Ani Maryanti, General Manager Hotel yang suka tantangan

Solo – Pekerjaan yang dilandasi dengan rasa senang dan suka menjadi dasar seseorang untuk terus terjun ke dalamnya, tidak peduli seberapa berat yang harus dijalani. Sebab sebuah pekerjaan bukanlah dilakukan satu atau 2 hari saja namun bisa berminggu – minggu bahkan bertahun–tahun.

Hal yang sama berlaku pula bagi Ani Maryanti. Wanita yang kini menjabat sebagai General Manager Aziza Hotel ini memang sudah menjadikan pekerjaanya ini sebagai jalan hidupnya. Tekadnya untuk fokus di dunia pelayanan ini sudah terlihat sejak dirinya mulai duduk di bangku kuliah.

“Saat lulus SMA saya disuruh untuk memilih jurusan kuliah yang saya inginkan. Dan karena saya tidak pinter Mipa seperti biologi dan lainnya, akhirnya saya berpikir mengapa tidak berada di jurusan pariwisata,” kata dia ditemui di kantornya di Aziza Hotel.

Ani melihat dunia pariwisata terutama hotel adalah dunia yang sangat menyenangkan dimana bisa berhubungan dan berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, bisa memberikan pelayanan kepada orang, dan selalu tersenyum menjadi dasar kuat bagi wanita berhijab ini untuk memutuskan terjun di perhotelan.

“Saya berfikir bila perhotelan itukan modalnya bisa membawa diri dengan baik, bersikap dengan baik dan memberikan pelayanan yang terbaik. Dan saya melihat apa yang dipelajari di perhotelan juga kita pelajari di dunia nyata sehingga tidak sesulit yang dibayangkan,” ungkapnya.

Meski menyukai dunia perhotelan, nampak nya keberuntungan belum berpihak padanya. Sebab selepasnya lulus, Ani justru mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan Kargo di Jogjakarta. Perusahaan yang dia dapatkan itu jauh berbeda dibandingkan perhotelan. Meski sama–sama pelayanan namun perusahaan dimana dia bekerja bisa dikatakan 100 persen bisnis, yang mengharuskan dirinya bekerja berpacu dengan waktu.

Ani B“Kalau kerja di kargo itu yang kami kejar waktu. Dimana bila tidak tepat waktu dikirim maka komplain akan masuk. Dan paling bahkan bisa dimarahi oleh klien bila telat follow up. Sehingga disana saya bekerja bagaimana memanage uangn dan barang dari klien dengan pelayanan yang kami berikan,” pungkasnya.

Tak begitu lama memang Ani bekerja di Kargo, sampai ketika dirinya mencoba melamar pekerjaan diperhotelan. Dan seperti membuka jalannya, akhirnya wanita yang suka makanan gorengan itu mendapatkan pekerjaan sebagai sales di hotel Seraton Solo. Dan kemudian hijrah ke Jogja, kemudian kembali lagi ke Solo untuk bekerja di Lor In Hotel Solo.

Lama disana, Ani memutuskan untuk kembali lagi ke Jogja untuk mengurus hotel yang lebih kecil. “Kalau di Lor in kan kamarnya banyak, maka dari itu saya mau refreshing dan memilih menjadi manager hotel bintang 2 di Jogja,” paparnya.

Tak lama kemudian, Ani mendengar adanya lowongan pekerjaan sebagai General Manager di Aziza Hotel. “Saya waktu kebetulan memang berkeinginan untuk berhijab. Dan pas waktu itu ada lowongan pekerjaan di hotel syariah. Segera saya coba dan alhamudulillah diterima,” kata Ani. Dan tepat pada Desember 2014, Ani terpilih sebagai General Manager Hotel Aziza Solo.

Selepasnya terpilih, ternyata itu menjadi tantangan terbaru bagi Ani. Bagaimana tidak, kala itu ketika dirinya mulai menghandle Aziza Hotel, dirinya melihat jika hotel yang terletak di kawasan Pasar Kliwon ini tidak banyak dikenal masyarakat.

Apalagi predikat hotel syariah kala itu dianggap sebagai hotel yang tertutup dan menyeramkan bagi masyarakat umum. Namun hal itu justru menjadi penyemangat bagi  Ani untuk menjadikan hotel Aziza lebih dikenal dan akhirnya menjadi tujuan penginapan yang berlandaskan syariah.

“Segera saya bersama tim mulai melakukan strategi. Cara dengan merangkul media yang mana sebelumnya bahkan mediapun tidak banyak yang tahu. Kemudian kami juga merangkul masyarakat dengan merubah pandangan mereka terhadap hotel syariah,” ujarnya.

Cara terbaik untuk mengenalkan hotel dengan cepat adalah memanfaatkan media digital. Ani melihat jika saat ini tren masyarakat lebih banyak mencari informasi melalui online. Bukan Cuma itu saja, dirinya juga berkoordinasi dengan tim untuk melakukan perubahan untuk bisa menjadikan Aziza Hotel sebagai hotel syariah terbaik.

“Awal saya bekerja disini, hotel sendiri sudah syariah, namun karena belum banyak orang yang tahu maka kebanyakan dari mereka menjaga jarak dari kami. Untuk itu saya mulai mencoba untuk membuka tirai dan membuktikan bahwa hotel kami lebih friendly bukan saja terhadap tamu muslim namun semua tamu yang mengunap,” paparnya.

Ani justru ingin menunjukkan bahwa hotel yang menggunakan sistem syariah itu justru lebih terjaga keamanannya. Ini bisa dilihat dari aturan yang diterapkan dimana bagi mereka yang menginap berpasangan diharuskan yang bersuami istri, kemudian tamu yang hendak menginap juga tidak diperbolehkan membawa minuman keras ataupun kartu domino.

“Peraturan berlandaskan syariah ini memberikan keamanan lebih bagi keluarga. Sehingga bila suami yang menginap di hotel syariah, sudah pasti tidak mungkin membawa pasangan di luar nikah, selain itu kami juga melarang tamu yang mabuk sehingga terjaga keamanan dan kenyaman dari tamu terlebih mereka yang berkeluarga yang menginap,” ujar dia.

Meski strategi yang dilakukannyab itu belum 100 persen berhasil namun Ani melihat jika saat ini hotel dengan gaya syariah sudah mulai dilirik tak hanya tamu namun juga para investor. Namun itu justru semakin memberikan motivasi bagi wanita cantik ini untuk terus berkreasi dan berinovasi untuk melakukan perubahan.

“Kalau hambatan sudah pasti sering ditemui. Namun saya selalu melihat hambatan itu bukan halangan dalam mencapai kesuksesan melainkan justru peluang bagus bagi mereka yang mau berfikir secara positif. Mungkin belum semua orang bisa menerima hotel yang berlandaskan syariah atau saya yang berhijab namun saya yakin bisa merubah pendangan itu sedikit demi sedikit,” pungkasnya.

Ani juga selalu menekankan karyawannya untuk menjadikan pekerjaan itu sebagai ibadah. Sehingga dalam pengerjaanya itu berasal dari hati “Saya selalu menekankan pada mereka untuk selalu rajin dan pantang menyerah. Bila satu proyek gagal maka ganti dengan yang lain.Dan jangan pernah berputus asa melainkan menjadikan kesulitan mereka itu sebagai tantangan untuk lebih kreatif dan inovatif,” kata dia.

Dan berbicara mengenai strategi Ani menghadapi perkonomian yang lesu. Dirinya bersama dengan tim selalu melihat pasar sebelum bertindak. “Kita harus jeli melihat pasar. Apa yang tengah menjadi tren market, wilayah mana yang tengah ramai dan sebagainya. Dan bila sudah dapat memahami pasar dan market baru disusun strateginya,” jelasnya.

Ani menyadari bila persaingan hotel berlandaskan syariah itu tidaklah mudah. Apalagi marketnya juga terbatas, namun demikian dirinya tetap yakin bisa bertahan apalagi dengan perubahan pola pikir masyarakat akan hotel syariah.

Diakhir pertemuan kami, saya sempat bertanya apa keinginan Ani kedepannya saat dirinya sudah tidak bekerja di Hotel. Wanita 2 anak ini mengaku ingin membuka bisnis butik sendiri. “Saya berniat untuk membuka bisnis sendiri namun masih berbau syariah, misalnya butik,” celotehnya. – ambar

Data diri:
Ani Maryanti
General Manager Hotel aziza
Jogja, 5 maret 1973

Keluarga:
Suami : Achmad Mustofa
Anak : Kiki dan Astrid

Pendidikan:
SMPN 1 Jogja
SMAN 9 Jogja
D4 STP AMTA jurusan perhotelan Jogja

Lain-lain:
Makanan kesukaan:: cumi goreng, healthy food
Hobi : baca buku religi dan majalah bisnis
Tempat favorit : pantai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger