Dua Keris Sepanjang 2 Meter Lebih

H. Ronggajati Sugiyatno, “Akan saya sumbangkan untuk koleksi museum keris nanti…”

Pak No alias Ronggajati, ketika menunjukkan dua buah keris buatannya yakni Keris Tilam Sari (kiri) dan Karis Parung Sari (kanan). (Foto: Zaenal Huda)
Pak No alias Ronggajati, ketika menunjukkan dua buah keris buatannya yakni Keris Tilam Sari (kiri) dan Karis Parung Sari (kanan). (Foto: Zaenal Huda)

JO, Solo – Banyak orang seperti teman, kerabat, atau para koleganya kerap memanggilnya Pak No atau dengan nama asli H. Sugiyatno (63). Namun sesungguhnya ketika Sawarga Sinuhun Paku Buwana (PB) XII masih bertahta, lantaran kedekatannya dengan Raja Surakarta itu, sempat diberi gelar kekancingan dalem, namun entah apa ia menolaknya. Hingga akhirnya Sinuhun PB XII memberinya nama Ronggajati Sugiyatno.
“Persisnya tanggal 8 Agustus 1982, saat itu saya jadi imam salat di Masjid Pengging dan Sinuhun PB XII jadi makmumnya. Usai salat itulah, saya diberi nama Ronggajati,” tuturnya kepada Jateng Online belum lama ini.

Pak No begitu biasa dipanggil adalah sosok yang kesehariannya bergelut dengan dunia Jawa. Bagaimana tidak, mulai dari beskap, blangkon, kain lurik, keris, selop dan sebagainya yang berhubungan dengan ageman jawi jangkep menjadi mata pencahariannya sebagai seorang pedagang.

Kini, lelaki itu melakukan sebuah terobosan yang bisa dikatakan spektakuler. Tidak ada kaitannya dengan dunia bisnis yang digelutinya. Namun justru dia punya niat menyumbangkan karyanya kepada museum keris di Solo yang kini juga dalam proses pembangunan.

“Saya membuat karya berupa dua buah keris ukuran raksasa. Keris itu masing-masing bernama Keris Parung Sari luk tiga belas seberat 35 kilogram panjang 224 meter dan Keris Tilam Sari seberat 35 kilogram panjang, panjang 235 meter,” jelasnya sambil menujukkan karya tersebut.

Untuk pamornya lanjut dia, Keris Parung Sari memiliki pamor Blarak Mirit atau Klabang Sayuta . Sedangkan Keris Tilam Sari yang ujudnya lurus panjang berpamor Ronduru. Kedua keris berbahan pasir besi Sungai Brantas yang bahannya seberat 280 ribu kilogram. “Namun setelah melalui pemrosesan, hanya tinggal sekitar 30 kilogram untuk sebuah keris. Khususnya untuk pamornya masing-masing keris membutuhkan bahan sekitar 18 ribu kilogram.”

Keris-2Disinggung soal pemrosesan, Pak No menjawab semua proses pembuatan kedua keris dilakukan di Bluto Sumenep Madura. Melibatkan enam pengrajin pande besi dengan proses pembuatan selama delapan bulan. “Kalau soal laku spiritual jelas saya harus melaluinya, yakni dengan puasa selama tujuh hari,” imbuhnya.

Kendati demikian, selama proses pembuatan kedua keris itu ternyata sempat menemui kegagalan, hingga empat kali. Mulai dari penempaan yang tidak sempurna, hingga putus serta pamor yang tidak jadi. Namun akhirnya karya spektakuler itu akhirnya terselesaikan.

“Kalau total biaya pembuatan dua keris ukuran raksasa itu mencapai Rp 92 juta. Pembuatan keris untuk koleksi sendiri. Namun kalau nanti Museum Keris Solo selesai dibangun, saya akan menyerahkannya dengan sukarela sebagai koleksi di sana,” katanya.

Di lain pihak, Pak No ternyata juga masuk dalam tim kurator museum keris tersebut. Saat ini, dirinya tengah menyeleksi sekitar 102 buah keris, 50 keris diantaranya milik mantan Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi. – uda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *