Solo Potensi Kembangkan Wisata Desa & Kota

Alpha Fabela, Pengembang Kampoeng Batik Laweyan Solo dan Penggagas Batik Park Solo saat menyampaikan materinya pada Workshop Pengembangan Kemitraan Destinasi Wisata Perdesaan dan Perkotaan, Kamis (3/9/2015)

JO, Solo – Seni dan Budaya, Solo memang pusatnya. Oleh karena itu apabila Workshop Pengembangan Kemitraan Destinasi Wisata Perdesaan dan Perkotaan diselenggarakan di Solo maka sangatlah tepat sebab di Solo telah mampu menjalin kerjasama dan kemitraan antar daerah.

“Sehingga tidaklah salah kalau Solo dikenal sebagai kota kreatif, seni dan budaya tersebut karena memang orang-orangnya sangat produktif dan inovatif.” kata Nurwan Hadiyono, Kepala Bidang Pengembangan Wisata Perdesaan dan Perkotaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, dalam Workshop Pengembangan Kemitraan Destinasi Wisata Perdesaan dan Perkotaan, Kamis (3/9/2015)

Lebih lanjut Nurwan Hadiyono mengatakan bahwa pihaknya melihat Solo sangat berpotensi dalam menjalin kemitraan kepariwisataan, sehingga dipilih untuk mencari masukan pola kemitraan pariwisata perdesaan danperkotaan, hasilnya akan dilakukan kajian Kemenpar di Jakarta.

Nurwan menambahkan pengembangan disektor budaya lebih karena tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia didominasi budaya, karena daya tarik kebudayaan yang dimiliki sejumlah daerah ditanah air.

“Prosentase wisata budaya menduduki peringkat tertinggi wisman datang ke Indonesia, 60 persen kemudian 35 persen wisata alam dan sisanya 5 persen wisata buatan,” pungkasnya.

Workshop Pengembangan Kemitraan Destinasi Wisata Perdesaan dan Perkotaan selama dua hari, 3-4 September 2015 di Hotel Brothers Solo Baru, Sukoharjo.

Dalam workshop tersebut, selain membahas identifikasi penyusunan kriteria destinasi wisata juga membahas program wisata terintegrasi di wilayah Solo Raya, mendatangkan sejumlah narasumber lokal dan dari Jakarta.

Dalam kegiatan ini juga turut dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai dinas dan instansi terkait pariwisata serta sejumlah komunitas yang konsen dalam wisata budaya dan stakeholder pariwisata di wilayah tersebut. – ian

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme wordpress