Hartoyo Si Petualang, Kini GM Grand Amira Hotel

Solo – Usainya memang masih terbilang muda bila dibandingkan dengan general manager perhotelan lainnya yang rata – rata berusia 40 tahun. Bahkan bila dilhat dari penampilannya, masih terlihat seperti anak mudah, namun siapa sangka bila Hartoyo yang kini baru berusia 35 tahun sudah mendapatkan tugas untuk memimpin Grand Amira Hotel sebagai General Manager.

Jika menilik lebih dalam mengenai ayah 4 anak ini, memang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam mengolah bisnis perhotelan. Apalagi kedua kakaknya juga bekerja sebagai executive chef di hotel berbintang di Semarang, membuatnya tak asing dalam dunia pelayanan ini.

Langkah pertama Hartoyo menginjak dunia perhotelan bermula ketika dirinya mengikuti kegiatan training dari SMKN 3 Klaten dengan  Ibis Malioboro Hotel. Dan berkat usaha kerasnya akhirnya, penyuka bubur Manado ini ditarik untuk bekerja disana setelah lulus selama 1 tahun atau tepatnya pada tahun 2000.

Kemudian pada tahun 2003 Hartoyo memutuskan untuk merantau dengan sang kakak di Sulawesi Utara tepatnya di Manado. Saat itu dirinya memutuskan untuk membuat usaha restoran keluarga namun tak berlangsung lama, sebab sang kakak yang juga ikut dalam bisnis itu memutuskan untuk kembali bekerja di hotel.

“Saat itu saya juga akhirnya bekerja di sebuah hotel resort bintang 5 selama kurun waktu 2 -3 tahun. Lalu pindah lagi ke wilayah kota di Hotel Quality bintang 4 sekitar 2 tahun. “Alasan saya memilih untuk bekerja di Manado itu dikarenakan masyarakat di sana sangat ramah dan terbuka. Selain itu karena kebanyakan dari mereka keturunan Portugis jadi jiwanya sudah seperti barat yang bebas tapi sangat sopan,” jelas Hartoyo.

Lama berada di Manado, Hartoyo memutuskan untuk pindah ke Bali di Singaraja Resort dengan jabatan sebagai pre opening room staf manager, kemudian ke Jawa Timur sampai akhirnya pindah ke Grand Amira Solo dengan bergabung di Azana Management.

Malang melintang dari satu hotel ke hotel lain bagi Hartoyo menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Dirinya melihat jika dunia perhotelan itu adalah dunia yang dinamis. “ Karena saya bekerja di bidang room division, saya suka menghandle tamu , bertemu dengan tamu , mencari relasi yang baru, membuat tamu yang tinggal dalam waktu lama( stay) di hotel merasa senang, bisa membuat memorable stay bagi tamu yang menginap menjadi kepuasan tersendiri bagi saya,” ujar dia waktu

Dan karena sifatnya yang suka akan petualangan dan tantangan membuatnya sering berpindah dari satu hotel ke hotel lainnya. “ Saya jelas cari pengalaman selain itu saya tidak pernah ingin berlama – lama comform zone. Sedari dulu memang saya sudah suka dengan petualang .Dimana menjadikan hotel yang tidak terlalu dikenal masyarakat menjadi lebih dikenal dengan apa yang mereka miliki,” kata pria yang hobi bersepak bola itu menjelaskan.

Solo itu sebuah tantangan
IMG_2342Berbicara mengenai kota Solo, Hartoyo mengatakan bila kota batik ini memang sudah lama dikenal dengan kulinernya. “ Menurut dari pengamatan saya selama ini, Solo memang dikenal dengan kuliner dan juga micenya yang besar. Dimana bisa berasal dari berbagai penjuru wilayah seperti Jakarta, Surabaya, Semarang , Jogja dan sebagainya. Namun untuk urusan wisata meski sudahs ering diadakan namun terbilang kurang dibandingkan lainnya,” tukasnya.

Namun dengan mice nya itu menjadi lahan bagus bagi semua hotel yang bergerak di bidang mice. Buktinya di setiap hotel yang buka di Kota Solo sudah pasti menawarkan meeting roomnya dengan segala fasilitas di dalamnya dan belum lagi persaingan dengan hotel yang sudah lama berdiri.

Persaingan semacam itu tentu menjadi tantangan bagi dirinya, apalagi Grand Amira hanya memiliki meeting room yang terbilang lebih kecil dibandingkan yang lainnya, otomatis membuatnya harus memutar strategi. “ Kalau persaingan antar kompetitor memang cukup berat apalagi lokasi kami yang berada di range 3 menjadi tantangan tersendiri. Untuk itulah kami memanfaatkan media digital online dengan market sekitar 50 persen,” jelasnya.

Dirinya juga menawarkan berbagai paket menarik, memaksimalkan pemasaran online, mencari strong market, mengambil goverment dalam jumlah yang kecil dimana belum di sentuh hotel lain ,dan menggandeng travel agent lokal. Dan hasilnya cukup menggembirakan. Meski baru maret lalu memimpin, Hartoyo sudah mampu meningkatkan okupansi hotel lebih dari 60 persen pada bulan Juni.

Latih sendiri skill karyawan
Sebagai seorang pemimpin, Hartoyo tidak mau berpangku tangan. Berbagai cara dilakukan untuk bisa meningkatkan okupansi hotel dan membuatnya semakin dikenal. Selain memberikan promo menarik, Hartoyo juga selalu menekankan pada segi pelayanan. Dan untuk itulah dirinya melatih sendiri skill dari para karyawannnya.

“Saya memiliki kelebihan bisa mengajar seseorang. Untuk itulah saya memberikan sendiri pelatihan peningkatan skill kepada bawahan saya. Apalagi kebanyakan dari mereka masih fresh graduate menjadi PR tersendiri bagi saya. Harapannya tentu agar mereka bisa melayani tamu hotel dengan baik dan membuat konsumen menjadi betah dan kembali lagi kemari,” pukasnya.

Berbicara mengenai perekonomian Solo yang naik turun, Haryono mengaku selalu melihat pasar. Bagaimana harga yang tengah ditawarkan dari masiing – masing kompetitor, periodek low – high season dan sebagainya. Ini menjadi cara terbaik untuk bisa bertahan dan bahkan berkembang terlebih untuk hotel yang masih terbilang baru. – ambar

Data diri:
Hartoyo
General Manager Grand Amira Solo
8 Februari 1981

Pendidikan:
SDN 2 Delanggu
SMPN 2 Delanggu
SMKN 3 Klaten
D3 Politeknik Manado jurusan Pariwisata

Keluarga:
Istri : Mei Diah Permatasari
Anak : Wisnu Akbar Utomo, Nadine Eliska Ayu Pramesti, Sekar Ayu Clalovena Svity, dan Queen Jasmine Kartika Ayu

Lain-lain:
Hobi : travelling dan sepak bola
Tempat favorit : denpasar
Makanan kesukaan Bubur Manado dan Ikan Woku Manado

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger