Jalin Asa Melalui Kearifan Lokal Yang Tersisa

Fenomena Paska Pemilu, Menjalin Persatuan dan Kesatuan Anak Bangsa

Prof Darsono
Prof Darsono

JO, Solo – Bagaimana kita bisa memastikan kalau kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014, 9 Juli lalu merupakan kemenangan bangsa dan rakyat Indonesia, kalau pada masa kampanye masing-masing kelompok banyak mencederai dan dicederai, seolah kita berperang dengan kesaktian kita masing-masing.

“Berbagai jurus, ilmu dan berbagai taktik, seolah telah terjadi peperangan diantara kita, golongan putih melawan golongan hitam, dan anehnya semua mengaku golongan putih,” papar Prof. Dr. Dharsono Guru Besar Bidang Ilmu Estetika ISI Surakarta. Saat Seminar Sehari Wawasan Kebangsaan untuk Mempererat Kerukunan dan Persatuan Anak Bangsa Pasca Pemilu 2014, diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK) di Graha Soloraya Bakorwil Surakarta. Jumat (25/7/2014).

Digambarkan Ketua Lembaga Pengkajian dan Konservasi Budaya Nusantara ini, bahwa kebenaran yang diajarkan lewat cerita Ramayana adalah ajaran yang berintikan tentang pertaruhan nilai kebenaran yakni antara kebenaran individu ( Dasamuka), kebenaran kultur (Kumbokarna) dan kebenaran universal (Wibisana). Pertaruhan antar nilai kebenaran menghasilkan kehancuran kerajaan Alengka.

“Renungan filsafat cerita tersebut, maka ajaran budaya Jawa menyarankan, hendaknya jangan berebut kebenaran tetapi berebutlah kesalahan, yang merupakan inti dari makna terhadap ajaran saling minta maaf (halal bi halal),” tambah Prof. Dharsono.

Maka menurutnya, dengan kearifan lokal yang tersisa, masih mampu menjalin persatuan dan kesatuan anak bangsa yang saling terciderai (ketika masa kampanye berlangsung), akan kembali sebagai manusia Jawa (Indonesia) yang penuh kearifan dan kasih.

“Sesuai dengan ajaran budaya yang pernah singgah didalam nuraninya, maka kemenangan dalam pilpres 2014 adalah kemenangan kita semua, kemenangan bangsa Indonesia,” pungkas Dosen tamu Pasca ISI Padang Panjang, Pasca Trisakti dan Pasca Unnes Semarang.

Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK), menghadirkan empat nara sumber yang berkompeten dibidangnya masing-masing diantaranya Pdt. Agus Widjianto Gembala Sidang Gereja Babptis Idonesia Sion Grogol Sukoharjo, H. Sugeng Riyanto Ketua DPD PKS Kota Surakarta, Prof. Dr. Dharsono Guru Besar Bidang Ilmu Estetika ISI Surakarta, KH. M. Dian Nafi’ Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *