Batik Gunawan Setiawan, Tabrak tradisi dengan inovasi

Solo – “Solo itu setahu saya menjadi pusat budaya yang memiliki ciri khas ‘njawani’ dan juga menjadi pusat ekonomi di daerah. Selain itu kini juga menjadi pusat dinamika politik. Dimana semenjak Presidennya orang Solo, perhatian masyarakat semakin melihat Solo sebagai suatu kawasan yang patut untuk dikunjungi,” ujar Gunawan Setiawan pemilik Batik Gunawan Setiawan ketika ditanyai pendapatnya mengenai Kota Solo di showroomnya kawasan Kauman Solo, Kamis 26 Mei 2016.

Meski disadari, secara ekonomi, Solo juga tidak bisa terhindar dari yang namanya krisis ekonomi. “Saya melihat perekonomian kita saat ini seperti wait and see. Sehingga kita sulit membaca kapan pasar mulai bergerak kearah yang baik,” kata dia.

Gunawan bersama dengan para pembatik di Kauman tidak banyak yang tahu apa penyebab lesunya ekonomi. Ada yang berpendapat karena baik turunnya nilai mata uang, ada yang mengatakan ini dikarenakan pembangunan pasar klewer yang belum rampung, dan sebagainya.

Meski melambat, nyatanya tak membuat Gunawan berpangku tangan. Bersama dengan teman – teman sesama pengusaha batik, dirinya melihat jika inovasi menjadi jalan terbaik untuk mencegah semakin parahnya perekonomian. “Sebagai pelaku industri kreatif bagi kami lesunya ekonomi ini justru menjadi pemicu untuk bisa berkembang lebih baik lagi. Dan inovasi menjadi jalan terbaik, entah itu pada bidang produksi, pemasaran dan lainnya. Meski tidak signifikan naik, namun paling tidak bisa sedikit membantu,” jelas dia.

Tak Cuma berhenti pada Sumber Daya Manusiannya saja, namun juga peran Pemerintah Surakarta yang dinilai membantu memperkenalkan batik di kancah regional maupun profesional. ”Saya merasa pemkot Solo dan juga nasional sangat membantu. Mereka bukan hanya berhenti di perencanaan, tenaga teknis dam sebagainya. Namun mau turun langsung melihat keadaan.

Masalah persaingan antar sesama pembatik masih relatif kecil. Persaingan dari dulu sebelum adanya kampung batik sudah biasa. Persaingan, Gunawan menganggapnya sebagai ajang kreativitas bagi masyarakat.

Batik sudah mendarah daging
Jika berbicara mengenai batik, bagi Gunawan itu sudah menjadi makanan sehari – hari. Sedari kecil dirinya sudah terbiasa dengan yang namanya batik, apalagi profesi ayahnya yang menjadi pengusaha.

“Saya sudah sejak kecil sudah berkecimpung di dunia batik dan bertemu dengan pembatik cap, bakul, tenaga pewarna batik dan sebagainya. Saya juga seudah sering dipasrahin bapak untuk bantu –bantu mengerjakan batik dan ini sudah menjadi hal rutin bagi saya,” jelas pria murah senyum itu menjelaskan.

Butuh waktu bertahun – tahun untuk bisa menjadi ‘ahli’ dalam mengolah batik. Dan akhirnya Gunawa mulai mencoba untuk membuka bisnis sendiri. Memang diakui tidak sebesar sang Ayah , namun perlahan tapi pasti bisnis batiknya mulai merangkak.

Cara Gunawan untuk menjalankan bisnis berbeda dengan sang ayah. “Cara saya menjalankan bisnis memang sedikit berbeda dan memang sedikit menabrak tradisi,” pungkasnya.

Gunawan mencontohkan, jika sang ayah hanya membuat baik tulis maupun cap untuk dibuat batik, sedangkan dirinya memodifikasinya menjadi fashion modern. Selain itu, dia juga memanfaatkan rumahnya untuk menjadi showroom. Dimana hasil karya yang dibuat bisa langsung dilihat oleh konsumen yang datang. “Kalau ayah saya biasanya kain hasil batik dilipat lalu di simpan di lemari dan jika ada yang membeli baru dibuka. Namun saya justru memamerkannya dalam bentuk display dan membuat mereka yang datang bisa melhat langsung hasil karya kami,” ujar Gunawan. Total ada 3 jenis batik yang dia kerjakan, mulai dari klasik, kontemporer maupun campuran. Dan saat ini dirinya sudah memiliki 2 cabang selain di Kauman yakni di Laweyan dan juga Jalan Veteran.

Peristiwa 98 jadi kesulitan terbesarnya.
GS BPerkembangan bisnis Batik Gunawan yang sudah ada sejak puluhan tahun ini memang tidak selalu ada di atas. Banyak kesulitan harus dihadapi untuk bisa mendulang sukses seperti saat ini. Diantara banyak permasahan yang pernah dia alami, ada satu peristiwa yang membuat bisnis batiknya menurun signifikan.

“Pengalaman yang paling terasa sekali perjuangannya itu adalah ketika terjadi krisis moneter di tahun 1998. Dimana pada peristiwa itu terjadi kelangkaan bahan yang luar biasa,” Gunawan mulai bercerita. Apalagi kala itu Solo menjadi salah satu kota yang mengalami dampak langsung peristiwa 98. Dimana kota ini sudah seperti terisolasi dikarenakan aksesnya di tutup. Para pemegang bahan baku banyak yang kena masalah akibatnya bahan baku seperti mori susah di dapat dan membuat para pekerja banyak yang menganggur. Padahal sebagian besar dari mereka berasal dari luar Solo seperti Sukoharjo, Karanganyar, Sragen dan sebagainya.

“Saya bahkan sampai harus keluar kota untuk menemukan mori yakni bahan baku batik. Pencarian saya saat itu sampai ke Jogja, Pekalongan dan lainnya. Padahal sebelumnya sudah pasti ada yang nganterin bahan tapi saat itu saya harus menghabiskan waktu lebih untuk menemukan kain mori yang sesuai,” kata suami dari Dian Sari.

Ingin teruskan bisnis ke anak
Dan seperti orang tua kebanyakan, Gunawan juga memiliki keinginan untuk bisa mewariskan bisnisnya itu kepada keempat anaknya. Memang tidak seperti dirinya dulu yang langsung bekerja di dalamnya, namun paling tidak mereka tahu mengenai seluk beluk bisnis keluarga.

“Seperti orang tua saya sebelumnya, saya juga ingin bisa menurunkan usaha saya ke anak dan keponakan. Tujuan saya agar bisnis ini bisa terus berjalan. Walau tidak secara langsung, sebab anak saya masih sekolah namun keponakan saya sudah ada yang bekerja di sini,” pungkasnya.

Dirinya berharap anak –anak nya bisa melengkapi usaha keluarga dan melanjutkannya. agar budaya kota Solo ini tetap ada dan menjadi ciri khas dari kota yang dikenal dengan segudang sejarah di dalamnya. – ambar

Data diri:
Gunawan Setiawan
Owner Batik Gunawan Setiawan
Tempat, Tanggal Lahir : Solo , 19 Oktober 1971
Istri : Dian Sari
Anak : 4
Hobi : olahraga
Makanan favorit: sate dan nasi kebuli
Tempat favorit: rumah

Pendidikan:
SDN Kauman
SMP Al Islam
SMA Al Islam
S1 UII Managemen
www.batiksetiawangunawan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress