Si ‘Keras Batu’ Lakukan Perubahan

Solo – Seorang ahli sosial, Samuel Koening pernah mengatakan “Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern”. Namun tidak semua orang mau untuk mengalamin perubahan pola dalam hidupnya meski untuk sesuatu yang lebih baik. Terlalu lama berada dizona nyaman membuat mereka lupa bahwa dunia terus berubah sehingga mau tak mau manusia yang tinggal di dalamnya juga harus bergerak.

Hal ini pulalah yang harus dihadapi Hoby Mustika Putranto , Branch Manager Electronik Solutions Solo Grand Mall. Pria yang dikenal tegas, ambisius dan juga disiplin inib perlu waktu yang cukup lama serta hambatan yang berat demi memberikan perubahan bagi karyawannya. Aduan, perkelahian, dan gunjingan tak membuatnya gentar.

Lahir pada 20 september 1982 ini merupakan lulusan dari Atmajaya Jogja jurusan arsitek. Awal pria yang akrab disapa Hoby ini bekerja sebagai seorang konsultan bangunan di Pasar Gede. “ Saya mendapatkan pekerjaan itu dari LSM Jepang yang kala itu membantu korban gempa. Dan ketika saya bekerja disana, saya berfikir mengenai gaji saya yang kurang dari standar saya dan kemudian baru saya tahu jika gaji arsitek muda itu standarnya memang segitu,” jelas Hoby. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan lain, mulai dari bank, perusahaan BUMN dan sebagainya.

Hingga kemudian Hoby diterima sebuah operator nasional pada tahun 2007 hingga tahun 2010 dengan jabatan sebagai indirect sales atau channel management. Selama 4 tahun dirinya bekerja, pria yang sebentar lagi akan menikah ini mendapatkan banyak ilmu mengenai sales. “ Saya belajar bagaimana cara untuk merayu konsumen, bagaimana bertanggung jawab pada pengiriman atau distribusi, dan sebagainya,” ujarnya.

Sampai kemudian terdengar desas – desus yang mengatakan bila karyawan yang berusia 28 sudah tidak laku lagi dan itu membuat Hoby memutuskan untuk berhenti dan melamar di Bluebird taksi sebagai Management Training. “ Saat saya bekerja di sana, saya merasa senang sebab gajinya 3 kali lipat dibanding pekerjaan saya sebelumnya. Namun saya tidak sadar bila gaji itu berbanding lurus dengan tanggung jawab dan resiko pekerjaan. Dan pressurenya benar – benar berat meski 6 bulan bekerja saya diangkat menjadi supervisor dan 1 tahun kemudain menjadi asisten manager, saya lebih memilih keluar,”papar pria yang suka bermusik itu. Pada akhirnya Hoby pulang ke Kota Solo dan bekerja sebagai asisten manager di Electronic Solutions (ES)

Banyak hambatan lakukan perubahan
IMG_2425Bekerja sebagai asisten manager di Electronic Solutions nyatanya memberikan pertanyaan baru pada diri Hoby.”Saat itu saya berfikir mengapa disemua cabang ES, jabatan tertingginya hanya terhenti pada asisten manager. Dan ternyata jawabannya karena untuk jabatan Branch manager tidak ada slotnya,” kata dia.

Dan karena sifatnya yang ambisius, Hoby berfikir kenapa tidak ada jabatan diatas asisten manager dan dia bisa menjabat disana. Segera dia menyampaikan pemikirannya kepada atasannya. Sayang, Hoby harus mendapatkan penolakan. Tak mau menyerah, pria penyuka nasi goreng ini terus mendesak atasannya dengan memberikan data mengenai bagaimana meningkatkan penjualan toko dan sebagainya.

Tekad dan keras kepala dari seorang Hoby ini membuat atasannya memberikan kesempatan.”Pimpinan saya memberikan syarat bila saya bisa mencapai target penjualan dlalam waktu 3 bulan maka akan diangkat menjadi branch manager. Dan itu tercapai dalam kurun waktu 2bulan saja,” kata dia. Meski diakui tidak mudah memang mendapatkan jabatan itu, apalagi dengan banyaknya ketidaksetujuan dari beberapa pihak. Meski demikian dengan hasil yang dia tunjukan, membuat mereka yang sebelumnya menolak akhirnya menyerah.

Dan segera saja setelah dirinya menjabat sebagaoi Branch Manager, banyak perubahan yang dilakukan. “Kalau sebelumnya, kita hanya menunggu konsumen datang, menyediakan barang , dan promo, tapi kemudian saya mulai melakukan banyak kegiatan untuk menarik minat. Mulai dari acara karaoke, donor darah, akustikan, free service dan sebagainya memberikan dampak yang cukup signifikan,” jelasnya. Tak Cuma itu, atas masukan rekannya, Hoby juga mencoba untuk melakukan penjualan di luar ruangan seperti pasar, water park, PNS dan sebagainya. Meski SOPnya melarang kegiatan tersebut, namun demi mencapai target yang dikehendaki cara itu dilakukan.

Selain melakukan perubahan pada sistem penjualan, Hoby juga lakukan perubahan pada sumber daya manusia di dalamnya. Mulai dari kedisplinan waktu dimana karyawan diminta untuk datang tepat waktu atau lebih awal. Kemudian bagaimana memahami produk yang dijualnya, melakukan evaluasi tiap minggu baik secara forum maupun face to face, melihat tayangan inspiratif. “ Tiap minggu saya selalu mengumpulkan mereka untuk melakukann evaluasi kinerja sekaligus saya setelkan youtube atau film untuk melihat kisah inspiratif. Dan bagi yang terlambat lebih dari 3 kali maka mereka harus membayarnya dengan minuman kotak,” tuturnya.

Hoby juga selalu menekankan pada servis grooming dan greeting. Bahkan hukuman langsung pulang bagi mereka yang dianggap tidak rapi pun dijalankan. “Saya punya visi dan misi bahwa bukan hany tokonya yang maju namun juga karyawan. Kita tidak bisa selamanya seperti ini. Sebab suatu hari kita juga akan menikah, punya istri dan anak yang otomatis tanggungannya akan semakin berat. maka dari itu kerja keras dalam bekerja itu perlu untuk bisa meningkat kan sejahteraan,” jelas dia.

Meski terbilang keras, Hoby juga termasuk orang yang fair. Mereka yang dianggap disiplin, rajin dan juga inovatif maka akan diajukan untuk kenaikan jabatan. Ada 3 sekurity yang dia ajukan kenaikan jabatan menjadi staf brand, supervisor dan sebagainya. Ada pula yang dari staf logistik diajukan menjadi supervisor. “ Jika bagus maka saya tidak akan segan menyarankan mereka pada atasan untuk mendapaykan kenaikan jabatan. Namun bagi mereka yang kinerjanya buruk maka ada 2 kemungkinan, saya paksa mundur atau mundur sendiri,” kata Hoby.

Perubahan – perubahan yang dilakukan Hoby tidak sepenuhnya diterima. Ada yang menangis, ada yang memilih pulang, ada yang mengajak berkelahi bahkan ada yang melaporkannya pada atasan. Sampai beberapa teguran kerap diterimanya.Meski demikian tak membuat Hoby gentar. Sebab baginya selama perubahan yang dilakukannya itu kearah yang baik mengapa tidak. “ Pernah ada pimpinan regional saya dulu bilang kata beberapa orang kinerja saya jelek. Saat saya tanyakan lagi bagian mana yang buruk, apakah absensi, performa atau bagian lain pimpinan saya malah tidak bisa menjawab,” komentar SMAN 4 Surakarta itu. Dan setelah berkali kali mampu memenuhi hasil penjualan yang sesuai target, membuat mereka yang tadinya berteriak memilih untuk bungkam. – ambar

Data diri:
Hoby Mustika Putranto
Branch Manager Electronic Solutions
Surakarta, 20 september 1982

Latar belakang pendidikan:
SDN 15 Surakarta
SMPN 1 Surakarta
SMAN 4 Surakarta
S1 Atmajaya Jogja jurusan Arsitektur

Lain-lain:
hobi: bermusik. basket dan sepak bola
makanan kesukaan : nasi goreng dan soto
Tempat Favorit : Bali, Malang dan Malaysia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme wordpress