Budaya Jawa Terancam Sekarat Karena Full Day School

Oleh : Dra. Sri Suprapti,

JO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, beberapa waktu lalu mengatakan, wacana sekolah sehari penuh atau yang disebutnya sebagai kokurikuler, tetap berjalan meskipun mendapat penolakan. Walaupun masih wacana tetapi sudah menasional.

Sebagai orang Jawa dan sekaligus guru Bahasa Jawa amat sangat merasa khawatir sekali. Anak-anak akan berada di sekolah dalam waktu yang lama dibanding dengan keberadaannya di rumah. Itu artinya anak akan lebih dekat dengan teman-temannya daripada orang tuanya.

Dan orang tua akan menjadi sulit berkomunikasi dengan anaknya. Karena dalam waktu beberapa jam saja mereka bertemu, itupun waktu yang sesingkat itu digunakan anak untuk mandi,makan, shalat Magrib dan mengaji dilanjutkan dengan “Wajib Belajar mulai pukul 18.30 WIB sampai dengan 20.30 WIB.

Kalau anak akan tetap diberlakukan sekolah sehari penuh, bagaimana kalau jam 17.00 anak baru selesai dari sekolahan. Kalau jarak dari sekolah sampai ke rumah itu bisa ditempuh dalam waktu 5 menit tidak masalah.

Bagaimana kalau jarak nya lebih dari 5 km dan naik bus? Bagaimana kalau bus yang melewati rumahnya sudah tidak ada , karena bus terakhir jam 17.00 ? Tidak semua sekolah itu terlewati bus dengan jurusan ke rumahnya. Mungkin masih harus berjalan kaki untuk menuju ke halte bus itu. Belum nanti kalau turun dari bus, yang masih harus berjalan kaki untuk menuju ke rumahnya. Bagaimana kalau anda mengalami seperti ini ?

Saya yakin setelah itu anak sampai di rumah akan langsung tidur karena capek seharian berada di sekolahan. Bagaimana dengan PR yang tidak dikerjakan dan yang membuat emosi siswa, orang tua dan guru ?.

Sebagai orang Jawa yang hidup di desa, budaya sambatan ( bekerja membantu tetangga yang sedang punya kerja tanpa dibayar, contoh : membuat rumah, mengurus sawah ( menanam padi, mencangkul, atau memanen ) akan ikut hilang juga. Bagaimana nasib orang-orang kampung ?.

Selain itu juga sudah tidak ada lagi anak-anak di sore hari bermain di depan halaman rumah antara lain : nekeran, betengan, jamuran, sundha mandha, benthik,dhelikan, engklek, dll. Semua permainan itu merupakan ciri khas budaya Jawa sejak dulu hingga sekarang. Seandainya sekolah tetap mengadakan full day, bagaimana nasib budaya sambatan dan permainan budaya Jawa ?.

Menteri menyebutkan wacana sekolah sehari penuh tetap akan berjalan meskipun mendapat penolakan. Menurut pendapat saya, kalau yang namanya banyak penolakan tetapi tetap dijalankan menurut orang Jawa itu namanya “ngeyel”. Bagi masyarakat Jawa ngeyel ( nekad ) itu merupakan salah satu ungkapan “ora ilok” ( tidak baik ).

Tidak baik kalau tetap dilaksanakan, karena akan berakibat yang tidak baik bahkan malah fatal. Orang tua bagi masyarakat Jawa dalam mendidik selalu mengatakan kepada anak-anaknya untuk tidak ngeyel. Budaya Jawa , kalau orang tua mendidik anaknya bahwa hal itu tidak baik, maka anak juga tidak akan berani melanggarnya.

Menteri mengatakan juga bahwa full day school, ingin seperti Finlandia. Ingin seperti artinya bagi orang Jawa itu namanya melik ( menginginkan barang / sesuatu yang bukan milik kita ). Bagi masyarakat Jawa ini juga merupakan larangan yang selalu disampaikan kepada anak-anak dan keturunannya.

Ungkapan ora ilok antara ngeyel dan melik yang dilakukan oleh bapak menteri ini , bagi masyarakat Jawa sangat dihindari karena selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain. Sekarang kalau masyarakat sudah diarahkan untuk mengikuti ungkapan yang bagi orang Jawa merupakan larangan, apakah tetap akan dilanggar ?Ataukah dengan cara begitu untuk mendapatkan anak yang berkarakter ?

Bagaimana rasa sakitnya orang yang dipaksa ? Apakah anda mau kalau dipaksa melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan ? Mau diadakan uji coba, karena negara lain sudah menerapkan sekolah seharian. Artinya ingin budaya barat masuk ke Indonesia. Mustahil kalau budaya timur nantinya akan sekarat karena sudah kemasukan budaya barat.

Budaya Timur hanya akan berlaku bagi orang yang menolak budaya Barat yang nota bene tidak sesuai dengan budaya kita adat ketimuran. Yang akan tetap mempertahankan budaya ketimuran hanyalah segelintir manusia saja. Karena siswa sudah akan di uji coba mengikuti budaya barat dalam hal ini Finlandia.

Keluarga adalah yang paling utama dalam mendidik anak. Orang tua sangat berperan terhadap baik buruknya anak. Pendidikan orang tua akan sangat berpengaruh terhadap perilaku anaknya. Dan orang tua akan sangat mengharapkan anak-anaknya itu menjadi anak yang berbakti kepadanya. Anak-anak juga membutuhkan perhatian , kasih sayang dan belaian dari orang tua.

Bahkan lebih dari itu, apabila anak sedang sakit orang tua akan rela menggantikannya. Tulisan judul dengan kata sekarat, karena hanya tinggal orang tua saja yang masih tetap mempertahankan budaya Jawa. Anak-anak sudah diajarkan untuk melanggar ungkapan Jawa demi menciptakan anak berkarakter. Melanggar budaya Jawa itukah yang dinamakan manusia berkarakter ?

“Kami tidak memilih sekolah, tapi memilih kelompok masyarakat-kelompok masyarakat agar orang tua, lingkungannya, anaknya, kembali menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari,” ujar DR. Sugiyono, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Itu artinya kalau menggunakan bahasa Jawa otomatis termasuk budayanya juga. Kalau seharian berada di sekolah, lantas bagaimana hubungan dengan orang tuanya, bagaimana hubungan dengan lingkungannya ? Yang paling penting adalah pendidikan dari rumah dan ini merupakan tugas utama dari ibu mengajarkan anak-anaknya dengan keinginan agar menjadi anak yang berbudi pekerti yang baik.

Sebagai seorang ibu sekaligus guru, saya merasa sangat mengkhawatirkan dengan kondisi anak yang seharian penuh berada di sekolah. Seorang ibu juga manusia, mustahil bisa menjalankan kewajibannya tanpa merasa lelah. Kalau seharian berada di sekolah, bagaimana dengan keluarganya terutama bagi seorang suami?

Jujur saja, bahwa suami lama kelamaan mempunyai rasa melik dengan perempuan lain. Karena hanya malam hari mereka bertemu setelah isterinya seharian berada di sekolah, itupun dalam pertemuannya itu sang istri merasa sudah capek. Apa kata hati suami ?Belum suami protes terhadap istri yang menganggap istri tidak mengurus anaknya sendiri, tetapi malah mengurus anak orang?

Bagaimana kalau istri dianggap ngeyel oleh suami ? Apakah istri tidak merasa sakit hati kalau dikatakan sebagai istri yang ngeyel ? Sedangkan sang istri ini benar-benar menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Kalau sudah begini, mustahil rumah tangga akan menjadi harmonis dan langgeng. Bukan menciptakan anak mempunyai karakter tetapi malah muncul janda-janda baru dan duda-duda baru akibat full day ini. Siapa yang mau disalahkan ?

Di daerah-daerah berusaha melestarikan budaya dengan cara-cara yang berbeda-beda, supaya budaya mereka tidak hilang. Termasuk budaya Jawa di Surakarta. Setiap hari Kamis di minggu pertama para pegawai termasuk guru diwajibkan untuk menggunakan seragam baju adat Jawa. Perempuan menggunakan kebaya dan laki-laki memakai jas blangkon, itu salah satu ciri khas Jawa. Di Betawi juga menggunakan pakaian adat Betawi, begitu juga di daerah-daerah yang lain.

Di Surakarta pada sekolah pendidikan dasar, menegah dan atas terdapat muatan lokal yaitu Bahasa Jawa. Satu minggu hanya dua jam pertemuan. Artinya di sekolah hanya akan menggunakan bahasa Jawa di saat jam pelajaran bahasa Jawa saja. Dan itupun bagi siswa bahwa pelajaran Bahasa Jawa itu dikatakan amat sulit dibandingkan dengan bahasa asing.

Berada di sekolahan seharian dan pelajaran Bahasa Jawa hanya dua jam sekali pertemuan, kemudian di rumah belum tentu diajarkan menggunakan bahasa Jawa. Berarti bahasa Jawa hanya digunakan oleh orang yang sudah tua saja. Orang tua tidak sempat mengajarkan bahasa Jawa kepada anaknya, orang tua menganggap anaknya seharian di sekolah itu semuanya sudah beres termasuk budi pekerti. Mustahil kalau guru tidak dituntut orang tua, apabila anaknya melaksanakan full day ini malah semakin amburadul alias tidak mempunyai budi pekerti yang baik.

Merasa kalau yang mendidik guru itu semua akan menjadi baik dan berkarakter sesuai dengan keinginan bapak menteri yang baru ini. Lantas, bagaimana kalau anak mereka tidak menjadi anak yang berkarakter ? Bagaimana kalau semua orang tua ngeyel anaknya harus menjadi anak yang berkarakter ?

Terlepas dari sikap dan persepsi yang berbeda tentang full day school budaya Jawa tetap memiliki posisi penting dan relevansi dalam kehidupan masyarakat kita pada masa kini dan masa yang akan datang. Dan sebagai orang Jawa yang baik, tidak mungkin akan merasa ikhlas kalau ungkapan melik dan ngeyel yang merupakan larangan bagi orang Jawa ini dilakukan demi mendapatkan manusia berkarakter.

Justru kalau mengharapkan manusia yang berkarakter itu tidak akan pernah melakukan sesuatu hal yang merupakan larangan. Bagaimana kalau anak anda ngeyel ( nekad ) melakukan sesuatu hal yang anda sendiri tidak suka? Dan bagaimana perasaan anda kalau salah satu keluarga anda melik ( menginginkan sesuatu ) dengan barang orang lain ? Maukah anda berkorban ? Bagaimana pendapat anda, apakah akan ngeyel melakukan full day school ataukah akan melik Finlandia ? Terserah anda !

– Penulis adalah Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta, Jawa Tengah. No. Hp. 081329405977.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger