Jihad dan Perlawanan Penindasan

JO, Wonogiri – Sebenarnya bukan agama Islamlah yang memiliki kebiasaan berperang di negri Arab. Sebelum agama Islam lahir, kebiasaan itu sudah berlaku pada bangsa arab. Tetapi biasanya perang itu dilakukan antar bangsa sesama mereka, suatu yang khusus dan menjadi bagian dari keadaan social, aturan-aturan, dan cara-cara yang berlaku pada waktu itu bersamaan dengan adat-istiadat, papar Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag (Direktur Amir Institute – Dosen Univet Sukoharjo)

“Jihad memiliki kedudukan penting dalam agama islam, karena perhatian orang-orang arab data dialihkan dari perang antarsuku menjadi perang di luar dunia Islam. Agama Islam melarang segala macam bentuk perang kecuali Jihad, yaitu perang yang dilakukan menurut petunjuk-petunjuk Allah,” jelasnya lebih lanjut.

Pengertian jihad secara istilah sangat luas, mulai dari mencari nafkah hingga berperang melawan kaum kuffar yang memerangi Islam dan kaum Muslim.

Dalam istilah syariat, jihad berarti mengerahkan seluruh daya kekuatan memerangi orang kafir dan para pemberontak. Menurut Ibnu Taimiyah, kata Amir Mahmud, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

“Makna jihad lebih luas cakupannya dari pada aktivitas perang itu sendiri. Jihad meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan,” pungkasnya.

Dialog Publik Lembaga Kholif@h “Mewaspadai Eksploitasi Gerakan Jihad: Antara Kewajiban Syar’i dan Kepentingan Politik”, diselenggarakan di RM. Saraswati Giriwono – Wonogiri, Juma’t (30/1/2015). – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *