Budi Istiyanto buktikan sukses tanpa pendidikan bergengsi

Budi Istiyanto

Solo – Siapa yang tidak ingin sukses. Siapapun dia pasti menginginkan perubahan dalam hidupnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Perkaranya adalah bagaimana seseorang itu mampu mengusahakan dirinya untuk bisa menggapai tingkat kesuksesan yang diinginkan. Ada orang yang sangat gigih untuk menggapai jalan yang namanya kesuksesan, ada yang terkesan biasa-biasa saja. Namun ada pula yang terlihat biasa namun di dalamnya ia tengah berusaha keras menggapai impiannya.

Lalu pertanyaanya kini, apa yang menjadi tolak ukur dari sebuah kesuksesan? Banyak dari kita menjawabnya dengan pendidikan yang bergengsi dan nilai IPK tinggi. Dan ini bisa dilihat dari semakin banyaknya jumlah calon mahasiswa yang mendaftarkan diri ke universitas ternama. Dan sayang tidak semua orang mampu mencapai level yang diinginkan oleh pihak pendidik.

Dan bagaimana nasib mereka yang tidak lolos? apakah mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh kesuksesan? Rentetan pertanyaan itu seolah terjawab ketika pertemuannya saya dengan Budi Istiyanto. Usianya masih terbilang muda namun kini dia telah mampu memangku jabatan sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surakarta periode 2016 – 2020.

Dan ketika ditanya apa latar pendidikannya, pria kelahiran 25 Desember 1974 ini merupakan lulusan pertama dari STIE Surakarta yang kini dia pimpin. “Nilai IPK yang tinggi serta sekolah yang bergengsi bukan lagi menjadi jaminan seseorang bisa sukses. Dan saya berani membuktikannya,” kata dia usai mengikuti acara serah terima jabatan di STIE Surakarta. Kamis, 2 Juni 2016.

Budi demikian akrab dipanggil, melihat saat ini dunia kerja juga sudah bukan lagi berpatok pada seberapa tinggi nilai IPK seseorang melainkan kemampuan juga kompetensi mereka dalam menghadapi masalah perusahaan juga strategi mereka untuk memajukan perusahaan. “Komunikasi menjadi kunci dari keberhasilan seseorang,” tukas dia.

Suami dari Tri Wahyuningsih ini memang selalu menekankan kepada mahasiswanya untuk selalu meningkatkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi. “Untuk bisa diterima di dunia kerja mereka harus punya kemampuan berkomunikasi yang bagus. Dalam arti lainnya, IPK saat ini bukan lagi menjadi indikator utama dalam dunia kerja melainkan cara mereka berkomunikasi menyampaikan ide dan gagasan yang baik dan jelas,” jelas Budi.

Suka berorganisasi
Sejak duduk di bangku kuliah, Budi memang sudah suka berorganisasi. Dirinya bahkan aktif menjadi aktivis organisasi kemahasiswaan di kampusnya serta organisasi kepemudaan di wilayahnya. Baginya organisasi menjadi motivasi dirinya untuk bisa berbaur dengan banyak orang. “Bagi saya dengan berorganisasi kita bisa belajar untuk berbicara dengan benar,” papar si penyuka sate ayam ini.

Kecintaannya pada dunia organisasi berlanjut sampai kini. Ada 2 organisasi yang saat ini dia ikuti yakni Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan Asosiasi Managemen Indonesia (AMI). “Pekerjaan yang membuat saya cukup sibuk. Sehingga hanya 2 yang mampu saya ikuti. Kalau kebanyakan takut tidak fokus,” komentarnya.

Berawal dari cinta pada dunia pendidikan
Kecintaaannya pada dunia pendidikan justru mengantarkan Budi terjun menjadi seorang pengajar. Tak langsung menduduki jabatan tinggi, dirinya justru sedikit demi sedikit merangkak dari bawah. Mulai dari Kepala bagian administrasi akademik, Kepala Bagian Administrasi umum,Pembantu mahasiswa bidang kemahasiswaan, Kepala bagian administrasi akademik, Pembantu mahasiswa bidang kemahasiswaan hingga terpilih menjadi Ketua Umum STIE Surakarta.

“Semuanya saya mulai dari bawah, dari jabatan biasa sampai bisa menjabat sebagai Ketua Umum, membutuhkan waktu belasan tahun,” katanya.

Terobosan terbaru usai menjabat
Walau baru beberapa waktu menjabat, namun dirinya sudah mempersiapkan berbagai terobosan terbaru demi meningkatkan kompetensi mahasiswa dan juga pembimbing yang ada di STIE Surakarta. Salah satu dengan membangun pusat karir. “Mungkin di beberapa universitas mereka sudah membangun pusat karir, namun disini kami buat berbeda,” tutur ayah dua anak ini menjelaskan.

Ada dua program pusat karir yang tengah dia kembangkan. Pertama bagi mahasiswa yang akan bekerja seusai lulus. Mereka akan mendapatkan pendampingan selama 6 bulan baik itu berupa peningkatan kompetensi, kemampuan, cara melamar, cara mendapatkan pekerjaan dan sebagainya, sampai mereka mendapatkan pekerjaan pertamannya.

Kedua ditujukan bagi mahasiswa yang ingin mencoba berbisnis mandiri selama 1 tahun akan mendapatkan pendampingan. Dimana mereka akan mendapatkan pembekalan bagaimana membangun bisnis, membuat laporan keuangan dan sebagainya sampai mereka mampu berdiri sendiri.

“Saat ini persoalan mahasiswa itu bukan sebelum kuliah atau saat kuliah melainkan pasca kuliah ketika mereka akan menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Dan itulah yang ingin kami tekankan. Bagaimana ketika mereka lulus sudah benar – benar siap,” kata Budi.

Berasal dari keluarga pebisnis

Budi Istiyanto saat serah terima jabatan Ketua STIE Surakarta. Kamis, 2 Juni 2016.

Budi Istiyanto saat serah terima jabatan Ketua STIE Surakarta. Kamis, 2 Juni 2016.

Meski mengabdikan diri sepenuhnya dalam dunia pendidikan, nampaknya darah bisnis keluarga tak bisa berhenti begitu saja. “Sejak kecil saya sudah diajarkan orang tua cara berbisnis dengan baik. Meski bukan bisnis besar namun saya diajari bagaimana melayani pelanggan, bagaimana melihat pasar dan bagaimana mengembangkan bisnis dengan baik,”jelasnya

Dan hasilnya kini Budi memiliki bisnis perlengkapan haji dan umroh di wilayah Makamhaji yang dia beri nama Bima Collection. Alasan dirinya memilih bisnis produk perlengkapan umroh ini juga bukan tanpa alasan.

“Saya melihat aturan pemerintah terkait haji dimana waktu tunggu antara 15 – 20 tahun. Dan ini tentu saja tidak bisa dilakukan oleh mereka yang berusia lanjut. Dan pilihan lainnya adalah perjalanan umroh. Dan dikota Solo, perusahaan yang bergerak di bidang itu sudah sangat banyak karena peluangnya yang besar. Oleh karena itu saya mencoba cara lain dengan lebih pada menjual perlengkapan haji dan umroh yang bisa bekerjasama dengan perusahaan haji dan umroh di Solo,” jelas dia. Dirinya memilih membidik sisi lain yang dinilai lebih menguntungkan ketimbang harus bersaing dengan perusahaan umroh yang lebih berpengalaman.

Dan terkait dengan penurunan perekonimian yang tengah naik turun akhir – akhir ini, Budi mengaku tidak ambil pusing. Sebab dampaknya tidak terlalu terasa baik itu di segi bisnis maupun pendidikan. “Jika permasalahannya ada pada penyerapan tenaga kerja maka yang kami lakukan adalah bagaimana menghasilkan tenaga kerja yang berkompeten dan jika itu berhubungan dengan pengembangan bisnis, jawabnya adalah kenapa tidak memulai bisnis sendiri dan mengembangkannya dengan ide dan cara yang berbeda,” tambahnya.

Pertemuan saya dengan Budi Istiyanto dan percakapan kami selama beberapa jam itu memberikan saya pandangan baru mengenai arti dari kesuksesan. Jika sebelumnya kita berfikir jika menamatkan pendidikan serta memperoleh gelar guna bekerja di perusahaan bergengsi adalah mimpi sebagian orang di luar sana.

Maka dari itu tak mengherankan jika orangtua akan meminta anaknya mendapat nilai tinggi agar suatu hari nanti lebih mudah mendapat pekerjaan. Kita secara umum dibentuk untuk menjadi mengejar nilai dengan harapan suatu hari nanti bisa memperoleh posisi kerja di perusahaan mumpuni.

Dan bila prestasi menurun maka kesempatan kita untuk mendapatkannya semakin menghilang. Dan label anak bodoh dan masa suram akan disematkan kepada orang yang memiliki nilai rendah. Padahal jika mau dipikirkan ulang ada banyak orang sukses di luar sana justru memiliki nilai pendidikan yang buruk, atau berasal dari sekolah yang terpencil. Namu mereka justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan menpekerjakan orang – orang yang berasal dari universitas ternama. – ambar

Data diri:
Budi Istiyanto
Tempat tinggal: Perumahan Griya Sanggrahan Indah Blok A2 Makam haji Kartasura

Pendidikan:
S1 STIE Surakarta
S2 Magister Managemen dan Hukum
S3 Universitas Merdeka Malang

Keluarga:
Istri Tri Wahyuningsih
Anak Alivando Humam Arafi (16)
Asnan Fadil Arafi (9)

Lain-lain:
Hobi : berorganisasi
Makanan kesukaan : sate ayam
Tempat favorit : tawang mangu

Daftar Karya Ilmiah:
1. Budi Istianto, 2005, Analisis Terhadap Faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian pada Biro Perjalanan Umum di Surakarta (Tesis).
2. Budi Istianto, 2006; Analisis Upah Tenaga Kerja Industri Batik di Kota Surakarta  DIKTI Penelitian Dosen Muda.
3. Budi Istiyanto, 2008; Pengaruh Penjaminan Mutu Akademik Terhadap perilaku Dosen dan Karyawan Perguruan Tinggi di Surakarta, dibiayai DIPA KOPERTIS VI Semarang Jateng


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger