Banjarnegara Siaga Bencana

JO, Banjarnegara –  Langkah kesiapsiagaan ini diperlukan karena sekarang ini tengah menghadapi puncak musim penghujan. Kamis malam, hujan yang turun merata di wilayah Banjarnegara menyebabkan terjadinya longsor di sejumlah titik. Demikian disampaikan Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si. di kantornya.

“Sebagai salah satu upaya kesiapsiagaan, Camat diinstruksikan untuk tetap stand by di rumah dinasnya masing-masing. Kepada Camat dan Kades juga diminta melakukan sosialisasi kepada warganya agar dalam menghadapi musim penghujan ini jika hujan turun deras, kaum lelaki diminta untuk tetap terjaga. Biar kaum perempuan dan anak-anak yang tidur” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan jajarannya, lanjutnya, diminta bekerja ekstra keras dan siap siaga 24 jam memantau wilayah rawan longsor. Semua relawan dan jejaringnya, lanjutnya, disiagakan menghadapi kemungkinan peristiwa darurat. Posko-posko bencana, lanjutnya, diaktifkan terus jangan sampai kosong.

“Alat komunikasi BPBD yang terhubung dengan posko kecamatan, nomor kontak telepon dan handhphone personil BPBD, harus disiagakan sepanjang malam agar kabar yang masuk kapanpun terpantau dengan cepat. Sehingga bencana cepat tertangani. Upaya maksimal kita, jangan sampai penanganan bencana terlambat sehingga menimbulkan kerugian materi yang besar. Apalagi sampai menimbulkan korban manusia” katanya.

Kepala BPBD Catur Subandrio, S. Sos, mengatakan hujan turun deras pada malam harinya menyebabkan terjadinya bencana longsor di sejumlah wilayah. Kejadian terbanyak, lanjutnya, ada di wilayah Banjarnegara utara. Di Kecamatan Banjarmangu, lanjutnya, ada tiga tempat. Longsor, lanjutnya, terjadi di desa Sijeruk, desa Prendengan, dan desa Paseh. Longsor di desa Sijeruk, lanjutnya, mengancam perumahan warga. Sedangkan yang di desa Prendengan, lanjutnya, menyebabkan jembatan yang menghubungkan antar desa putus.

“Longsor di desa Paseh menutup jalan desa. Namun dengan upaya keras BPBD dan relawan, Posko kesiapsiagaan Bencana Kecamatan, dan warga pada pukul 10 malam bisa diatasi. Sehingga jalan bisa dilalui kembali” katanya.

Pembangunan jembatan darurat, lanjutnya, juga dilakukan menghadapi putusnya jembatan Prendengan. Jembatan darurat, lanjutnya, pada malam itu juga segera dibangun dengan menggunakan bantalan batang pohon dan pada pagi harinya sudah dapat dilewati kendaraan dan anak-anak sekolah.

“Upaya segera ini kami tempuh, agar lalu lintas perekonomian warga segera pulih. Sebab di wilayah tersebut perekonomian masyarakat bertumpu pada hasil pertanian salak. Apalagi sekarang ini tengah musim panen. Selain itu, prioritas kami adalah agar anak-anak dapat bersekolah” katanya.

Di Kecamatan Pandanarum, lanjutnya, longsor terjadi di desa Beji. Kecamatan Karangkobar, lanjutnya, longsor di desa Pagerpelah yang mengancam rumah warga dan di desa Slatri yang menutup akses jalan. Di Kecamatan Wanayasa, lanjutnya, juga terjadi longsor. Di Kecamatan Punggelan, lanjutnya, longsor terjadi di desa Bondolharjo. Di Kecamatan Sigaluh, lanjutnya, longsor terjadi di desa Bojanegara menyebabkan sejumlah rumah terancam longsoran. Dan di desa Clapar, Madukara, lanjutnya, jalan longsor.

“BPBD terus siap siaga dengan segala sumber daya yang ada. Dengan keterbatasan personel dan peralatan, BPBD banyak mengandalakan bantuan kesiapsiagaan relawan dan juga partisipasi masyarakat. Mengharapkan seluruh masalah ditangani semua oleh BPBD adalah hal tidak mungkin. Karena itu kami sangat berharap peran warga dan swasta. Jika ada bencana terjadi namun kiranya skalanya bisa diatasi oleh warga setempat, seyogyanya segera diambil tindakan tanpa harus menunggu BPBD yang menangani. Namun kejadian bencana sebagai laporan tetap penting untuk disampaikan ke BPBD” katanya.

Dalam hal peralatan, lanjutnya, BPBD masih kekurangan alat penanganan agar keadaan tanggap darurat segera diatas. Sejumlah peralatan tersebut diantaranya, lanjutnya, adalah lampu sorot yang penting untuk menangani kejadian bencana di malam hari.

“Selain lampu adalah senso, alat berat minimal satu buah loader dan truck dam untuk pengangkut, dana untuk operasonal posko di kecamatan-kecamatan, dan cadangan dana darurat yang segera bisa dicairkan untuk mengatasi keadaan darurat” katanya.

Sementara itu, Kepala Kelompok Teknis Stasiun Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara Hariyanto mengingatkan bahwa potensi bencana longsor di Banjarnegara masih tinggi. Sebab puncak musim hujan, lanjutnya, terjadi pada bulan Desember 2014 – Januari 2015.

“Potensi longsor terbesar adalah pada wilayah yang memiliki kontur tanah dengan kemiringan 450 lebih. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya curah hujan yang ada di wilayah tersebut. Wilayah utara Banjarnegara menjadi daerah yang paling rawan karena kontur tanahnya yang berbukit-bukit dan terjal. Banyak perumahan warga berada pada kondisi tanah dengan kemiringan cukup rentan. Ditambah lagi, curah hujan di wilayah Banjarnegara utara berada di atas ambang batas normal 400 mm lebih” katanya.

Selain karena factor-faktor tersebut, lanjutnya, kondisi tanah dan tanaman di wilayah tersebut juga ikut berpengaruh pada kerawanan bencana longsor. – eko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *