Indikator Perbankan Eks Karisedanan Surakarta Positif

JO, Solo – Secara umum, kinerja perbankan di wilayah eks Karesidenan Surakarta pada bulan April 2014 mengalami peningkatan. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan beberapa bagian indikator utama perbankan, meliputi aset (16,17%), kredit pembiayaan (19,66%), dan Dana Pihak Ketiga (DPK) (18,81 %). Untuk aset, semua indikator di seluruh daerah tumbuh positif, kecuali untuk sektor tertentu seperti pertambangan, listrik, gas dan air, transportasi & komunikasi, administrasi pemerintahan & sosial, dan sektor yang belum jelas batasannya mengalami pertumbuhan negatif.

“Masyarakat masih mementingkan keperluan lain dibandingkan kegiatan menabung. Hal ini tercermin dari relatif rendahnya pertumbuhan DPK dibandingkan kredit dengan perbandingan 18,81% : 19,66%. Dari sisi penggunaan, kredit investasi tumbuh lebih tinggi (38,28%) dibandingkan kredit modal kerja dan konsumsi,” ujar Ismet Inono Deputi Direktur, Kepala Perwakilan Bank Indonesia.
Sedangkan dari sisi lokasi pertumbuhan kredit investasi tertinggi terjadi di Sukoharjo sebesar 184,03% (mtm) untuk sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.
Jumlah debitur UMKM penerima kredit sebanyak 529.308 debitur atau meningkat
sebesar 29,92% (yoy) dengan total kredit sebesar Rp19,19 triliun dan share terhadap total kredit sebesar 39,85%.

Sementara, khusus untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) outstanding pada bulan April 2014 mencapai Rp1,36 triliun atau tumbuh 18,77% (yoy)/4,90% (ytd) yang direalisasikan kepada 120.565 debitur. Jumlah rekening debitur KUR terus mengalami peningkatan selama satu tahun terakhir dengan jumlah rekening tertinggi pada bulan April 2014 ini.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat tentang KUR mulai
membaik dan perbankan memberikan dukungannya terhadap peningkatan KUR di
masyarakat. Pada bulan ini, kredit investasi masih tercatat memiliki pertumbuhan
tertinggi dibandingkan dengan kredit modal kerja maupun kredit konsumsi, yaitu sebesar 38,26% (yoy).

Namun demikian, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan kredit
investasi pada bulan-bulan sebelumnya di tahun 2014. Dari total kredit investasi sebesar Rp7,66 triliun, sebanyak :1:37% disalurkan untuk industri pengolahan, sedangkan sebesar:1:21% untuk sektor perdagangan besar dan eceran, dan :1:15% untuk sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Kredit investasi untuk sektor penyediaan akomodasi dan makan minum memiliki pertumbuhan tahunan tertinggi (55,57%). – tyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *