi dengan rasio Non Performing Loan (NPL) Gross yang cukup rendah, yaitu sebesar 1,98% untuk bank umum, angka tersebut membaik dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2,23%.

Hal ini berarti bahwa bank masih cukup bagus mengelola risiko kreditnya sehingga mendukung dalam mengelola likuiditasnya.
Dari sisi kreditkonsumtif, pertumbuhan KPR bank umum pada Januari 2014 hanya sebesar 13,58% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2013 yang mencapai13,87% (yoy).

Perlambatan ini masih bersumber pada menurunnya kredit kepemilikan rumah tinggal tipe di atas 70 karena terpengaruh adanya kebijakan LTV oleh Bank Indonesia. Sedangkan KKB justru mengalami penurunan sebesar Rp5,85 miliar dibandingkan KKB pada bulan Desember 2013, dan pertumbuhan sebesar 17,45% (yoy), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada bulan Desember 2013 yang mencapai 20,06% (yoy). Kredit KKB bank umum juga masih didominasi oleh kredit kepemilikan mobil roda empat yang memiliki porsi 89,67% dari keseluruhan kredit kendaraan bermotor. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.