Dicky Sumarsono si pelayan hotel yang kini jadi CEO

Dicky S A

Solo – “Jika kita berbicara mengenai kota Solo bisa dikatakan memiliki keragaman budaya dan juga kuliner yang menjadi keunggulan dari kota ini jika mau ditawarkan pada orang luar kota Solo,” kata Dicky Sumarsono, CEO Azana Management ditemui di Lazy Cow, salah satu resto yang dikelolanya, yang berada di jalan protokol kota Solo, jalan Slamet Riyadi. Kamis, 26 Mei 2016 lalu.

Apalagi wilayahnya yang terletak di tengah Pulau Jawa membuat Solo dekat dengan wilayah manapun seperti Jakarta, Jawa Barat, maupun Jawa Timur. ”Ini menjadi peluang yang besar. Dimana Solo yang menjadi kota Singgah ini bisa bertumbuh menjadi kota bisnis jika mampu dikelola dengan baik,” tuturnya. Semakin banyak enterpreneur yang mencoba membuka usaha maka perekonomian di Kota Budaya ini akan semakin bertumbuh.

Terlebih kesadaran untuk mendirikan usaha baru semakin besar membuat masyarakat tidak perlu khawatir akan lesunya perekonomian yang terjadi akhir – akhir ini. ”Menurut saya, Indonesia tidak perlu khawatir akan dampak dari lesunya perekonomian dunia sebab kita masih diuntungkan dengan letak demografi yang cukup luas,” jelas Dicky. Selain itu jumlah penduduk kategori menengah di Indonesia terbilang banyak. Yani mencapai130 juta jiwa atau 55 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia.

Selain itu Indonesia juga disebut dengan The Greaters Asia sebab 45 persen orang Asia tinggal di Indonesia. Bukan Cuma itu saja Indonesia juga memiliki 500 armada airline terbanyak di Asia. “Bagi saya itu sudah menjadi potensi pasar yang cukup besar. Bagaimana kita harus mampu mengaktivasi kemampuan dan potensi pasar yang dimiliki itu dengan cara berkreasi dan berinovasi sehingga kebutuhan pasar lokal bisa terpenuhi dan pada akhrinya akan mempersempit kesempatan pasar asing untuk menguasai ekonomi di Indonesia,” Dicky berkomentar.

Cita – cita jadi pilot
Kelihaian Dicky dalam membuat strategi dan juga membaca situasi pasar memang sudah tidak bisa dipandang remeh. Sebagian besar pengusaha mengakui kemampuan berbisnis dari pria kelahiran 16 Desember 1971 itu.

Namun siapa sangka si pengusaha ini sejak kecil justru bercita–cita menjadi seorang pilot. “Saya waktu kecil pas masih sekolah punya cita – cita masuk AKABRI TNI AU dan menjadi pilot pesawat tempur,” katanya. Namun semua berubah ketika dia duduk di bangku SMA. Tak sengaja masuk ke sebuah hotel di Jakarta saat mengantar kue parsel dari bisnis dirinya dengan sang kakak.

“Hotel kok bagus ya. Karyawannya pada rapi dan juga pelayanan benar – benar bagus. Dan sepulang saya dari sana saya tidak jadi mendaftar di AKABRI namun langsung ke jurusan perhotel di Trisakti,” Dicky bercerita. Dan sejak terjun di dunia perhotelan, mulailah dirinya mempelajari semua hal mengenai apa itu hotel, manajemen dan juga cara berbisnis di dalamnya.

Pengalaman di hotel
Pengalaman pertama yang dialami ayah dari Aisha Variela dan Aurelia Natalia adalah menjadi pelayan hotel atau biasa orang menyebutnya dengan waiter pada tahun 1991 . Bukan jabatan besar memang, namun nyatanya tak membuat Dicky berpuas diri.

Keinginannnya untuk berubah dan melakukan sesuatu yang baru menjadi tekatnya untuk tidak menyerah dalam meraih cita – cita. ”Saya ini tipe orang yang cepat bosan dengan sesuatu yang sama, tidak suka dia666666m, dan suka mencoba hal baru. Saya paling tidak tahan kalau di suruh hanya diam saja dan mulai lah saya mencari hal yang baru, berkreasi dan berinovasi dengan sesuatu yang sudah ada,” kata Dicky. Dan sudah 7 hotel, 8 restoran dan 1 katering yang sudah dia coba.

Baginya hotel itu memiliki kesenangan tersendiri. “ Hotel itu lebih fun, dinamis, ketemu dengan berbagai macam orang tiap hari, dan bisa bikin apa saja dari semua produk yang ada di hotel. Kreativitasnya bukan saja berhenti di makanan dan minuman namun juga kamar, marketing dan lainnya,” ucap Dicky.

Dicky memiliki trik tersendiri untuk mampu bertahan di bisnis perhotelan. “Menurut saya kreativitas dan inovasi harus bisa menciptakan new businness atau model bisnis baru yang jangan hanya mengikutin pasar yang ada namun harus berani menciptakan pasar baru dan berani keluar dari samudra merah yang sudah radikal dan kompetitif menuju ke samudra biru dengan bisnis baru, pasar baru dan pola baru atau new market, new bisnis model, and new leadeship,” jelas dia

Persoalan yang dihadapi hotel saat ini adalah bagaiman mencari sdm yang kompeten. The right man right place right time. Apalagi antara hotel yang tumbuh dengan sdm lebih banyak hotelnya. Selain itu tamu hotel juga sudah semakin tidak royal dan semakin sulit dipuaskan.

Buat usaha sendiriDicky B. Dan setelah wara–wiri di dalam hotel pada tahun 2005, Dicky memberanikan diri untuk membuat Azana Management. Dimana dalam usahanya itu membantu pemilik modal yang tertarik berbisnis hotel, serta untuk membantu dan mengembangkan hotel dengan konsep yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Saya melihat potensinya cukup besar kala itu. Hampir semua pebisnis, korporat, asosiasi, sudah menganggap hotel bukan barang mewah dan sudah menjadi gaya hidup,” kata Dicky.

Tantangan yang dihadapinya tidaklah mudah. Sebagai contohnya saja waktu membangun hotel. Dimana waktu pembangunan hotel yang tidak sesuai dengan skedule yang 10 bulan jadi 16 bulan, atau ketika ada kebijakan dari dadakan dari pemerintah. Menjadi kendala tersendiri bagi eksistensintinya, mengembangkan usahanya tersebut.

Namun baginya selama ada tekad dan keinginan untuk maju maka bisa berjalan dengan baik. Hasilnya saat ini Azana Management sudah memegang 3 brand hotel, Front One hotel, Quin’s hotel, dan The Azana Hotel. Selain itu ada pula Lazy Cow Resto dan Victoria Hotel School. Kedepannya pria yang sudah mengeluarkan 2 buku berjudul dasyatnya bisnis hotel di Indonesia dan Luar biasa bisnis restoran di Indonesia ini berharap bisa membuka hotel sendiri. “Harapan saya bisa buka resort butik hotel bintang 5 di Bali. Doakan saja 2 – 3 tahun lagi bisa terwujud,” tuturnya di akhir pertemuan kami. – ambar

Data diri:
Dicky Sumarsono
CEO Azana Management
Tanggal lahir: 16 Desember 1971
Istri : Anita Sari
Anak : Aisha Variela dan Aurelia Natalia
Hobi nonton, masak dan jalan -jalan
Makanan favorit : tahu, bothok tempe,dan makanan jepang
Tempat favorit : Bali dan Eropa


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger