Nunik Sulistiyani, si Pekerja Sosial yang kembangkan Bisnis Lurik

Solo – Kesederhanaan dan keramahannya menjadi kesan pertama yang saya rasakan ketika bertemu dengan Nunik Sulistiyani. Usianya memang sudah terbilang tidak muda lagi, namun senyum yang selalu menghiasi wajahnya memberi kesan awet muda. Pertemuan saya dengan pemilik rumah usaha Talidani S113L ini mengantarkan saya pada sebuah jejak perjalanan seorang wanita yang mengubah derajat wanita dengan budaya.

Lahir pada 5 mei 1962, anak ke 5 dari 7 bersaudara ini memang sudah tidak asing dalam dunia seni terutama batik. Keluarganya yang memiliki usaha batik sejak tahun 1950an ini memang memang sudah dikenal masyarakat sebagai pengusaha kain. “ Sedari saya kecil kami sudah membantu orang tua dalam memproduksi batik.Entah itu membantu memajang kain, mensetrika kain, dan sebagainya. Sehingga kami bertujuh sudah terbiasa dengan bisnis ini,” kata wanita yang akrab disapa Nunik.

Meski keras dalam mendidik anak – anaknya, kedua orang tua Nunik termasuk orang yang dinamis sehingga semua anaknya mampu mengekspresikan diri dalam melakukan sesuatu. “ Kami diajarkan bagaimana bertanggung jawab baik pada hal – hal yang besar sampai pada sesuatu yang kecil sekalipun,” tukas dia.

Sayang, walau sudah menggeluti dunia batik sedari kecil tak ada satupun dari keluarga yang bisa meneruskan bisnis. “ Kedua kakak saya lebih memilih bekerja di luar negeri, kedua saudara yang lain berada di Bandung dan Medan, kakak pertama saya lebih ke mesin, kakak perempuan saya jadi ibu rumah tangga dan saya memilih bekerja sosial di LSM Gita Pertiwi. Sehingga sejak ayah saya meninggal 25 tahun silam, tidak ada satupun yang mampu meneruskan usaha keluarga,” jelasnya.

Geluti dunia lurik
25 tahun Nunik bekerja, hingga suatu ketika terjadi gempa di Yogyakarta sekitar tahun 2006 yang meluluh lantakan Seluruh wilayah pesisir selatan Jawa, dan juga berdampak besar pada wilayah Klaten. “ Ketika saya bersama dengan tim tiba disana tepatnya di kecamatan Cawas, saya melihat betapa hancurnya rumah mereka serta alat tenun yang rusak parah seolah sudah tidak lagi alasan,” paparnya.

Kecamatan Cawas memang sudah dikenal dengan industri tenunnya ini harus dihadapkan pada rusaknya alat dan rumah. Sehingga banyak dari mereka harus menghentikan produksinya. Apalagi beberapa dari mereka juga masig terlihat shok dengan apa yang terjadi membuat Nunik berfikir untuk melakukan sesuatu yang bisa membangkitkan mereka dari keterpurukan pasca gempa.

Tanpa keahlian mengenai kain tenun, Nunik nekat membantu mereka. “ Pertama kali susah sekali. Saya tidak punya keahlian dibidang tenun, bahkan rekan saya juga tidak ada yang punya keahlian di bidang itu tapi kami lebih pada motivasi. Apa yang kami lalukan kala itu adalah dengan melakukan recovery mental dimana menumbuhkan kembali semangat mereka yang diimbangi dengan modal. Dan modal yang kami berikan bukan uang melainkan peralatan untuk menyambung hidup,” kata ibu dua anak itu menjelaskan.

Dan butuh waktu lama sampai para pengrajin ini benar – benar bisa kembali memproduksi seperti semula. “ Butuh waktu lebih dari 3 tahun sampai mereka siap,” komentarnya.

IMG_2394

Saat itu, Nunik lebih memfokuskan pada wanita. Dimana jika sebelumnya mereka bekerja di tempat lain atau hanya sebagai karyawan, namun dengan program yang dilakukan Nunik, mereka diajari bagaimana berbisnis kain tenun. “Kalau bisa dikatakan, jika dulu mereka hanya sebagai pekerja, kini mereka bisa menjadi pengusaha,” kata wanita berperawakan kecil ini.

Perlahan namun pasti usaha yang Nunik dan rekannya lakukan mulai menunjukkan hasil. 12 desa yang masuk dalam kecamatan Cawas mulai memproduksi kain tenun. Meski demikian, penjualan mereka masih sebatas wilayah maupun kantor LSM saja.

Sampai kemudian 5 tahun lalu, Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Walikota Solo membuat sebuah gagasan kampung batik Laweyan. Dimana dalam satu kampung , akan menjadi pusat batik serta wisata budaya bagi wisatawan. “Saat ada program dari Pak Jokowi, saya berfikir kenapa tidak menghidupkan kembali usaha dari Ayah saya. Apalagi rumah keluarga saya ini berada di wilayah Laweyan ,” kata Nunik.

Dan ketika mulai mendirikannya, Nunik berfikir kenapa harus sama dengan yang lainnya, jika dirinya punya sesuatu yang baru yang bisa dikembangkan. “ Saya berfikir kalau saya memproduksi kain batik, sudah pasti kalah dengan yang lainnya. Maka dari itu kenapa tidak saya menjadikan kain lurik sebagai produk utamanya disamping kain batik sebagai tambahannya,” pikir Nunik.

Memang bukan tanpa alasan, Nunik memilih produk Lurik. Sebab selain ingin berbeda, juga dirinya memiliki banyak penenun yang berada di wilayah Cawas. “Kualitas yang mereka hasilkan tidak kalah dengan yang lain. Apalagi lurik yang diproduksi ini tanpa mesin sehingga bisa dikatakan lebih tradisional dan memberikan nilai lebih pada keragamannya,” pungkas wanita kelahiran kota Solo ini.

Bisa dikatakan, Talidani S113L menjadi rumah produksi kain lurik pertama di wilayah Laweyan dan menjadi rujukan utama bagi wisatawan yang tertarik untuk membeli kain lurik. Apalagi dengan motifnya yang beragama serta kualitas kainnya yang bagus membuat kain hasil produksi penenun dari Talidani ini bukan saja bisa disajikan kain jarik atau kain gendong saja. Namun juga bisa digunakan sebagai fashion busana,yang tentu dengan kualitas yang bagus.“ Saya selalu menekankan pada para penenun untuk terus melakukan inovasi dan kreasi baik itu dari segi bahan maupun dari segi motif,” ungkapnya.

Meski pekerjaan yang dia lakukan ini berat, apalagi harus mengurusin orang setiap harinya, Nunik tetap merasa senang. “ Tidak terlintas di pikiran saya, rasa capek atau bosan membantu orang. Sebab bagi saya ini menjadi cara saya untuk bisa berbagi dengan orang lain. Dan selama saya mampu maka saya akan selalu membantu mereka,” imbuhnya. – ambar

Data diri:
Nunik Sulistiyani
Solo, 5 mei 1962
Owner Talidani dan bekerja di LSM Gita Pertiwi Baturan
Nuniksulistiyani@yahoo.com
Setono Rt 003/ 002, Kampoeng Batik Laweyan Solo
081 2262 9251

Keluarga:
Suami : Danang Subagyo
Anak : Septa Anglistiya dan L. Liesanggia

Pendidikan:
SD Laweyan
SMPN 9 Surakarta
SMA Kristen 1
S1 UTP Jurusan Pertanian

Lain-lain:
Hobi : Main
Makanan kesukaan : apasaja

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme wordpress