MSU Adji, General Manager Pose In, Capai Sukses dari Bawah

MSU Adji

Solo – Pertemuan saya dengan Muhamad Soleh Udin Adji di Hotel Suka Tentrem lalu memberikan pandangan baru bagi sangat mengenai dunia perhotelan. Pembawaannya yang sederhana dan ramah tak memperlihatkan jika dirinya seorang General Manager Pose In.

Namun ketika berbincang lebih jauh pada ayah 2 anak ini, membuat saya terkagum. Bagaimana perjalanan karir yang ‘tersesat ‘ di dunia perhotelan menjadi sebuah cerita yang menarik.

Lika – liku kehidupan dan kerja keras memang sudah menjadi makanan sehari – hari bagi Adji. Bagaimana ketika dirinya masih kecil sudah mengenal yang namanya bekerja, menjelajahi Kota Solo dengan sepeda kesayangannya demi mendapatkan secuil rejeki pernah dirasakannya.

Cita – citanya yang ingin menjadi seorang insinyur harus rela dikubur dalam – dalam dikarenakan ekonomi keluarga yang tidak mencukupi. Dan saat Adji kehilangan impian yang diharapkannya, dia memutuskan untuk masuk ke lembaga diklat 1 tahun jurusan perhotelan selepasnya lulus SMA.

“Waktu itu saya mencari sebuah lembaga pendidikan yang memiliki prospek yang panjang. Dan kala itu bidang perhotelan menjadi bidang yang menjanjikan,” kata dia.

Meski demikian, Adji merasa dirinya tersesat berada di bidang perhotelan. Alasannya terbilang cukup masuk akal sebab dirinya sekali tidak tahu apa itu bisnis perhotelan. Seolah tidak ada gambaran mengenai bisnis pelayanan ini. “ Saat saya masuk jurusan perhotelan saya sama sekali tidak tahu apa itu hotel dan merasa salah arah,” jelasnya.Namun nyatanya pekerjaan yang tidak dia mengerti itulah yang justru menjadi penghidupannya dan bahkan mengubah jalan suksesnya.

Tak butuh waktu lama bagi adji untuk mendapatkan pekerjaan di bidang itu. Sebab belum 6 bulan dirinya belajar di lembaga diklat sudah ditarik untuk bekerja di Hotel. Dan tepat pada tahun 1991 penyuka makanan jawa ini bekerja di Hotel Riyadi Palace.

21 tahun mengabdi di 1 hotel
Tak seperti pekerja hotel lainnya yang biasanya bekerja dari satu hotel ke hotel lain demi mendapatkan pengalaman baru. Adji terbilang sangat setia bekerja di satu tempat.

21 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang bertahan di satu tempat terlebih lagi bisnis perhotelan. Dan karir yang dijalaninya benar – benar dia rasakan dari bawah. Mulai dari seorang waiter, room boy, resepsionis, supervisor sampai asisten GM dia dapatkan.

“Saya bukanlah orang yang sangat ambisius dalam pekerjaan. Bagi saya yang terpenting adalah melaksanakan tanggung jawab dengan baik dan bagaimana amanah yang diberikan oleh pimpinan itu bisa dijalankan dengan baik menjadi tujuan saya,” ungkap dia.

Adji justru merasa, perjalanan karirnya yang dia mulai dari bawah itu justru memberinya banyak pelajaran hidup.” Saya jadi belajar bagaimana menjadi seorang waiter yang baik dimana dia harus melayani kebutuhan tamu, bagaimana menjadi room boy yang membersihakn kamar, dan itu justru menjadi cara saya untuk belajar dan membuat saya paham mengenai apa itu bisnis hotel,” kata pria yang hobi travelling itu menjelaskan.

Dan selepasnya bekerja selama 21 tahun di Hotel Riyadi Palace, Adjie sempat pindah ke Kalimantan namun tak bertahan lama, hingga pada 17 mei 2012, dirinya mendapatkan kepercayaan menjadi General Manager Pose In sampai sekarang.

Bisnis hotel itu seperti mata koin
Malang melintang di dunia perhotelan, membuat Adji mengibaratkannya sebagai sebuah koin. Dimana bisnis ini bisa menyenangkan namun juga ada hal yang dianggap tidak menyenangkan.

”Kita inikan bergerak di bidang jasa dimana kita menjual jasa yang kita punya. Maka dari itu bila kita memiliki 100 kamar dengan target okupansi 50 persen dan dikalikan dengan 1 tahun maka kita sudah dipastikan kita bertemu dengan ribuan orang hanya dalam waktu 1 tahun. Dimana ada yang karakternya santai namun juga ada pula yang rewel. Namun justru itu lah yang menjadikan bisnis ini menarik,” jelas Adji. Baginya menghadapi setiap orang yang berbeda dengan permasalahan yang berbeda dan tuntutan yang berbeda justru menjadikan sebuah kesenangan baginya.

Selain sisi menarik, ada pula sisi yang bisa dikatakan sedikit tidak menyenangkan. Misalnya mengenai keluhan. Dan bagi mereka yang bergerak di bidang perhotelan diibaratkan sebagai sebuah hantu yang menakutkan.

“Bagi saya komplain atau keluhan justru menjadi hal yang penting dalam bisnis. Sebab itu bisa menjadi pengingat dalam upaya meningkatkan bisnis. Dan justru bila tidak ada komplain malah justru harus dipertanyakan. Apa jangan – jalan komplain itu di buang di tempat sampah atau bagaiman,” komentar lulusan SMAN 1 Sukoharjo.

Sisi menarik bisnis hotel di Solo
MSU AdjiAKalau berbicara mengenai perkembangan perhotelan di Solo, Adji melihat ada sesuatu yang menarik. Dimana satu sisi perkembangannya sulit tapi di sisi lain banyak investor yang terus datang. Bahkan Adji menemukan fakta bila dalam 5 tahun belakangan, bisnis perhotelan tidak pernah mengalami satu persenpun kenaikan okupansi.” Bukan karena jumlah tamunya yang semakin berkurang, namun pertumbuhan hotelnya lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumennya membuat bisnis ini berhenti ditempat.

Dan menjadi satu tannggung jawab yang besar, bagaimana bisa bertahan ditengah persaingan yang terbilang keras ini dan bahkan mampu tetap eksis.

“Rata – rata ocupansi di Solo kurang dari 50 % dan kalau diibaratkan dalam peperangan sudah berdarah –darah. Namun sebagai pelaku usaha kita harus mampu mengambil sisi positifnya dimana kita harus terus bergerak, sebab bila hanya diam maka bisnis ini akan semakin terpuruk,” katanya.

Cara terbaik yang dilakukan Adji saat ini adalah dengan membangun tim yang kuat yang mampu bertahan dan juga bisa kompak dalam menghadapi persaingan pasar.” Bagi kami karyawan itu menjadi satu bagian yang paling penting dimana mereka harus mampu bersinergi dengan tuntutan produk, keinginan konsumen juga harus mampu karakter yang kuat,” jelasnya.

Dan meski kini Adji masih setia menekuni pekerjaanya, dirinya juga memiliki keinginan untuk bisa memiliki usaha sendiri. “ Saya berencana bisa membuka travel agent sendiri namun akan dikemas dengan cara yang berbeda. Dan saat ini sudah dalam rancangan,”imbuhnya.

Data diri:
MSU Adji
Sukoharjo 15 november 1970

Keluarga:
Istri : Sri Padmayani
Anak : Anindya Difa Novita Sari dan Aldian Rizal Aji P

Pendidikan:
Madrasah Ibtidaiyah Walisongo
SMPN 1 Bendosari
SMAN 1 Sukoharjo
S1 Uniba Jurusan Ekonomi Akutansi
S2 UMS program MM Konsentrasi Marketing

Lain-lain:
Hobi: Travelling
Makanan Kesukaan: Makanan Jawa

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger