Bancakan Weton Tradisi Berbagi Yang Perlu Dilestarikan

Oleh Sri Suparti, Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa SMPN 8 Solo

JO, Solo – Keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Kekayaan ini memang bukan bersifat materiil seperti sumber daya alam yang ada. Namun kita bisa menyaksikan betapa bangsa ini mulai meninggalkan budaya yang dimiliki.

Saat ini kita melihat bagaimana kurangnya perhatian bangsa ini dalam melestarikan kebudayaan dan kesenian yang ada di Indonesia. Sebenarnya tidak sepenuhnya juga masyarakat kita melupakan tradisi dan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa ini.

Masih banyak orang-orang yang dengan tulus ikhlas melestarikan dan menjaga kebudayaan tersebut di tengah gencarnya arus budaya yang dimasukkan dari barat.

Kota Surakarta yang juga disebut Sala atau Solo, terletak di provinsi Jawa Tengah, dengan luas 44 km2 ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.

Sisi timur dilewati sungai yang terabadikan dalam lagu keroncong Bengawan Solo. Kota Surakarta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Jawa, dibuktikan dengan adanya dua pusat peradaban kebudayaan Jawa yang masih bisa dilihat yaitu Kraton kasunanan Surakarta dan Kraton Mangkunegaran. Perkembangan kebudayaan menjadi sangat pesat, disamping terus bergeraknya arah peradaban menuju modernisasi dan globalisasi, masih ada sisa-sisa tradisi budaya yang masih diuri-uri oleh sebagian masyarakat di Surakarta.

Makna tradisi bancakan weton yang terdapat di beberapa tempat, karena samar-samar tradisi ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat pendukungnya. Seperti dalam masyarakat Jawa, dikisahkan oleh seorang sahabat tentang bagaimana sang ibu selalu mengusahakan membuat bancakan weton sedari kecil sampai akil baligh.

Persepsi tentang wacana yang menyatakan bahwa bancakan weton tidak sesuai dengan ajaran agama, tidak sepenuhnya ditaati masyarakat, kenyataannya sebagian masyarakat masih melakukan budaya bancakan weton ini bahkan dari berbagai agama baik itu Islam, Kristen, Katholik, Hindhu, dan Budha.

bancaan weton

Sebenarnya tradisi bancakan weton ini artinya masih ada walaupun sudah jarang masyarakat yang masih melakukannya. Tradisi bancakan weton merupakan budaya yang dilakukan oleh masyarakat dari berbagai agama dan kepercayaan. Dan menurut pelaku tradisi bancakan weton, mereka berpendapat bahwa budaya ini memiliki relevansi dan memiliki manfaat bagi masyarakat pendukungnya.

Bancakan ini merupakan pernyataan rasa syukur kepada Tuhan YME atas keberhasilannya. Weton merupakan hari lahir. Perlengkapannya adalah : nasi urap ( gudangan ), telur rebus, dan juga jajan pasar ( Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, 1999:53). Tradisi masyarakat yang dilakukan pada hari kelahiran berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang berputar selama 35 hari. Artinya diperingati setiap 35 hari sekali.

Orang Jawa memiliki tradisi yang disebut selapanan, yaitu memperingati weton kelahiran dengan melakukan laku prihatin, misalnya dengan lelaku puasa ngapit ( puasa tiga hari yaitu pada hari weton ditambah satu hari sebelum dan sehari sesudahnya ), mutih ( selama beberapa hari hanya makan nasi putih dan minum air putih tawar saja tanpa puasa, jadi boleh makan dan minum kapan saja ), ada pula lelaku puasa tiga hari sebelum weton, lima hari sebelum weton dan berbagai jenis cara puasa lainnya, melek ( tidak tidur) selama 24 jam dimulai saat matahari terbenam saat masuk hari wetonnya diakhiri ketika matahari terbenam di hari wetonnya sambil menghidangkan sesaji berupa variasi empat warna bubur dan sesaji lainnya yang memiliki arti simbolik yang luhur. Menyediakan sesaji sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME.

Bagi masyarakat pendukung budaya bancakan weton ini, mereka berpendapat bahwa dengan menghayati dan mengamalkan bancakan weton ini akan membawa dampak yang baik diantaranya : sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai salah satu momen untuk berintrospeksi diri, ingat kembali pada kodrat dan tugas sebagai manusia di muka bumi.

Kembali mengenal setiap unsur yang menyertai diri manusia hidup di muka bumi ini, yaitu para sedulur sejati , ada pula yang mengartikan sedulur papat lima pancer . Yang terakhir bahwa mereka percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong atau pengasuh dan pembimbing secara metafisik. Pamomong selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, supaya lakune pener lan pas.

Pengamat budaya, bancakan weton adalah simbol dari pemaknaan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dari sis kemanusiaan dan interaksi sosial menjadikan budaya bancakan weton ini adalah salah satu pemicu dari munculnya budaya baru, yaitu budaya berbagi dalam masyarakat di kecamatan Banjarsari. Dalam ajaran agama apapun menganjurkan kita berbagi kepada sesama manusia, dan bancakan weton adalah simbol dari implementasi hal tersebut.

Sehingga, melihat budaya dari proses maupun tradisi itu sendiri tentang persepsi masyarakat yang tidak menyetujui bahkan melarang dilakukannya budaya bancakan weton merupakan pemaknaan bahwabahwa dalam proses budaya bancakan weton pelaku membutuhkan dana yang tidak sedikit dan jika budaya ini dipaksakan untuk dilaksanakan oleh masyarakat menengah ke bawah dengan berhutang, maka akan memberatkan pelaku budaya bancakan weton ini dari segi ekonomi.

Berharap tulisan ini bermanfaat memberi sumbangan ilmu pengetahuan khususnya bidang kearifan lokal Jawa dan kajian budaya. Apakah tradisi bancakan weton akan anda ajarkan kepada anak cucu anda ? Bagaimana jika mereka tidak melaksanakannya ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger