Ritual Hajad Dalem Ngisis Ringgit

Kiai Jimat dan peninggalan PB IV

3-KRT Sihhantodipuro ketika menjemur wayang Kiai Jimat berupa tokoh Arjuna, di Sasana Handrawina, Selasa (23/9/2014). (Foto: Zaenal Huda)
KRT Sihhantodipuro ketika menjemur wayang Kiai Jimat berupa tokoh Arjuna, di Sasana Handrawina, Selasa (23/9/2014). (Foto: Zaenal Huda)

JO, Solo – Seperti yang terjadi tiap tiga puluh lima hari sekali atau bertepatan dengan hari Anggara Kasih, yakni tiap Selasa Kliwon. Sejumlah abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta menggelar acara ngisis ringgit atau menjemur wayang.

Kata menjemur bukan berarti dijemur di bawah terik matahari layaknya menjemur pakaian. Namun hanya sebatas diangin-anginkan, dan dibersihkan dari jamur serta debu yang melekat pada ratusan wayang purwa yang usianya di atas 250 tahun. Hal itu berdasar pada tulisan di dasar wayang atau lemahan yang rata-rata bertuliskan tahun 1700-an.

Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta ketika mengeluarkan wayang Kiai Jimat dari dalam kotak, untuk selanjutnya diisis di Sasana Handrawina, Selasa (23/9/2014). (Foto: Zaenal Huda)
Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta ketika mengeluarkan wayang Kiai Jimat dari dalam kotak, untuk selanjutnya diisis di Sasana Handrawina, Selasa (23/9/2014). (Foto: Zaenal Huda)

Seorang abdi dalem Gedong Lembisana Keraton Kasunana Surakarta, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sihhantodipura (58) menjelaskan, ratusan wayang yang kini tersimpan di dalam ruangan tersebut merupakan peninggalan Sinuhun Paku Buwana (PB) IV tatkala masih bertahta di Keraton Kartosuro.

“Ketika pecah perang Kartasura dan keraton pindah ke Desa Sala, maka ratusan wayang yang berjumlah 425 wayang yang belum sempurna itu, akhirnya disempurnakan oleh PB X. Jumlah tersebut dipisahkan menjadi 15 kotak wayang, masing-masing kotak memiliki nama sendiri,” jelas Sihhanto.

Dipilihnya hari Anggara Kasih yang jatuh pada hari Selasa Kliwon lanjutnya, hal itu telah menjadi tradisi turun temurun yang sejak jaman dahulu dilestarikan. Selain itu, pihak keraton juga akan memilih urutan wayang dari yang usianya paling tua dahulu. “Kebetulan Anggara Kasih kali ini jatuh pada Wuku Besar. Sehingga wayang yang dijemur kali ini, termasuk wayang yang berusia sekitar 250 tahun yang diberi nama Kiai Jimat,” tuturnya.

Fungsi dijemur ini kata dia, pertama untuk menghilangkan lembab, kedua membersihkan jamur-jamur yang melekat di wayang. Yang ketiga, mereparasi wayang-wayang yang rusak. Sehingga wayang yang berusai ratusan tahun itu akan utuh kembali,” jelasnya.

Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta ketika mengeluarkan wayang Kiai Jimat dari dalam kotak, untuk selanjutnya diisis di Sasana Handrawina, Selasa (23/9/2014). (Foto: Zaenal Huda)
Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta ketika mengeluarkan wayang Kiai Jimat dari dalam kotak, untuk selanjutnya diisis di Sasana Handrawina, Selasa (23/9/2014). (Foto: Zaenal Huda)

Dalam perjalanan ngisis ringgit ini, kotak wayang harus diangkut sekitar delapan orang abdi dalem. Dari Gedong Lembisana diusung seikitar delapan orang abdi dalem menuju SasanaHandrawina. Sesampainya di sana, sejumlah abdi dalem yang pangkatnya lebih tinggi telah membentangkan kain putih memakai tali yang diikatkan dengan saka guru Sasana Handrawina yang berjumlah empat batang.

“Lama proses penjemuran itu sekitar 2 jam. Dari jam 10 pagi sampai pukul 12.00 usai duhur. Alhamdulilah selama saya melakukan hajad dalem ngisis ringgit ini, belum ada wayang yang hilang. Kalau rusak, biasanya karena benang pengikat wayang yang putus karena usai,” kata Sihhanto.

Asap dupa yang mengepul di ruang Sasana Handrawina, semakin menandai betapa suasana magis akan selalu mewarnai ritual tiap tiga puluh lima hari itu. Sementara, ratusan wayang pusaka keraton kini tetap menjadi saksi bisu, bahwa jejak masa silam masih akan selalu dikenang oleh para abdi dalem keraton khususnya dan masyarakat pelestari budaya pada umumnya. –hud

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *