Rute Penerbangan Baru Geliatkan Ekonomi

img-20160915-wa0001a

JO, Solo – Asita Surakarta menyambut positif rencana pembukaan rute penerbangan baru dari Solo, ke berbagai daerah khususnya ke Indonesia bagian timur.
Ketua Asita Surakarta Daryono berharap, rute baru itu nantinya berdampak positif terhadap perekonomian di Soloraya.

“Saya melihat, 40 persen penerbangan di Yogyakarta itu melayani ke Indonesia timur. Kalau saja bisa memindahkan sebagian rute itu ke sini, saya kira Solo akan maju,” kata dia, kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya,  Lion Air mengajukan 8 rute penerbangan baru di Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo lantaran sebelumnya tidak mendapatkan tempat di Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta, dengan alasan slot time penuh. Kedelapan rute dari Solo itu menuju Denpasar, Banjarmasin, Palangkaraya, Lombok, Makassar (Ujung Pandang), Tenggarong, Pontianak, dan Kuala Lumpur (Malaysia).

“Selain kedelapan rute baru, Batik Air yang masih satu manajemen dengan Lion juga menambah satu jadwal penerbangan lagi ke Jakarta yang dimulai 15 Oktober,” kata Station Manager Lion Air Solo, Aditya Yudha.

Daryono memprediksi, kemajuan yang akan terjadi di Kota Solo dan sekitar dengan banyaknya rute yang melayani ke Indonesia timur tidak hanya di sektor pariwisata tapi sektor perdagangan dan sektor industri. Apalagi pemerintah pusat kini menggeber pembangunan di kawasan timur.

Dari Jawa, kata dia, banyak bahan sandang dan pangan yang di angkut ke Indonesia timur. Sebaliknya, banyak bahan baku atau bahan mentah yang dibawa ke Jawa. Orang-orang Indonesia timur banyak yang datang ke Jawa untuk studi banding dan berbisnis, selain berwisata. “Demikian juga dengan orang Jawa, banyak yang bepergian ke Indoneaia Timur untuk berwisata, selain berbisnis atau berdagang,” tandasnya.

Daryono juga mengaku mendorong koleganya sesama pelaku bisnis jasa pariwisata dan para pemangku kepentingan untuk memanfaatkan momentum rute penerbangan baru itu. Misalnya, dengan membuat paket wisata ke sejumlah destinasi dan promosi bersama.

“Dulu mungkin teman-teman berhitung ulang membuat paket wisata yang akan dijual ke wilayah Indonesia timur karena tidak ada penerbangan langsung. Tapi sekarang saya kira sudah tidak ada alasan,” kata dia. – wid


Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger