Hentikan Kekerasan Seksual Sekarang Juga !

Solo Raya Melawan Kejahatan Seksual, Sahkan Segera RUU Penghapusan Kekerasan  Seksual,  Hukuman Kebiri Dan Hukuman Mati  Bukanlah Solusi.

JO, Solo – Setiap hari, ada 20 perempuan Indonesia menjadi korban kekerasan seksual. Dan setiap 3 jam, setidaknya ada 2 perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Ini “Darurat Kekerasan Seksual”. Perempuan dan anak kian terancam.

Dari tahun ke tahun, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak cenderung meningkat. Komnas Perempuan mencatat pada tahun 2014 terdapat 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan, dan terus bertambah hingga mencapai 321.752 kasus pada tahun 2015. Kekerasan seksual menempati urutan tertinggi kedua setelah kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Kekerasan seksual adalah kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang meninggalkan dampak seumur hidup bagi korbannya. Dampak fisik, psikologis, sosial, ekonomi, kerusakan organ seksual dan reproduksi, bahkan hingga kematian. Kekerasan seksual sangat memilukan bagi korban, keluarga korban, dan kita semua.

“Kekerasan seksual menjadi bencana besar bagi masa depan bangsa Indonesia. Untuk itu, Lawan!” tegas Direktur SPEK-HAM, Endang Listiani. Sabtu (14/5/2016)

Hukuman kebiri dan hukuman mati, bukanlah solusi untuk menghentikan kekerasan seksual. Penis bukanlah satu-satunya alat untuk melakukan kekerasan seksual. Ada mata, tangan, mulut, bahkan benda-benda pun bisa menjadi alat untuk melakukan kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Hasrat seksual tidak akan hilang hanya dengan kebiri.

Selagi pikiran dan pengendalian diri tidak diajarkan pada laki-laki, lanjut Listi, maka penyerangan pada tubuh perempuan tetap akan terjadi. Indonesia membutuhkan penghukuman yang lebih menyelesaikan akar masalah. Akar persoalan dari kekerasan seksual adalah pola pikir/perspektif diskriminasi dan ketimpangan relasi kuasa berbasis gender.

“Perempuan masih dianggap sebagai sarana pemuas kebutuhan seksual, sebagai warga kelas dua, dan mahluk yang lemah. Pendidikan seksualitas dan kesetaraan gender harus ditanamkan sejak dini,” tambahnya.

Masyarakat Indonesia (terutama korban) membutuhkan payung hukum yang mampu mengintegrasikan semua kebutuhan pencegahan hingga pemulihan korban. Pemenuhan kebutuhan dan hak korban kekerasan seksual dengan penanganan kasus yang komprehensif. Sistem penghukuman yang menimbulkan efek jera, namun juga manusiawi dan rehabilitative (terutama pada pelaku yang masih berusia anak).

Dan hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana mendorong tanggung jawab negara untuk melakukan berbagai upaya pencegahan dan memastikan system hokum memberikan jaminan keadilan bagi korban dan menerapkan hukuman maksimal bagi pelaku.

“Kami aliansi masyarakat dan mahasiswa, yang terdiri dari SPEK-HAM, Talitakum, IMM UMS, Forum Paralegal Solo Raya dan Komunitas Masyarakat Peduli Perempuan dan Anak Solo Raya menyatakan sikap,” tegasnya.

Pernyataan sikap itu diantaranya, Sahkan segera RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Menolak hukuman kebiri dan hukuman mati. Bangun system penghukuman yang manusiawi, menyelesaikan akar persoalan, dan rehabilitative bagi pelaku anak.

Menuntut aparat penegak hukum untuk melakukan terobosan hukum yang memberikan akses keadilan bagi perempuan korban dan memberikan hukuman maksimal bagi pelaku kejahatan seksual. Menuntut tanggung jawab pemerintah untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dan memasyarakatkan bahaya tindakan kekerasan seksual. – nue

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress