DPR: Dampak Serius Kenaikan BBM

JO – Pimpinan Komisi VI DPR RI sangat menyesalkan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Kenaikan ini dinilai tidak tepat di saat harga minyak dunia sedang turun dan pertumbuhan ekonomi sedang melambat. Dampak susulannya, inflasi ikut meningkat tajam, sehingga mengoreksi angka pertumbuhan.

Demikian penegasan Pimpinan Komisi VI DPR RI dalam jumpa persnya di ruang rapat Komisi VI, Jum’at (21/11/2014). Hadir dalam jumpa pers tersebut, Ketua Komisi VI DPR Achmad Hafisz Tohir (F-PAN) dan tiga wakilnya masing-masing Azam Azman (F-PD), Heri Gunawan (F-Gerindra), dan Dodi Alex Noerdin (F-PG). Kebijakan ini, kata Hafisz, akan menaikkan angka kemiskinan sesuai data BPS sebesar 29 juta rakyat miskin dan berpotensi bertambah menjadi 40 juta dari 70 juta rakyat rentan miskin.

Hal yang paling disorot oleh Pimpinan Komisi VI, dampaknya terhadap dunia industri. Dalam rilisnya disebutkan, kenaikan harga BBM menyebabkan harga bahan baku industri dan distribusinya mengalami kenaikan.

“Sektor perindustrian diperkirakan akan memperoleh tekanan pada biaya produksi dan operasional, termasuk kenaikan gaji. Dampak paling besar pula dialami industri kecil yang selama ini masih menggunakan BBM bersubsidi,” papar Heri Gunawan.

Dalam rilis yang dibacakan bergantian oleh Pimpinan Komisi VI, disebutkan bahwa pendapatan para pelaku UKM terus merosot. Pelaku UKM juga akan mengurangi pekerjanya untuk mengurangi beban operasional produksinya.

“Tercatat pada tahun 2013 jumlah UKM di Indonesia sebanyak 54 juta dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebesar 101 juta. Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi maka jumlah tenaga kerja tersebut terancam akan menjadi penganggur,” kata Dodi Alex Noerdin.

Sedangkan di sektor perdagangan, dampak yang ditimbulkan adalah menurunnya volume perdagangan dalam negeri, lantaran Sembilan bahan kebutuhan pokok ikut naik. – tml

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *