Djoko Santoso, Prihatin Perkembangan Musik Anak

GRSBA

Kini Sukses Kembangkan Bisnis Musik

Solo – Ide bisnis itu bisa datang dari mana saja. Bahkan dari hal – hal yang kita anggap biasa justru menjadi peluang yang menguntungkan. Seperti yang terjadi pada A. Joko Santoso. Keprihatinan terhadap perkembangan musik anak – anak justru mengantarkannya menjadi seorang perbisnis bidang musik yang cukup disegani di Kota Solo.

“Saya mulai tertarik di dunia musik sejak anak saya umur 4 tahun. Waktu itu dia kursus keyboard dan piano salah satu sekolah musik di Kota solo. saya prihatin melihat banyak anak yang berlatih musik tapi tidak pernah ditampilkan,” kata Joko, Selain itu ada satu fakta pahit yang harus diterimanya, bagaimana tidak, dari sekian banyak sekolah musik yang ada, sangat sulit menemukan sekolah musik yang menerima anak – anak. Alasannya takut alatnya rusak.

“Anak kedua saya suka musik drum dan ternyata untuk menemukan sekolah musik yang mau mengajarkan drum susahnya minta ampun. Sebab tinggi minimun anak 110cm. Dan untuk mereka yang kurang dari itu biasanya harus diotak – atik dulu. Dan karena itu saya beli alat sendiri dan panggil pelatih privat untuk anak saya,” ujar Joko.

Akhirnya pada tahun 2005, Joko mengajak terkumpul 16 anak yang memiliki hobi ngendrum dengan mengadakan pagelaran 11 drum di TBS dan itu sangat berpengaruh dan akhirnya banyak yang bergabung di komunitas.” Saya melihat ternyata antusias musik drum untuk anak terbilang cukup besar akhinya tahun 2006 saya memberanikan diri untuk membuka sekolah musik khusus drum dan mengumpulkan25 anak untuk membuat pagelaran 22 drum yang mencetak rekor muri,” jelas pria ramah ini.

Dalam perjalanan waktu, masih dengan semangat komunitas, Pada tahun 2006 Joko bertemu dengan Gilang Ramadhan dan Pambudi Darma untuk membuat kurikulum pembelajaran musik, dan pada tahun 2007 Joko intensif berkomunikasi dengan Gilang hingga pada tahun 2009 membuka Sekolah Musik Gilang Ramadhan Studio Band.

Pertama kali membuka kelas musik drum ternyata mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. bahkan dari sekian banyak anak yang mendaftar ada satu anak yang berusia 2 tahun ikut mendaftar dan dalam waktu 6 bulan sudah bisa menguasai beberapa teknik bermain drum yang akhrinya mendapatkan rekor muri sebagai pemain drum termuda di indonesia. “Kalian bisa mengecek nama gerson sebagai pemain drum termuda dengan usai 2,5 tahun,” kata Joko.

Dalam perjalanannya 3 tahun kemudian, atas permintaan dari orang tua murid serta peluang bisnis yang menjanjikan, mulai mengembangkan jenis musik lain selain drum. Mulai dari piano, gitar dan sebagainya.

Tak berselang lama GRSB kembali membuka kelas baru yang diberi nama rythm terapy yang dikhususkan untk anak autis dan berkebutuhan khusus.” Saya mendapatkan berbagai informasi dari pendidik dan psikolog anak yang mengatakan bila musik bisa menjadi salah satu terapi yang bagus bagi anak autis dan berkebutuhan khusus,” kata pecinta makanan pedas ini bercerita.

Total ada 3 pembelajaran yang diterapkan,pertama koordinasi motorik kasar dan halus, dimana pada dasarnya gerakannya anak autis maupun berkebutuhan khusus tidak beratur, kedua masalah konsentrasi, biasanya mereka susah duduk, dan ketiga masalah pengendalian emosi.

Awalnya dari keprihatinannya akhirnya menjadi jalan bagi Joko untuk bisa meraih kesuksesan di dunia bisnis musik. “Saya bukan tipe orang yang suka itung – itungan sebab saya memiliki falsafah dimana jangan jadi orang yang suka berhitung sebab jika kita suka menghitung maka rejeki kita juga dihitung,” jelas dia

Jika ditanya bagaiman peluang bisnis dari segi pendidikannya. Joko memiliki program diluar seperti konser, home konser secara periodik yang ternyata bermanfaat. “Satu untuk anaknya kalau pelajaran itu istilahnya seperti berlari itu ada finishnya, kedua orang tua merasa bangga anak bisa tampil disamping itu secara tidak langsung menjadi promosi,” pungkasnya.

Joko juga tidak khawatir dengan lesunya ekonomi lesu sebab dalam berbisnis dirinya selalu menerapkan inovasi dalam berbisnis. “Bagaimananpun musik itu adalah suatu kebutuhan antara ada dan tiada yakni antara butuh dan tidak dibutuhkan. Maka perlu inovasi untuk mampu bertahan,” jelasnya.

Seperti yang dilakukan Joko, saat ini dirinya sudah melakukan step demi step dalam berbisnis. Step pertama saya melakukan pembelajaran musik untuk reguler, kedua musik untuk ryhtem therapy, dan step ketiga yang saat ini tengah digarap dalam GRSM adalah membuat musik playground yang dibutuhkan untuk anak usia dini.

Lepaskan pekerjaan demi berbisnis
GRSBBSebelum terjun di dunia musik, lulus kuliahJoko langsung bekerja sebagai PNS Departemen tenaga kerja di Medan. Sayang hanya mampu bertahan 6 bulan saja karena idealisme yang mendapatkan kenyataan bila pekerjaannya itu tidak sesuai dengan passionnya. Akhirnya Joko memutuskan kluat dan memilih untuk bekerja di perusahaan swasta sebagai marketing obat – obatan.

Cukup lama Joko bergelut dalam pekerjaanya itu mulai dari 1990 sampai 2007 ia memutuskan unruk berhenti dan berkonsentrasi pada bisnis musiknya. “ Alasannya waktu itu saya disuruh Gilang untuk memilih antara pekerjaan saya atau bisnis musik. Sebab untuk mengembangkan musik anak memang harus terjun langsung. Dan akhirnya saya memilih keluar untuk fokus pada pekerjaan saya,” tuturnya.

Joko paham bila jalan yang dipilihnya itu tidaklah mudah. Banyak rintangan yang musti dia hadapi. “ Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah menciptakan sesuatu yang berbeda. bahwa bisnis musik itu memiliki banyak turunannya,” kata ayah dia anak ini menjelaskan.

Joko selalu menekankan kepada para orang tua bila musik itu adalah seni. Memang seni itu tidak bisa jadi patokan namun nyatanya memiliki manfaat bagi peningkatan kecerdasan pada anak. Misalnya, ketika anak – anak bermain musik secara tidak langsung mereka berhitung karena tiap lagu itu ada ketukannya. secara dibawah sadar anak berhitung dan ternyata menurut beberapa penelitian untuk anak usia 4 tahun dengan mereka yang mengenal musik dan tidak IQ nya 7 poin lebih tinggi.

Ketika ditanya mengenai peluangnya Joko mengaku peluang bisnis musik ini masih bisa berkembang, “ Selama masih ada musik maka akan selalu ada yang belajar musik dan otomatis akan ada sekolah musik yang akan berkembang,” komentarnya.- ambar

Data diri:
A Djoko Santoso
Madiun 30 maret 1966

Keluarga:
Istri: Dyah Tripranasari
Anak : Astiandiani
Barana Driya Santosa

Pendidikan:
SD Santa Maria Madiun
SMP Kanisius 2 Solo
SMA Santo Yoseph Solo
D3 Hiperkes UNS

Hobi : nonton film
makanan favorit: pedas


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger