Jihad Instrumen Gerakan Salafisme Radikalis

JO, Wonogiri – “Doktrin jihad lebih sering didominasi penggunaannya untuk ikhtiar amar ma’ruf nahyu munkar dengan kekuatan fisik yang mengekspresikan kekerasan,” papar Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag Direktur Amir Institute – Dosen Univet Sukoharjo.

Pada dialog publik Lembaga Kholif@h, Mewaspadai Eksploitasi Gerakkan Jihad, Antara Kewajiban Syar’i dan Kepentingan Politik, di RM. Saraswati Giriwono – Wonogiri, Juma’t 30 Januari 2015

Dalam konstelasi Indonesia, lanjut . Amir Mahmud, kata jihad lebih banyak digunakan oleh kalangan gerakan kelaskaran yang biasanya organisasi atau kelompok ini berada pada sayap gerakan salafi yang memperjuangkan pemurnian Islam.

Pandangan dunia kelompok salafi (tanpa bermaksud menyederhanakan perspektif dan latar belakangnya yang begitu kompleks dan sophisticated), disusun berlandaskan tradisi tajdid (pembaruan) dan islah (reformasi) yang biasanya disemangati oleh keinginan memurnikan ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, akibat banyaknya kontaminasi syirik, bid’ah, dan khurafat dalam praktek keberagamaan umat Islam dewasa .

Dalam banyak kasus doktrin jihad melahirkan perilaku ekstrim yang mengkonversi nalar salafi menjadi gerakan jihad (harakah al-jihad). Abdullah Saeed dalam Islamic Thought; An Introduction -terutama catatannya pada bagian militant extremist– mengklasifikasi rangkaian gerakan militan kaum muslimin pada abad ke-20 dan awal abad ke-21 dalam tiga model yakni, perjuangan pembebasan nasional dengan area lokal masing-masing negara, perjuangan internasioal atau trans-nasional (seperti perang Afghanistan oleh laskar Mujahidin sebagai respon pendudukan Soviet), Gerakan anti-Barat yang dilancarkan oleh ekstrimis militan semisal Usamah bin Laden.

“Genealogi ekstrimisme di dunia Islam dapat diidentifikasi pada gerakan kaum ekstrim radikal yang sering juga disebut dengan radikalisme, fundamentalisme, atau revivalisme, Islamisme, formalisme, fanatisme, dan istilah-istilah lain yang dialamatkan untuk bahasan sejenis ini dalam Islam,” terangnya.

C.F. Martin E Marty, seorang ahli sosiologi agama mencatat empat prinsip yang menandai fundamentalisme agama. Oppositionalism. Fundamentalisme adalah oposisionalisme atau paham perlawanan yang bersifat radikal terhadap ancaman yang dipandang dapat membahayakan eksistensi agama, seperti modernitas atau modernisme, sekularisme, dan tata nilai Barat pada umumnya.

Anti-Hermeneutic. Penolakan terhadap hermeneutika dan berbagai sikap kritis terhadap teks-teks keagamaan. Teks agama harus dipahami secara literal sebagaimana adanya, karena nalar dipandang tidak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks itu, Anti-Pluralism and Relativism.

Penolakan terhadap pluralisme dan relativisme yang dipandang sebagai hasil pemahaman yang salah terhadap teks-teks suci dan lepas dari kendali agama, A-Histories and A-Sociologies. Penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis yang dapat membawa manusia semakin jauh dari kebenaran doktrin literal agama. – tyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *