Pertemuan ‘Owi-Owo’ Jadi Anugerah Bangsa

Presiden dan Wakil Presiden RI
Presiden dan Wakil Presiden RI

JO, Solo  – Pertemuan singkat namun akrab dan hangat antara Presiden terpilih Joko Widodo dan Prabowo Subianto menebar kesejukan sosial dan mencairkan kebekuan politik kedua kubu yakni Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Tentu saja, tidak semua orang ‘happy’, ada kelompok-kelompok tertentu yang iri hati dan dengki melihat ‘hangatnya’ pertemuan Jokowi-Prabowo ini. Ada apa?

Sudah bukan rahasia lagi, sejumlah kelompok kepentingan dan pressure groups telah menarik keuntungan dan manfaat dari persaingan maupun perseteruan antara kubu Jokowi dan Prabowo. Para elite politik di luar PDIP dan Gerindra jelas meraih keuntungan dari rivalitas antara Jokowi dan Prabowo yang seru itu.

Bahkan berbagai kelompok kepentingan bisnis dan politik memanfaatkan ‘rivalitas dan perseteruan’ kedua kubu itu (KMP vs KIH) untuk memperoleh keuntungan ekonomi-politik. Itulah buah dari dinamika politik Pilpres yang ada. Kini ada tesa (Jokowi), dan anti-tesa (Prabowo), lalu sintesa (Jokowi-Prabowo), yang seyogianya kedua kekuatan ini bersatu di bawah bendera Trisakti Presiden Soekarno.

Pengamat dan Pemerhati Politik Solo Raya, Rachman DJ mengatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi indikasi positif disegala lini dan sektor mulai dari ekonomi, bisnis bahkan politik di tanah air.

“Yang jelas ini menjadi anugerah bangsa ini, bersatunya dua kubu Koalisi Merah Putih Indonesia Hebat, menjadi benar-benar hebat, dan semakin siap menghadapi pasar bebas Asean (MEA) Januari 2015 mendatang,” ujar Rachman, optimis.

Mantan Sekjen ICMI dan Menkop UKM Adi Sasono menyebut Jokowi dan Prabowo adalah ‘adik-adiknya’ yang berideologi dan bercita-rasa ‘Nasionalisme Ekonomi dan Negara Keadilan’ berdasarkan Ekonomi Konstitusi, bukan Korporatisme, apalagi Mafioso Ekonomi.

“Kalau Jokowi-Prabowo bersatu, itu garis Soekarno yang kuat dan tangguh, garis ideologi Founding Fathers. Dan kita tahulah, ada pihak-pihak tertentu yang tidak happy, tidak suka dengan soliditas Jokowi-Prabowo ini karena ‘kepentingan bercokol’-nya bisa tergusur,” kata Adi Sasono.

Jokowi bersepakat dengan pernyataan Prabowo Subianto soal cita-cita bangsa. Hal itu disampaikan usai keduanya bertemu di rumah orangtua Prabowo, Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (17/10/2014) siang.

“Tadi disampaikan, cita-cita kita sama, yakni mengenai Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” kata Jokowi yang di-iyakan Prabowo. “Persis seperti itulah yang kita lakukan ke depan. Semuanya adalah demi perbaikan bangsa dan negara ini,” lanjut Jokowi.

Prabowo yang berada di sebelah Jokowi selama wawancara mengangguk-angguk. Sesekali, Prabowo tersenyum ke arah Jokowi. Dengan cara demikian, cair sudah kebekuan politik Jokowi dan Prabowo, keduanya berkomitmen membawa bangsa kita menuju cita-cita Negara Kesejahteraan dan Nasionalisme Ekonomi sesuai Proklamasi 1945 dan UUD 45 demi mengangkat harkat dan martabat bangsa kita di mata dunia.

Implikasi ekonomi-politiknya mungkin bisa jauh lebih tak terduga daripada tulisan singkat ini, terpulang kepada kedua tokoh tersebut dalam berkomitmen dan berbakti kepada bangsa dan negara. Semoga. [berbagai sumber]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *