Sutoyo, Pria dengan sejuta terobosan

BeautyPlus_20160530104213_fast

Solo – Sutoyo nama pria yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama Universitas Slamet Riyadi (UNISRI). Pembawaanya yang kalem, dan penuh kesederhanaan itu membuat siapapun yang berada di dekatnya betah berlama – lama untuk berdiskusi.

Pria yang lahir di Sukoharjo,1 Februari 1963 itu memang sudah tidak asing dengan dunia pendidikan. Kiprahnya dalam dunia mengajar ini memang sudah terbentuk sejak dirinya duduk di bangku SLTA di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sukoharjo 1983 silam.

“Sejak kecil saya memang sudah bertekad untuk menjadi orang yang berguna bagi orang banyak. Dan pendidikan menjadi jalurnya. Meski keluarga saya hanya seorang petani namun tak membuat saya patah semangat,” katanya ditemui di Kantor UNISRI pada Rabu, 30 Mei 2016.

Pendidikan itu menyenangkan
Sutoyo menganggap jika lingkungan pendidikan itu menyenangkan. Dimana bisa bertemu dengan orang yang juga memiliki jiwa pendidik dan saling bertukar pandangan serta komitmen. “Bagi saya pendidikan itu berlangsung seumur hidup. Dan pendidikan formal saat ini adalah kelanjutan dari pendidikan yang diterapkan dalam keluarga dimana pendidikan bersifat preventif,” jelasnya.

Pria yang sudah 2 periode menjabat sebagai Dekan Fakultas keguruan ini memang tak pernah berhenti dalam memunculkan terobosan. Bahkan sejak menjabat sebagai wakil rektor III, 2 tahun silam ini, banyak inovasi yang sudah dkeluarkan demi kemajuan mahasiswanya. “Saya selalu menekankan mereka akan sikap nasionalisme, kemandirian, kewirausahaa, berprestasi dan juga berkarakter. Dan bahkan saya juga meminta mereka untuk paling tidak mengikuti organisasi. Tujuannya ingin meletakkan fondasi yang kokoh sebelum mereka bersaing di dunia kerja, “ ungkap Sutoyo.

Tingkatkan kualitas diri jadi kunci keberhasilan
Pria berkumis ini menyadari bekal yang dia lakukan kepada mahasiswanya itu menjadi cara terbaik untuk bisa bertahan dalam beratnya persaingan saat ini. Dirinya menyadari lesunya ekonomi saat ini berdampak pada penurunan jumlah tenaga kerja. Sehingga hanya mereka yang berkualitas saja yang akan diambil. “ Saya selalu mengarahkan kepada mereka untuk menjadi orang yang memiliki karakter yang kuat. Bagaimana mereka harus memiliki semangat, kesiplinan, kemauan untuk belajar, tidak takut untuk mencoba dan selalu mengkomunikasikan segala sesuatu dengan baik,” kata pria yang suka berkreasi di alam terbuka.

Selain memperkuat karakter, Sutoyo juga memiliki beberapa program untuk menunjang kemampaun anak didiknya.” Saat ini kita punya pusat karir yang memiliki 3 fungsi diantaranya melakukan kegiatan personal excelent dimana kegiatan ini berisi pembekalan bagi mahasiswa yang akan lulus tentang bagaimana berinteraksi dengan baik, memahi peluang dan sebagainya. Kemudian reservasi, yakni setelah dibekali dan lulus apakah sesuai dengan yang lembaga ajarkan selama ini, apakah mampu bersaing dan mudah mendapat pkerjaan atau mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, dan terakhir kegiatan job fair yang menjadi ajang memberikan peluang bagi mahasiswa untuk akses pekerjaan,” kata Sutoyo memberikan penjelasan.

Jangan Takut MEA
SutoyoDan meski ekonomi Indonesia masih belum memberikan sinyal untuk bangkit, Sutoyo meminta masyarakat tidak panik. Sebab kenyataanya memang ada penurunan namun tidak sebesar yang dipikirkan. “MEA yang sudah berjalan saat ini bagi saya tidak perlu menjadi masalah. Mungkin kebanyakan dari kita berfikir jika MEA ini justru memperkecil lapangan pekerjaan. Padahal sama saja. Misalnya dari negara asing bisa mencoba peruntungannya di negara kita mengapa kita tidak bisa,” tukas pecinta mie ini menjelaskan.

Meski menurut data yang dikeluarkan tahun ini menyebutkan jika jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,5 juta jiwa ini semata – mata bukan saja diakibatkan oleh MEA atau lesunya ekonomi melainkan karena jumlah angkatan kerja yang semakin meningat.

Dan untuk membuat mahasiswanya bisa bersaing dengan lainnya, Sutoyo memberikan beberapa pembekalan seperti pengajaran bahasa inggris selama 6 semester. Dimana dengan pelajaran yang berikan paling tidak setelah lulus mereka bisa berkomunikasi dengan baik menggunaan bahasa inggris. Kedua, setiap mahasiwa lulus biasanya akan disertai surat keterangan pendamping ijasah yang beris kemampuyan lebih yang dimiliki oleh mahasiswa. Dan terakhir adalah penekanan karakter.

“Menurut saya perilaku yang baik, kejujuran, sopan santun dan tata krama menjadi syarat tidak tertulis dari yang dibutuhkan perusahaan. Dan kadang kecerdasan tidak terlalu dibutuhkan,” kata dia.

Dirirnya berharap dengan inovasi yang telah diberikannya itu dapat memberikan banyak manfaat dan bisa membantu mahasiwa untuk unggul dalam persaingan bisnis maupun ekonomi tak peduli bagaimana kondisi yang terjadi pada negara saat ini. – ambar

Data diri :
Nama : Sutoyo
Istri : Harningtati
Anak : 2

Latar Belakang Pendidikan :
SD Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Sukoharjo,
SMP Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MSM) Sukoharjo
SLTA Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sukoharjo
S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UNS
S2 Pendidikan Sejarah IKIP jakarta
S3 Ilmu Pendidikan UNS
Hobi: berolahraga dan traveling
Tempat favorit: Tawangmangu
Makanan kesukaan: mie


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger