Risiko Tinggi, Bisnis Barang Antik Tetap Menjanjikan

talkshow barang antik

JO, Solo – Bisnis jual beli barang antik sudah ada sejak lama, namun bila dibanding periode sebelumnya, kondisi saat ini lebih prospektif. Salah satu faktor penyebab, marak pendirian hotel, kafe, wedangan, home stay yang menggunakan pernak –pernik barang antik. Misalnya meja kursi, dipan, gebyok, gazebo, lesung, lampu yang bernuasa tempo dulu.

“Tingginya permintaan akhir-akhir ini, terkadang kami harus blusukkan berburu sampai pelosok desa. Tidak jarang sampai harus menginap segala “ papar owner Roemah Anti, Drs. Rochmad Subagyo. M.Si, saat mengisi talkshow Bisnis Corner di produa RRI Surakarta, Selasa malam (28/6).

Lebih lanjut, Rochmad, yang akrab dipanggil pak Cicup, memaparkan terjun menekuni bisnis barang antik, karena faktor kebetulan. Awalnya hanya senang mengkoleksi barang bernilai seni. Pada suatu hari sangat berminat membeli barang antik, namun uangnya tidak mencukupi. Terpaksa sebagian koleksi dijual untuk menutup kekurangan.

“Jadi tidak ada niatan menjadi pebisnis barang antik. Semula hanya senang mengkoleksi. Lama-lama keterusan sampai sekarang, tidak sekedar hobi, namun juga menjadi profesi “ ungkapnya.

Berkat ketekunannya, Cicup, yang juga PNS pemkab Karanganyar ini, usahanya berkembang pesat, hingga saat ini memiliki 4 tempat workshop yang tersebar di kabupaten Karanganyar. Dengan kantor pusat bermarkas di jalan Lawu nomor 47, sebelah timur rumah dinas bupati Karanganyar.

Selama 12 tahun menekuni bisnis barang antik, tidak selamanya berjalan mulus.

“Jujur saja penentuan harga barang antik relatif. Terkadang hanya mengandalkan insting. Tidak ada patokan yang pasti. Keuntungan bisa berlipat-lipat, namun bila tidak hati-hati bisa gigit jari. Bisnis ini rawah dengan permainan mafia, khususnya untuk benda yang dianggap keramat dan bertuah, seperti keris, tombak dan sejenisnya “ ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Cicup lebih suka menjual barang perabot rumah, yang gampang dijual. Perputaran uangnya cepat, resiko tidak begitu tinggi. Jual beli barang antik memang butuh modal besar yang mengandalkan modal sendiri. Perbankan biasanya enggan mendanai bisnis barang antik, karane spekulatif dan berisiko tinggi.

Narasumber kedua, Drs. Suharno, MM, Akuntan selaku Direktur Amalia Consulting, mengingatkan dalam bisnis ada kredo, semakin besar resiko, semakin tinggi resiko. Bila ingin berbisnis barang antik jangan hanya semata-mata tergiur keuntungan semata.

Sebaiknya punya passion kuat dibidang seni, paling tidak menyukainya, serta terus belajar memahami barang antik, tidak segan belajar pada orang yang ekspert dibidang tersebut.

“ Di sampin gitu jangan mudah percaya mistik. Kisah mistik sering direkayasa para mafia barang antik untuk mendongkrak harga. Tetaplah bertindak rasional. Pandang barang antik dari aspek keindahan dan seninya saja “ papar Suharno. – arn

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger