Nasib Media Konvensional di Era Digital

JO, Solo – Tidak sedikit yang menyebutkan bahwa impact digitalisasi telah membuat media digital sangat digemari. Bahkan konon katanya, pebisnis banyak yang lebih suka beriklan di media digital dibandingkan dengan media tradisional. Benarkah?

Sementara pelaku jasa periklanan di Solo dan sekitarnya, mulai beralih di usaha yang lain. Selain karena tergerus oleh digital media, belum lagi maraknya sosial media yang juga terus menghimpit.

Penasehat Asppro Solo, M. Qoyim, mudahnya pengukuran serta penggunanya yang massif, membuat media digital jadi senjata ampuh untuk beriklan.

“Dan kebijakan pemerintah dalam menentukan nilai satuan dalam beriklan menjadi relevan dibutuhkan, untuk menghidupi teman-teman pelaku jasa iklan konvensional,” terang Qoyim, saat dijumpai di acara Halal Bihalal di Novotel Hotel Solo. Sabtu (23/7/2016)

Kenyataannya, tidak sepenuhnya demikian. Bahkan menurut survei yang dilakukan oleh Nielsen, media tradisional masih yang paling digandrungi oleh pemasar ketimbang media digital.

Ya, Nielsen menjelaskan pada infografisnya, bahwa bentuk konvensional masih yang paling dipercaya, khususnya pemasar di kawasan Amerika Utara.

Dijelaskan pula oleh Mashable, bahwa lebih dari setengah responden percaya pada platform iklan konvensional seperti surat kabar, majalah, TV, radio, dan billboard. Namun iklan di media digital seperti online video ads, social media ads, mobile display ads, atau online banner ads, menerima kepercayaan kurang dari 50%.

Media tradisional
Secara berturut-turut, tingkat kepercayaan yang paling tinggi masih dimiliki oleh iklan di surat kabar dengan presentasi sebanyak 63%. Kemudian disusul oleh iklan majalah (62%), iklan TV (61%), iklan radio (58%), dan iklan billboard (55%).

Hasil ini menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan seluruh media tradisional sangat tinggi. Lebih dari setengahnya percaya akan media tradisional.

Media digital
Sementara ketika melirik iklan di media digital, tingkat kepercayaannya masih sangat rendah.

Coba saja lihat dari yang tertinggi, iklan di mesin pencari, hanya berhasil menembus angka 44%. Kemudian disusul oleh iklan video online (44%), iklan di media sosial (39%), serta iklan di ponsel (35%). Sedangkan yang terakhir adalah online banner, yang hanya mampu menembus angka 33%.

Media digital vs media konvensional
Hasil ini mungkin akan memecah persepsi mengenai efek digitalisasi yang kabarnya sangat besar. Bahkan akan membunuh industri media cetak.

Entahlah, karena itu hanya di dalam lingkup Amerika Utara saja. Bagaimana jika di Indonesia? Melihat animo masyarakat terhadap perkembangan dunia digital sangat tinggi. Jika Anda tahu, Anda bisa berbagi bersama kami di kolom komentar. – ian/berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger