Java Beverly Hills Bergaya Klasik Kolonial

BHE

JO, Sukoharjo – Geliat pertumbuhan properti komersil ataupun perumahan mulai dirasakan oleh pengembang sektor ini, memasuki semester kedua tahun 2016. Hal tersebut karena kebutuhan masyarakat akan hunian semakin tinggi. Dipacu adanya kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap daya beli.

Developer mulai berlomba-lomba menawarkan dan membuat perumahan dengan berbagai kelas, jenis dan kelebihan masing-masing.

Termasuk perumahan klaster yang berada di bilangan Gentan, Sukoharjo. Tepatnya di Jalan Mangesti, Gentan terdapat perumahan bergaya klasik kolonial. Adalah Java Beverly Hills, perumahan klaster ini menawarkan tiga jenis rumah dengan gaya khas klasik kolonialnya.

BHA

Ada tipe Java yakni tipe terkecil dengan 1 kamar tidur utama (kamar mandi dalam), 2 kamar anak, dan 1 kamar pembantu. Ada 3 unit AC dan juga water heater Solarguard.
Lalu tipe Pasadena, dilengkapi dengan 1 kamar utama (kamar mandi dalam), dinding kamar wallpaper, 2 kamar anak dengan 1 kamar mandi dalam. Sedangkan area parker cukup untuk 1 mobil dan 1 motor.

Untuk tipe Beverly dengan kamar utama seluas 4 x 9 meter persegi, dinding wallpaper. Untuk furniture juga lebih bagus kualitasnya. Taman kering dan taman air yang gemericik pun terdapat di sana. Rumah tipe ini dilengkapi void untuk menahan agar sinar matahari bisa masuk namun saat hujan air tak dapat masuk.

P_20160807_152908

Maharani, sang pemilik perumahan mengaku memilih tema tersebut untuk diaplikasikan ke dalam propertinya agar terkesan berbeda dan lebih elegan. Dismping mengapresiasi pasar dan permintaan pasar.

“Semua desain saya kombinasikan bersama arsitek dari UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Selain itu saya perhitungkan secara fengshui juga. Pokoknya semua rumah harus menerima sinar matahari bukan malah menghindarinya. Karena sinar matahari itu tidak boleh ditolak. Baik dari segi kesehatan serta fengshui-nya,” terang wanita cantik ini.

Masih banyak lagi fasilitas lain yang bisa dinikmati para penghuni Java Beverlly Hills di antaranya adalah taman bermain dan lapangan tenis. Sekitar empat puluh lima persen luas lahan digunakan untuk fasilitas umum.

BH Asri

Untuk pemasangan instalasi dan jaringan listrik, Rani, demikian akrab dipanggil, tak menggunakan listrik bawah tanah. Dari segi estetika memang lebih rapi tapi ternyata banyak sekali kelemahannya. Untuk maintenance jauh lebih sulit dan jika terjadi pemadaman akan lebih lama.

“Untuk urusan listrik bawah tanah ini saya sampai survei ke tiga tempat Jakarta. Tapi ternyata ujung-ujungnya ribet banget, susah perawatannya. Nggak lucu dong kalau rumah klaster terus mati lampu lama lalu kalau ada kerusakan harus merusak bangunan atau lantainya,” ujarnya.

P_20160807_155209

Lokasinya sangat strategis karena berada di komplek-komplek perumahan dan tak jauh dari pusat kota, rumah ini cukup banyak diminati. Sudah 50 persen lebih unit rumah terjual. Mayoritas pembelinya adalah dari kalangan pengusaha. Mereka lebih memilih perumahan ini sebagai hunian bukan untuk investasi. Untuk itulah segi keamanan juga lebih diperketat. Dengan dijaga sejumlah petugas keamanan dan pemasangan CCTV, Rani ingin keamanan perumahannya lebih terjaga.

BH Bunga

“Saya tidak memakai satpam pendidikan, justru pakai orang-orang sekitar perumahan. Bagi saya itu lebih efektif dan jauh lebih aman. Selain memberi lapangan pekerjaan. Kepada warga sekitar mereka lebih merasa memiliki rumah tersebut jadi lebih aman. Setiap tamu yang datang harus jelas dengan siapa mereka akan bertemu. Satpam juga terkadang diberi job tambahan, misalnya belanja ke supermarket. Tentunya ada tambahan honor lagi untuk pekerjaan itu,” terang wanita berjilbab ini. – amb

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger