Pertahankan Kekuasaan Ala Jaka Tingkir

JO, Solo – Dialog Publik Lembaga Kholif@h, Mewaspadai Eksploitasi Gerakan Jihad, Antara Kewajiban Syar’i dan Kepentingan Politik, diselenggarakan di RM. Saraswati Giriwono – Wonogiri, Juma’t (30/1/2015).

Diselenggarakan dengan menghadirkan narasumber Dr. H. Amir Mahmud, M. Ag (Direktur Amir Institute Surakarta), H. Ahmad Hafidh, M. Ag (A’wan Syuriah PCNU Sukoharjo / Dosen IAIN Surakarta), Arif Wibowo M. Ag (Direktur Pusat Studi Peradaban Islam Surakarta). Dialog dimoderatori Awod Umar, SH (Koordinator Forum Diskusi “Mata Air” Kartopuran Surakarta).

Arif Wibowo, M.Ag (Direktur Pusat Studi Peradaban Islam) dalam paparannya mencermati pandangan Busyro Muqoddas dalam buku Hegemoni Rezim Intelijen, yang dengan jelas memaparkan bahwa “radikalisasi Islam di Indonesia” adalah produk intelijen untuk melakukan pembusukan musuh-musuh politik Orde Baru.

“Teknik pemecah belahan masyarakat untuk menciptakan situasi sosial yang rapuh agar kekuasaan rezim, dalam hal ini Soeharto, bisa dipertahankan. Caranya, menggunakan teknik Joko Tingkir,” ungkapnya.

Legenda sejarah, lanjut Arif, seorang tokoh yang menyumpal telinga kerbau, hingga kerbau mengamuk. Seolah-olah hanya dia yang bisa menjinakkan kerbau yang mengacau, padahal pelaku kekacauan itu tak lain buatannya sendiri.

Melaui teknik ini, sejarah bisa merekam sejumlah operasi intelejen Orde Baru seperti operasi penumpasan Komando Jihad yang menciptakan karakter Imron. Teori Joko Tingkir didukung oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Prof Dr Haryono yang juga pakar ilmu sejarah.

“Model operasi intelijen Joko Tingkir ini yang kemudian sukses menciptakan ketegangan antara sesuatu yang diistilahkan ekstrim kiri dan ekstrim kanan ciptaan Orde Baru pada awal 1980-an, yang menunjukkan seolah-olah ada ancaman orang-orang kiri terhadap orang-orang kanan dan sebaliknya,” terangnya.

Semua ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras, kesabaran, ketekunan, kerjasama berbagai potensi umat,  dan waktu yang panjang.  Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dilakukan adalah bagaimana membenahi kondisi internal umat Islam dan lembaga-lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga yang bisa diteladani oleh umat manusia.

Jadi, menurut Arif, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas ’Salahuddin al-Ayyubi’.

”Dan ini tidak mungkin terwujud, kecuali jika  umat Islam Indonesia – terutama lembaga-lembaga dakwah dan pendidikannya – amat sangat serius untuk membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya,” pungkas Direktur Pusat Studi Peradaban Islam.

Dialog Publik setidaknya diikuti peserta sebanyak 100 -150 orang yang berasal dari Perwakilan Pimpinan Ormas Islam, Perwakilan Pimpinan Organisasi Kepemudaan Islam, Pelajar dan Mahasiswa muslim, Media Massa dan Undangan. – ian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *