Syamsul Hadi, sukses setelah berkali–kali gagal

Solo – Sukses bukan menjadi milik mereka yang memiliki modal besar namun sukses menjadi milik mereka yang memiliki tekad yang kuat untuk tidak menyerah dalam meraihnya. Jika ada orang yang mengatakan uang adalah segala – galanya dalam memulai bisnis, mungkin kamu harus menemui pria yang satu ini. Muhammad Syamsul Hadi, terlahir dari keluarga petani dan pedagang pakaian sederhana yang bermimpi menjadi seorang pengusaha sukses.“ Saya memulai bisnis saya itu dari nol. Bahkan modal yang saya gunakan adalah uang utangan, bukan miliki saya pribadi,”kata dia ditemui dikediamananya di kawasan Manahan Solo.

Gagal dan selalu gagal seolah sudah menjadi makanan sehari – hari baginya.” Saya menghabiskan waktu 5 tahun untuk mencari bisbis yang cocok dengan saya dan cocok untuk kritera yang sudah saya tetapkan. Dan sudah lebih dari 6 tahun terakhir saya berkecimpung di dunia properti setelah melalui proses yang sangat panjang,” jelas Syamsul.

Dan dari proses 5 tahun itulah Syamsul akhirnya menetapkan usaha yang sesuai cocok dengan segala suka dan dukanya.” Saya mulai pada tahun 2010 dengan memasarkan tanah kavling sampai kemudian mantap berbisnis perumahan pada tahun 2012 hingga saat ini,” papar ayah 2 anak ini. Untung yang lumayan besar serta tidak banyak menghabiskan waktu menjadi alasan baginya memilih usaha ini.

Berkali – kali gagal berbisnis
Sebelum meraih sukses seperti sekarang ini, berkali – kali Hadi harus dihadapkan pada kegagalan dalam berbisnis.” Setelah saya lulus kuliah pada tahun 2004 silam, saya mulai memiliki banyak ide untuk membuat bisnis. Mulai dari konter, warung makan, buat BMT sampai bisnis fotokopi pernah saya jalani. Tapi belum bisa berhasil sama sekali,” pungkasnya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis itu modal yang dia butuhkan tidak sedikit. “ Modal saya waktu itu dari hutang, Mulai dari koperasi, telkom, BPR dan sebagainya sudah menjadi tujuan saya untuk mendapatkan modal,” jelasnya.

Syamsul memang bisa dikatakan tidak pernah meminta bantuan dari kedua orang tuanya. Sebab dia sadar, jika kondisi ekonomi keluarganya yang pas – pasan membuat Hadi Syamsul memilih berhutang. “ Saya tidak mungkin meminta kedua orangtua saya untuk modal bisnis. Sebab bisa kuliah saja saya sudah beruntung. Bahkan dulu ketika daftar ulang untuk masuk ke universitas, ibu saya pernah meminta saya untuk tidak kuliah dikarenakan biayannya yang besar. Sampai beberapa hari kemudian dia mengurungkan niatnya dan meminta saya untuk lanjut berkuliah tak peduli biayanya dari mana,” kata Syamsul menjelaskan.

Sayang, dari 1 bisnis ke bisnis lainnya, dirinya selalu gagal dan gagal, hingga akhirnya Syamsul menetapkan kriteria dalam berbisnis. Total ada 4 kriteria yang dia tetapkan, diantaranya, cari usaha yang modal relatif kecil dibanding omset, keuntungan yang besar, resiko relatif kecil, dan waktunya yang dihabiskan tidaka lama. Dan bisnis properti menjadi jawabannya.

Syamsul bahkan membandingkan bisnis propertinya kini dengan bisnis fotokopi yang 2 tahun digeluti sebelumnya. “ Kalau bisnis fotokopi itu perbandingannya pertama, kita harus kehilangan uang untuk sewa tempat, biaya operasional selama 1 bulan untuk menjalankan usaha, biaya beli mesin dan resiko terjadi kerusakan mesin dimana bisa menghabiskan keuntungan yang dia peroleh selama 1 – 3 hari,” ungkapnya.

Selain itu jika dilihat dari keuntungan yang diperoleh, kedua bisnis ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Misal, pada bisnis properti modal awal Rp 25 juta dan keuntungan yang dihasilkan bisa 10 kali lipat atau bahkan 20 kali lipat. Sedangkan bisnis fotokopi dengan modal yang sama , dalam satu bulan dirinya hanya mendapatkan Rp 10 juta yang itupun belum biaya perbaikan mesin bila terjadi kerusakan.

“Kalau usaha fotokopi itu harus seharian disitu, sedangkan kavlingan tidak harus ditunggu. Dan fotokopi itu resikonya besar dimana mesin sering rusak, rawan pake listri,dan alatnya juga mahal. Tapi dikavling tanah selama sertifikat dipegang saya atau notaris tanah tidak hilang. Dan untung sehari kalau fotokopi omset Rp 300 ribu untung hanya RP 50 ribu dan kalau perbulan omset Rp 10 juta untung hanya Rp 1,5 juta. Sedangkan kavling, jika laku 1 saja sudah untuk Rp 10 juta,” pukasnya. Keuntungan inilah yang membuat Syamsul yakin untuk berbisnis properti.

Pernah terpaksa kerja di perusahaan lain
Meski memiliki tekad menjadi seorang pengusaha, namun dirinya juga pernah merasakan bekerja dengan orang lain. “ Saya terpaksa bekerja ke perusahaan lain karena sebelum menemukan bisnis ini dengan usaha sebelumnya yang gagal saya memiliki banya hutang. Maka dari itu saya terpaksa bekerja,” kata Syamsul. Pada tahun 2006 dia bekerja di Sebuah koperasi sampai kemudian tahun 2009 bekerja di sebuah bank swasta hingga tahun 2010 menemukan usaha perumahan dan setelah bisnis berjalan dengan baik pada tahun 2011 Syamsul mantap berhenti bekerja.

Dalam kurun waktu 5 tahun, Syamsul benar – benar merasakan bagaimana tidak enaknya bekerja dengan orang lain. Dimana waktunya harus dibatasi dan otomatis gajinya pun juga dibatasi. Belum lagi ketika dia harus bekerja diluarkota, pria penyayang ini harus menghilangkan waktu berkumpul dengan keluarga.

Syamsul mengibaratkan misalnya selama 1 tahun diirinya mentargetkan dapat Rp 100 juta bekerja denga orang lain walau gaji pokok Rp 3,5 juta dan ditunjang dengan uang bonus akan susah unruk mengejarnya. Namun bila memiliki usaha sendiri, mau menargetkan Rp100 juta dalam setahunpun tetap bisa dikejar.

Saya tipe yang pembelajar
IMG_2412Kunci kesuksesan dari seorang syamsul Hadi selain pantang menyerah juga sifatnya yang seorang pembelajar. Sedari dulu dirinya memang suka belajar apa saja yang nantinya akan berguna dalam berbisnis. Walau dirinya berada di jurusan fisika, tak menghentikan langkahnya untuk mempelajari hal yang lain.

Apa saja dia pelajari, mulai dari manajemen, keuangan, finansial, dan lainnya dia pelajari. Syamsul juga tidak pernah malu bertanya dengan temannya yang lebih ahli. Bahkan kemampuannya dalam berbisnis perumahan dia dapatkan dari temannya yang kini sekaligus sebagai mentornya dalam berbisnis. “ Kalau saya menyerah dalam berbisnis itu berarti saya kapok menjadi pengusaha. Dan sama saja saya kapok untuk menjadi orang yang berpenghasilan besar,” celotehnya.

Syamsul juga bersyukur dengan lingkungannya yang mendukung. Seperti organisasi HIPMI yang dia ikuti kini menjadi salah satu media bagi dia untuk mengembangkan diri. Selain itu selama di organisasi wirausaha ini, Syamsul juga banyak menemukan teman baru dengan pengalaman baru dan informasi baru dalam berbisnis. Juga mereka yang membantunya dalam memperkenalkan dan mengembangkan bisnis nya. “ Saya selalu menganggap berorganiasi itu penting. Minimal kita punya teman dalam bidag bisnis.ketika saya punya teman bisa saling tukar pikiran. Bahkan juga tukar bantuan. Dan dengan organisasi dapat kenalan banyak dan otomatis usaha bisa berkembang,”papar dia

Dan terkait dengan lesunya perekonomian beberapa tahun ini, Syamsul melihat jika ini berdampak besar bagi bisnis properti. “Properti menjadi satu bisnis yang paling terasa sekali goncangan ekonominya. Dimana orang lebih mementingan kebutuhan pangan dan sandang ketimbang kebutuhkan papan. Sebab mereka masih bisa ngontrak, ikut mertua atau orang tua,”ungkapnya.

Meski bisa dikatakan properti tidak sekuat tahun 2013 lalu, namuan dirinya tetap yakin bisnis ini memiliki prospek yang bagus. “ Selama masih ada pertumbuhan penduduk maka kebutuhan akan rumah akan terus ada. Selain itu kami juga terus berupaya untuk melakukan inovasi dan kemudahan bagi konsumen sehingga mereka yang hendak membeli rumah menjadi lebih percaya dan nyaman dengan pelayanan yang sudah kami berikan,” imbuhnya. – ambar

Data diri:
M Syamsul hadi
Owner CV Indo Arta
Madiun, 10 oktober 1979

Keluarga:
Istri : Sri Hartati
Anak : Iza dan Amey

Pendidikan:
SDN Kradinan 2 Madiun
SMP Islam Ngoro Jombang
SMAN Ngoro Jombang
S1 Fisika UNS



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress