Blue Strategy kunci sukses Hanny Setiawan dalam berbisnis

Solo – Patokan sukses itu bukan seberapa besar dia mampu mengumpulkan pundi – pundi uang namun bagaimana harta yang kita miliki itu mampu menyentuh orang lain. Itu menjadi filosofi bagi Hanny Setiawan seorang yang sukses membangun Sekolah Musik Indonesia dan Aplikasi Appstune.

Baginya bukan uang yang menjadi modal dia dalam meraih kesuksesan. “Belajar dan belajar menjadi modal utama saya. Saking sukanya dengan belajar, saya bahkan sampai mempelajari 4 bidang seperti musik, teknologi, bisnis dan teologi. Sebab bagi saya tiap bidang itu menjadi pondasi kuat ketika akan memulai usaha,” kata dia ditemui ditengah acara Sekolah Musik Indonesia di The Park Mall lalu.

Menurutnya, ketika seseorang berbicara mengenai bisnis itu sama saja mereka membicarakan masalah filosofi. “Kalau yang sukses dari warisan ya tidak perlu filosofi. Sebab mereka hanya tinggal mengembangkannya saja.Tapi bila mereka yang berasal dari nol sudah pasti mampu merangkai filosofi sesuai dengan perjalanan mereka,” tukas pria berkulit putih itu.

1045IMG_8925

Dan sukses yang diraih saat ini tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak hal sudah dia rasakan dan jalani dimana itu menjadi pendorong untuk tidak menyerah dalam mengejar mimpi

“Saya berangkat di Amerika itu pada tahun 1996 untuk bersekolah. Dan ketika disana saya juga bekerja. Mulai dari loper koran, jualan permen sudah pernah saya jalani,” tutur dia. Dan mulailah Hanny mencoba bekerja di bidang IT di Microsoft Technology. Dari seorang yang bekerja dibagian bawah sampai menjadi programmer dia jalani. Meski demikian, baginya musik merupakan bagian hidup yang tak terpisahakan.

Hingga kemudian pada tahun 2004, Hanny memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Segera ia memikirkan ide dalam membuat bisnis. Sayang pada tahun itu internet masih belum berkembang dengan baik seperti sekarang ini. Maka dari itu, penyuka sate ini lebih memilih untuk mempersiapkan SDMnya. “ Seperti Jokowi bilang mengenai revolusi mental, maka sebelum membangun bisnis yang sesuai dengan passion kita adalah dengan meningkatkan kemampuan dari SDM nya sehingga ketika bisnis ini dimulai pondasinya tidak akan mudah goyah,” komentarnya.

Hingga kemudian tepatnya pada tahun 2010 secara resmi Hanny mendirikan Sekolah Musik Indonesia (SMI). “ Tujuan saya membangun bisnis ini tidak semata – mata karena bisnis namun karena panggilan dari Tuhan. Sebab kalau tujuannya mau cari uang lebih baik bekerja diluar negeri atau ikut teman yang kaya dan jadi GM dengan gaji Rp 50 juta atau Rp 100 juta,” kata dia.

Bagi Hanny, meski bisnis yang dia jalani bukan bisnis yang besar namun bisa membantu orang lain tu menjadi kebanggannya tersendiri.

Cinta Solo
hanny-setiawanBagi Hanny Kota Solo itu menyimpan keunikan yang mungkin tidak dimiliki kota besar lainnya dan itulah yang membuatnya jatuh cinta pada kota kuliner ini. “ Saya melihat jika semua bisnis besar baik itu skala nasional maupun internasional semuanya berasal dari Solo. Dan kebanyakan pengusaha Solo memiiliki perusahaan di Jakarta,” pantau Hanny.

Dia mengumpamakan kota Solo itu seperti sebuah kunci gerbang. Dimana ketika itu dibuka maka akan semakin besar kemungkinan meraih sukses dapat dirasakan.” Saya mengamati jika pengusaha yang mampu berkembang di Kota Solo maka dia akan mudah mengembangkan usahanya di kota lain. Bahkan Branch Manager Bank kenalan saya banyak yang mengatakan jika mereka mampu menjadi branch manager di Kota Solo maka dia bisa bekerja dimana saja yang dia inginkan,” jelasnya.

Ubah musik konvesional ke arah digital
Hanny melihat jika musik dan teknologi merupakan 2 hal yang tak mampu untuk dipisahkan. “Kalau ngomong soal bisnisnya ada istilahnya, yakni teknologi yang mendistrak suatu perilaku. Seperti contoh, yang dulunya pake sms sekarang sudah bisa pake chatting atau whatsup. Perubahan perilaku ini semua terjadi karena teknologi. Maka dari itu saya membuat musik digital,” kata Hanny.

Ayah dua anak ini melihat jika bisnis yang dia kembangkan ini pertama kali dan satu – satunya di Indonesia dimana masih belum ada kompetitor yang mampu menyaingi dan mencoba ceruk ini. “Musik digital itu bagaimana selain berajar bermusik juga mempelajari bagian dalam dalam musik,“jelas dia.

Apalagi dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini, Indonesia termasuk negara tertinggal 10 tahun dalam pengembangan namun sudah mesuk dalam pengembangannya. Sebagai contoh, mereka tahu google tapi tidak mampu memprogram seperti google lakukan.

Cara Hanny dalam menemukan ide bisnis yang didapatkan adalah dengan memanfaatkan ceruk yang tidak disentuh orang lain atau dalam istilahnya blue startegy. Memang tidak mudah,sebab ketika mencoba ceruk baru otomatis harus mengedukasi masyarakat untuk tahu.

“Edukasi market itu gampang – gampang susah. seperti ketika memberi tahu itu mobil namun ketika diawal orang akan menyebutnya sepeda motor roda 4. Seperti halnya SMI, banyak dari mereka masih menganggapnya sekolah musik yang ada teknologinya. Itulah yang pelan – pelan dilakukan saya beserta tim lakukan dalam mengedukasi pasar,” kata Hanny menjelaskan.

Dan ketika ditanya mengenai persaingan, Hanny mengaku tidak terlalu mempermasalahkannya sebab dengan produk musik digital yang dia miliki belum ada yang berusaha menyaingi. “Kita sama – sama jualan musik tapi kami pakai teknologi digital, itu artinya kami punya seperti yang kamu punya tapi kamu tidak punya seperti yang kamu punya. Seperti sama – sama jualan musik drum tapi kami ada tambahan digital, maka sudah bisa ditebak pasar akan memilih yang mana,” ujarnya.

Hidup benar lebih baik dibanding hidup sukses
Hanny selalu memegang filosofi hidup benar lebih baik dibanding hidup sukses. “Hidup benar itu mahal sebab kamu dianggap aneh karena masyarakatnya yang sudah bengkok. Kita mencoba benar tapi dianggap salah,” kata Hannya. sebab bagi dia sukses itu bukan diukur dengan uang melainkan bagaimana orang lain mengukur kita.

“Mungkin saya belum punya tabungan sebanyak lainnya. Tapi minimal saya memperkaya banyak orang,” imbuhnya. – ambar

Data diri:
Hanny Setiawan
Solo , 23 Desember 1971

Keluarga:
Istri Yanty Yoyanto
Anak : Tiffani Chisori Setiawan dan Giovanni Sekhina Setiawan

Pendidikan:
SD Widya Wacana
SMPN 10 Surakarta
SMAN 3 Surakarta
D3 SS YKDN
S1 STIE YKPN
S2 Beatley University Boston

Lain-lain:
Hobi : musik, komputer, menulis, membaca
makanan kesukaan sate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger