Seni Rupa Tradisi, Diambang Kemusnahan

Para pembicara dalam Sarasehan Seni Tradisi, yang diadakan di Galeri Seni Rupa TBS, Senin (29/9). Dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Dharsono,  Bambang Suwarno S.Kar, M.Hum dan Drs. Soegeng Toekio. (Foto: Zaenal Huda)
Para pembicara dalam Sarasehan Seni Tradisi, yang diadakan di Galeri Seni Rupa TBS, Senin (29/9). Dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Dharsono, Bambang Suwarno S.Kar, M.Hum dan Drs. Soegeng Toekio. (Foto: Zaenal Huda)

JO, Solo – Seni rupa tradisi tiba-tiba menjadi pembicaraan banyak pihak. Ketika era globalisasi dan modernisme menjadi raksasa yang menjajah di semua lini. Maka tak pelak lagi, ada kekhawatiran para pelaku seni tradisi bahwa kemusnahan seni tersebut sudah diambang pintu.

“Bahkan celakanya lagi, ada kesenjangan antara seni rupa tradisi dengan modern. Padahal, seni tradisi kita adalah budaya lokal yang natural. Namun kenyataanya belum diangkat menjadi budaya teks keilmuan layaknya seni modern,” tandas seorang dosen seni rupa asal ISI Surakarta Soegeng Toekio dalam “Sarasehan Seni Rupa Tradisi” di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Surakarta (TBS), Senin (29/9).

Menurut Soegeng, dalam budaya kita seni tradisi sebenarnya bukanlah milik pribadi. Namun milik khalayak, sehingga setiap orang bisa mempelajari. Namun di negeri barat, baik buruk sebuah kesenian, bukanlah milik masyarakat namun tergantung pada individu tersebut. Oleh karena itu, seni tradisi di negeri ini, sangatlah terbuka untuk berkembang.

“Pertanyaannya, kenapa justru kesenian yang sebenarnya sangat terbuka dan bisa menjadi milik publik, justru mandeg dan tidak bisa berkembang? Padahal ada yang menjadi nilai lebih seni tradisi lagi adalah, adanya norma-norma dalam seni tradisi itu meski kita sering lalai memakainya,” imbuh dia.

Padahal di barat, Soegeng mengatakan, seni rupa lebih pada by concept, menitikberatkan pada nilai jual. Sedang di Indonesia, norma-norma masih menjadi acuan pokok yang selama ini masih dipakai dalam pembuatan karya-karya seni rupa. Seperti lukisan, kriya, batik, patung dan lain sebagainya.

Pembicara lain, Prof. Dr. Dharsono S.Kar mengatakan, hampir semua seni tradisi kita adalah anonim. Ada semacam keyakinan bahwa keindahan itu milik Tuhan. Maka ketika seorang empu, perupa atau pelaku kesenian membeberkan karyanya, maka segala bentuk keindahan itu milik dan untuk Tuhan.

“Bahkan kebanyakan seni tradisi kita memiliki muatan filsafat atau filsifat mistika, sebuah karya yang selalu disandarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun sayangnya, di era sekarang ini muatan itu mulai dihilangkan. Seni kita telah menjadi komoditas layak jual meski akhirnya mengalami kemandekan,” pungkasnya. – uda

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *