Bermodalkan dengkul dan doa, jadi rahasia sukses Yenny Lee

Yenny Lee A

Solo – Jika kamu bertanya apa yang membuat orang betah menekuni profesinya meski terlihat susah atau tidak menarik , mungkin hanya ada satu jawabannya, yakni passion. Ya, dengan passion seseorang tidak pernah merasa bosan dengan apa yang dijalani, dimana dia tidak memikirkan untung dan rugi. Dan ketika sudah terjun maka bisa melupakan urusan lainnya.

Dan nampaknya, passion menjadi satu alasan kuat yang mengantarakan Yenny Lee untuk fokus menerjuni bisnis fashion. Ketertarikannya akan dunia deesain ini memang sudah nampak terlihat sejak dirinya masih kecil.

“Waktu itu saya punya boneka barbie dan dari kecil saya suka membuat baju – baju sendiri. Apalagi Mama ku juga punya hobi menjahit. Bahkan kain perca bekas mama menjahit saya jadikan baju barbie meski tidak rapi,” kata Yenny ditemui di rumahnya di Solo Baru seektor 3, kompleks Maisonete IB-27 lalu.

Keinginan untuk terjun di dunia fashion memang tidak secepat yang lainnya. “ Beberapa orang beruntung ketika mereka sudah tahu apa keinginana mereka dan langsung terjun di bisnis yang mereka cintai itu sedang saya tidak secepat itu,”katanya. Bahkan setelah lulus kuliah, Yenny sempat bekerja yang tidak sesuai bidangnya di Jakarta dan Bali. Sampai akhirnya pertemuannya dengan Pak Bagong membuatnya semakin yakin untuk memilih berhenti dari pekerjaanya dan terjun ke bisnis yang selama ini ia senangi.

“Awalnya susah, sebab saya belajar secara otodidak. Tapi saya terbilang beruntung karena saya bertemu dengan orang-orang yang dengan senang hati berbagi info. Seperti ketika saya belajar di Bali dan bertemu dengan Pak Bagong. Beliau dengan terbuka mengajariku teknik menjahit, posisi benang, pemilihan kain dan sebagainya,” jelas Yenny

Dan setelah lama belajar, Yenny akhirnya menemukan passion barunya di dunia desain yang lebih mengarah pada gaun malam dan gaun pernikahan. “ Saya suka gaun bridal karena dari dulu saya suka dengan detail. Dan kalau boleh dibelah, mungkin di otak saya ada banyak jarum nya dimana–mana,” canda Yenny sembari tertawa renyah.

Belajar otodidak ikuti insting
Bila ditanya bagaimana seorang Yenny sampai bisa membuat gaun seindah itu, dia hanya menjawab pakai insting. “Kita jangan hanya melakukan sesuatu pakai teori saja. Karena meski teknik yang digunakan sama namun bila dikerjakan oleh orang yang berbeda maka hasilnya akan berbeda pula. Dan itulah yang dinamakan insting. Dan sampai saat ini meski sudah bisa menghasilkan karya namun saya tidak pernah berhenti untuk belajar. Sebab jika tidak maka kita akan kalah dari mereka yang lebih kreatif,” jelasnya.

Yenny sendiri mulai memfokuskan diri dalam bisnis gaun pengantin ini pada tahun 2013 silam dengan menggunakan sistem penjualan online. Sebab dengan menggunakan sistem ini bisa menjaring klien dari luar kota dan luar wilayah seperti Jakarta, Bali dan lainnya.

Dan untuk modal, papar wanita berperawakan putih ini mengaku bermodalkan dengkul. “Modal saya itu cuma modal dengkul dan doa. Dari hasil kerjaku sebelumnya saya mulai usaha kecil – kecilan. Dan sedikit demi sedikit hasil yang diperoleh saya tabung,”ujarnya.

Dan memang dari awal dengan modal nekat dan doa, Yenny mulai menjalankan bisnisnya. Terus menerus hingga mampu berkembang sampai saat ini.

Bila berbicara mengenai keunikan dari gaun buatannya dengan yang lain, Yenny berani detail dan menjaga kualitas dari bahan dan juga hasil karyanya. Bahkan bila gaun yang dibuatnya itu diwajibkan untuk handmade maka bisa dia kerjakan.

“Saya selalu berprinsip ada harga ada rupa. Jadi berapapun harga yang klien keluarkan maka akan sesuai dengan hasil yang mereka terima. Misalnya bila klien minta swarovski yang asli maka kami akan berikan yang asli. Sebab yang kami jual jasa maka pelayanan yang terbaik itu perlu,”imbuhnya.

Yenny juga selalu menekankan pada asistennya dalam mengerjakan gaun untuk selalu detail dan mampu membedakan barang yang asli dengan yang palsu. “Meski saya terkesan cerewet tapi karena kebiasanya maka asisten saya sudah bisa membedakan mana swarovski yang asli atau bukan, mana payetan yang bagus atau bukan dan mana jahitan yang rapi dan tidak,”kata Istri dari Erik ini menjelaskan.

Lebih bidik Jakarta ketimbang Solo
Jika melihat pergerakan bisnis yang berkembang saat ini, Yenny lebih memilih untuk membidikkan bisnisnya di Jakarta. Alasannya kebanyakan orang Solo lebih menyukai pakaian yang murah tapi bagus. Dan inilah yang memberatkan Yenny yang notabene selalu mementingkan kualitas. Sedangkan dirinya melihat pangsa di Jakarta justru lebih menjanjikan.” Impian saya kan bukan cuma bisa terkenal di Solo saja, namun bisa melebarkan sayap sampai go internasional,” pungkas penyuka western food ini.

Dalam analisis pasar yang dia pelajari, Yenny membagi masyarakat Solo dalam 2 golongan. Pertama mereka yang memiliki budget besar biasanya memilih desainer dari Jakarta sedangkan mereka yang budgetnya sedikit lebih memilih membeli gaun yang murah. Dan dengan alasan itulah Yenny lebih memilih Ibukota Indonesia sebagai marketnya.

Lebih suka bertemu klien secara langsung
Yenny Lee BKebanyakan orang biasanya mempercayakan asisten untuk menggantikannya bertemu dengan klien. Namun tidak dngan Yenny. Dirinya justru mengharuskan diri bertemu langsung dengan klien tanpa adanya asisten.

Sebab dengan bertemu secara langsung maka dirinya bisa melihat kepribadian dari calon pembelinya. Apakah dia feminim, atau tomboy. Apakah dia suka dengan sesuatu yang simpel atau terkesan meriah dan sebagainya.

“Kalau tidak bertemu langsung rasanya beda. Dan saya pernah mencobanya dulu. Selama 1 bulan saya meminta asisten saya untuk bertemu dengan klien mewakili saya. Padahal asisten saya itu sudah berpengalaman lama dan tahu apa kemaun saya. Tapi begitu melihat hasilnya, ternyata berbeda. Oleh karena itu sampai sekarang saya lebih memilih menemui klien saya secara langsung,” paparnya. Meski diakui Yenny, untuk membaca karakter orang terbilang sulit. Dan sesekali dirinya juga pernah salah membaca karakter orang.

Dan berbicara tentang projek kedepannya, Yenny ingin belajar lebih banyak lagi sehingga pengetahuannya akan fashion semakin meningkat. “Perkembangan fashion itu terus berjalan. Maka dari itu kita harus belajar dan belajar. Agar semakin meningkatkan skill dan kemampuan juga tidak kalah dari mereka yang lebih berpengalaman atau mereka yang lebih kreatif,” imbuh Yenny. – ambar

Data diri:
Yenny Lee
Balikpapan, 18 Agustus 1982
Pekerjaan: Desainer

Keluarga:
Suami : Erik

Pendidikan:
SD Santo Theresia Balikpapan
SMP Santo Mikail
SMA Santa Maria Suarabaya
S1 Petra Surabaya jurusan Komunikasi

Lain-lain:
Hobi: makan, tidur, dan nonton
Makanan favorit: western food


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger