Azana Segera Buat Bisnis Model Bagi Hotel

IMG-20160720-WA0014

JO, Solo – Tingginya persaingan hotel saat ini, tidak hanya terjadi di kota Solo, membuat para pengembang, pelaku dan operator perhotelan pun harus terus berpikir untuk menciptakan dan membuat pasar berbagai segmen, untuk mampu bertahan menghadapi gerusan persaingan yang terus mengemuka.

Konsep, strategi dan taktik pun diterapkan untuk memenangkan persaingan dengan melihat peluang yang ada secara efektif.

PT. Azana Hotel Management berupaya melakukan inovasi untuk membuat bisnis yang dikelolanya tetap eksis dan memberikan margin kepada sejumlah owner hotel yang mempercayakan, pengoperasian hotelnya pada perusahaan ini. Dengan menciptakan bisnis model yang bisa diaplikasi ke sejumlah hotel yang dikelolanya.

“Sekarang hotel harus menciptakan bisnis model baru, karena kalau tidak, akan semakin dilalap habis oleh persaingan radikal ini,” tegas Dicky Sumarsono, CEO PT Azana Hotel Management.

Dicky mencontohkan, bisnis model baru yang saat ini ada dipasaran semisal go-jek, ojek nya biasa namun bisnis model nya luar biasa, pakai online atau aplikasi. “Toko Pedia, Bukalapak itu juga bisnis model, belanjanya biasa tapi karena online jadi luar biasa, nah hotel kedepan pun harus seperti itu,” harap Dicky, di sela acara Halal Bi Halal grup usahanya, di Aston Hotel Solo. Selasa (19/7/2016).

Wedding pun termasuk bisnis model lanjut Dicky, bisa jadi weddingnya biasa namun bagaimana menciptakan bisnis model untuk wedding yang luar biasa, meskipun tidak harus lewat aplikasi. Paling tidak bisa di kriet agar wedding untuk semua kalangan bisa masuk dan menjangkau, nggak harus pilih segmen tertentu.

“Wedding itu kuenya sangat besar sekali, ada sekitar 200 miliar per tahun, orang yang menikah di Solo, dari yang digelar mulai hotel, gedung pertemuan dan rumah. Nah, bagaimana kita bisa mengambil kue ini masuk ke hotel tanpa harus pilih-pilih segmen, karena kalau pilih setahun paling hanya dapat 10 wedding setahun,” terang Dicky.

Nggak mudah memang, namun tetap harus dipikirkan dan dibuat bisnis model yang lebih mengarah pada lifestyle masyarakat yang terus tumbuh, dengan semakin banyaknya orang bersosialisasi, sehingga dibutuhkan kemudahan dalam memenuhi kebutuhannya.

“Kemudahan yang diberikan membuat konotasi jadi lebih murah, termasuk juga ojek menggunakan go-jek yang jatuhnya lebih murah dan ternyata belanja online dengan merek yang sama juga lebih murah,” tambah Dicky.

Sementara untuk kedepannya hingga akhir tahun, Dicky berencana, untuk mengembangkan bisnis kulinernya dengan konsep dan model yang berbeda, dan di yakini sampai saat ini belum ada di Solo. – ian


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger