Bella Quarta: “Difabel merubah hidup saya”

IMG_8817

Solo  – Maria Tri Sulistyani seorang Penggiat Seni ketika mengadakan pertunjukan Papermoon Puppet Theatre pernah berkata “Perempuan hebat adalah perempuan yang bisa menentukan apa yang dia mau, memperjuangkannya dan menjalani semua konsekuensinya.

Untuk menjadi seorang perempuan yang hebat, bisa dimulai dengan menghargai diri sendiri dan memahami bahwa setiap orang lahir dengan talenta yang berbeda satu sama lain. Ia juga sadar bahwa setiap orang berhak mengembangkan talenta masing-masing, termasuk diri kita.”. Jika menengok apa yang dikatakan Maria terkait hakekat seorang perempuan tidak salah jika kita menyebutkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk tetap bisa berkarya meski telah berstatus sebagai seorang istri dan ibu, juga bisa tetap berguna bagi banyak orang.

Hal yang sama juga berlaku pada wanita berusia 34 tahun ini. Bella Quarta memang sudah lama dikenal sebagai sosok perempuan yang tangguh. Bagaimana tidak kekegagalan karir dan juga kehidupan pribadinya tak pernah mematahkan niatnya untuk tetap berjuang menolong banyak orang.

Usaha kuliner di Kota Solo menjadi rintisan awal dirinya di dunia bisnis. “Awalnya ramai banyak pembeli yang datang namun lama kelamaan semakin berkurang dan akhirnya terpaksa harus bangkrut,” kata wanita cantik ini. Kerugian yang dialaminya ini ternyata cukup besar,mulai dari mobil, tabungan dan beberapa perhiasan sampai harus dijual demi untuk menutupi hutangnya. “ Saya pernah sampai 3 hari berada di jalanan sampai menemukan rumah kontrakan kecil,” katanya.

Dan ketika mendapatkan rumah kontrakan, itupun bukan sesuai keinginan. Tak memiliki apapun baik pekerjaan dan uang yang semakin menipis,membuat wanita cantik mencoba untuk memutar otak. Jalan satu – satunya yang dia miliki adalah dengan mencoba peruntungannya menjahit. Bersama dengan sang suami, Bella mulai membuat celana kolor sebagai produk pertamanya. “Pertama kali saya coba – coba buat celana kolor, dan menjualnya di pasar klewer. Dan sedikit demi sedikit mulai ada orang yang melirik. Apalagi jahitan yang saya buat cukup rapi sehingga di sukai,” tuturnya.

Usaha yang dia jalani dari hari ke hari dan bulan ke bulan itu mulai menunjukkan hasil. Dan mulailah dirinya mencoba untuk membuat gaun, kebaya hingga pada akhirnya memberanikan diri untuk membuat kostum. “ Saya sama sekali tidak memiliki basic untuk menjahit dan bahkan membuat kostum. Bahkan pertama kali saya menjahit itu diajari suami saya,” paparnya.

IMG_8809

Bella bahkan ingat kostum pertama yang dia buat. “ Pertama kali saya buat kostum dari seri naruto dan itupun untuk tambahan bajunya masih dilem bukan dijahit. tapi ternyata mereka suka dan berkembanglah bisnis kostum saya sampai berkembang dimana – mana,” katanya.

Puncaknya, ia sampai memiliki 16 karyawan dengan omzet mencapai Rp 50 juta perbulan. Tapi entah kenapa itu tidak pernah memuaskan hatinya. Dan segalanya berubah satu persatu pekerjanya keluar dari usahanya itu dan hanya menyisakan dua orang. Sepinya pembeli dan juga lemahhnya pemasaran kala itu membuat omzetnya otomatis menurun drastis.

Tak ingin terpuruk, Bella memutuskan membuka lowongan pekerjaan di sebuah media massa di Solo untuk menambah pekerja. Keesokan harinya, saat waktu masih menunjukkkan pukul 07.00 WIB ada seorang difabel dari Boyolali yang ingin bekerja di usahanya. Difabel perempuan itu tuna rungu dan tuna wicara. Saat itu, difabel tersebut bercerita mengapa mencari pekerjaan hingga ke Solo.” Dia bercerita dengan menggunakan kertas, bagaimana dirinya dikucilkan dari pekerjaannya terdahulu ternyata mengubah pemikiran saya. Segera saya pekerjaan dia di My jella.” kata wanita yang tinggal di di Perumahan Rakyat Kabangan Nomor 10 RT 001/RW 005, Sondakan, Laweyan.

Tapi itu hanya berlangsung 4 hari saja. Dan pekerja itupun memutuskan untuk mengundurkan diri karena dilarang orang tuanya untuk bekerja dengan alasan rumahnya yang terlalu jauh. Pertemuannya itu entah kenapa membuat Bella berfikir untuk mencoba mempekerjaan orang – orang difabel.

“Dan akhirnya saya pun berfikir bagaimana tidak mempekerjakan difabel. Segera saya ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat [YPAC] untuk mencari pekerja yang mau bekerja di tempat saya, namun saya diarahkan ke Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa [BBRSBD] Prof Dr Soeharso Solo. dan disitulah ia menemukan 8 pekerja saya itu,” kata wanita berkulit putih itu.

Memang cukup sulit awalnya untuk mengajari mereka cara membuat kostum. Butuh 3 bulan sampai mereka benar – benar bisa bekerja dengan baik. Mereka juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal, makan 3 kali sehari dan kebutuhan lainnya. “ Memang benar kebutuhan mereka cukup besar apalagi dengan usaha saya yang tidak seramai dulu namun entah kenapa hal itu justru menyenangkan bagi saya. Bisa berdiskusi bersama, berbincang – bincang, dan menceritakan banyak hal dengan mereka memberikan kepuasan batin bagi saya,”jelasnya.

Sayang tidak semua orang menyukai cara berfikirnya. Bella bahkan dianggap hanya melakukan pencitraan dan dimusuhi oleh teman – temannya. Namun hal ini tak menghentikan niatnya untuk menolong banyak orang.

Bella mengatakan Kepuasan itu memang tidak bisa diukur dengan materi dan itu benar – benar ia rasakan sekarang. Keinginannya saat ini ingin lebih banyak lagi mempekerjakan lebih banyak orang difabel dan menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka bisa berkarya dan bahkan lebih baik dibandingkan mereka yang normal.

Disegani pecinta kostum
Dan kini, siapa yang tidak mengenal My Jella milik Bella Quarta. Keahlian tangannya dalam mengolah dan mengkreasikan pakaian membuatnya kini semakin laris manis di Pasaran.

Bahkan dunia bisnis online nama My Jella sudah terkenal sampai Singapura. Apalagi di mata para pecinta kostum Jepang atau biasa disebut kosplayer, kemampuan wanita yang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Hampir semua pakaian dari berbagai tokoh baik dalam superhero maupun anime mampu dibuatnya dengan baik.

Semua orang mengakui kemampuan wanita berperawakan putih ini memang dikenal rapi dan juga pintar dalam memilih bahan. Dan meski dipatok dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan penjahit kostum lainnya, tak ada yang mengeluh sebab mereka yakin jika hasil karya yang dibuat Jella tidak akan membuat kecewa.

Kini namanya semakin menjulang, apalagi semenjak dirinya wara – wiri mengikuti ajang fashion show membuatnnya semakin disegani sebagai salah satu desainer handal kota Solo. Dan saat ditanya mengenai pengaruh penurunan perekonomian di Indonesia beberapa tahun ini, Bella mengaku tidak terlalu terpengaruh, sebab meski perekonomian turun, namun kebutuhan akan pakaian akan selalu sama sebab masyarakat akan selalu membutuhkan.

“Jalan terbaik untuk bisa bertahan dan bahkan berkembang ditengah ekonomi saat ini adalah dengan terus menelurkan karya terbaik, kreatif dan juga inovatif. Dan jangan takut untuk mencoba dan berusaha, jika gagal maka coba lagi. Kita tidak pernah tahu jalan mana yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan bila tidak mencoba,” imbuhnya. – ambar


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger