Universitas Swasta Didorong Terapkan SKS Gemuk

BINCANG-BINCANG : Mantan rektor UKDW Yogyakarta Dr Djohan MEM didampingi wakil rector I UKS Retno Palupi dan wakil rector II Magdalena Nani ketika memberi pengarahan civitas akademika UKS di kampus setempat.

JO, Solo – Universitas swasta didorong untuk bisa mengambil terobosan dengan menerapkan sistem kredit semester gemuk, yakni 4, 5, atau 6 SKS, untuk satu mata kuliah dengan menggabungkan mata kuliah serumpun.

Menurut mantan rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Dr Djohan MEM, penerapan SKS gemuk akan lebih efisien dan mata kuliah yang diajarkan juga makin ramping. Mata kuliah baru hasil penggabungan beberapa mata kuliah diusahakan berorientasi ke pasar agar para lulusan mudah mendapatkan pekerjaan.

“Tak perlu lapor ke Dikti atau Kopertis, kebijakan penggabungan beberapa mata kuliah serumpun menjadi SKS lebih besar atau gemuk cukup ditangani kepala program studi,” kata dia, Jumat (10/7/2015). Sehari sebelumnya, Guru Besar UKDW itu memberi asistensi dan pendampingan pada civitas akademika Universitas Kristen Surakarta (UKS).

Penerapan SKS gemuk, lanjut dia, juga harus disertai perubahan proses belajar mengajar yang lebih efisien, berbobot, dan menyenangkan bagi para mahasiswa. Misalnya, dalam satu semester para mahasiswa hanya dibebani empat atau lima mata kuliah, atau sehari satu mata kuliah dalam seminggu. Tapi perkuliahan akan berlangsung cukup lama lantaran SKS besar.

‘’Nah, justru di sini kelebihannya. Dengan hanya satu mata kuliah, para para mahasiswa tidak perlu mondar-mandir dari kampus ke mall kembali ke kampus lagi untuk berkuliah lagi dengan mata kuliah berbeda, hingga dua atau tiga jenis mata kuliah,’’ kata dia.

Untuk mensiasati SKS gemuk dan menghindari kejenuhan di kelas, perkuliahan menggunakan sistem tutorial dan para dosen harus memperbanyak praktik di lapangan. Sesudah kuliah para mahasiswa juga tidak perlu diberi tugas. Semuanya rampung dan tidak ada beban bagi mahasiswa.

‘’Dengan perkuliahan hampir sehari juga akan membiasakan mahasiswa berada di dunia kerja. Sehingga tidak kaget jika kelak masuk dunia kerja sesungguhnya setelah lulus. Sebab, sewaktu kuliah tidak terbiasa dolan,’’ jelasnya.

Terobosan lain yang disampaikan Djohan adalah merampungkan pembuatan skripsi sebelum mahasiswa melakukan praktik kerja lapangan (PKL) atau kuliah kerja nyata (KKN). Tujuannya, agar tidak mengganggu PKL atau KKN. Menurut dia, selama ini banyak mahasiswa bolak-balik ke sana ke mari menyelesaikan skripsi, sehingga menggangu PKL atau KKN. – lis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: