“Pilgrimage”: Pameran Mengupas Spiritualitas

unnamed-jpga

JO – Pameran solo perupa Lenny Ratnasari Weichert “Pilgrimage” di Galeri Nasional pada 20 September 2016 adalah pernyataan jejak ingatan dan pengalaman spiritual. Dari simbolik piring Dewi Sri & Colliq Pujie di meja makan sampai patung tentang “9 Wali perempuan” hadir dengan cara unik.

Konsep Pilgrimage mengalami perluasan arti tidak lagi makna tentang ziarah sebagai ritus kegiatan mengunjungi situs suci bersejarah (makam para ulama, bangunan pemujaan, gua tempat turunnnya kitab suci dll). Ziarah, ditafsirkan sebagai perjalanan reflektif ke dalam diri, dengan tuturan menyoal identitas perempuan (secara personal & komunal).

Kurator Bambang Asrini Widjanarko dan ko Kurator Agung Frigidanto, membagi tiga zona penting konsep ekspresi seni instalasi Lenny Ratnasari:

1.Dinners Club, karya instalasi tentang dialog intens teritori kultural Timur & Barat yang diimajinasikan sebagai “meja makan instalatif” dengan 9 perempuan kuat dalam sejarah juga mitologi di dua peradaban besar bertemu dengan simbolisasi piring-piring. Meja makan menghadap narasi kepedihan dan tragedi dalam sebuah video, dengan pesan utama: empati perempuan sejagat terhadap nasib perempuan Indonesia.

2. To be or not to be, Ingatan-ingatan sejarah yang sangat personal & perjalanan panjang menjadi seniman sekaligus ibu. Tak hanya hadir di karya patung-instalatif namun diimbuhi teks-teks di dinding. Emosi kesedihan, kegundahan atau justru keyakinan teguh berlabur jadi satu berwujud ruang beraura kontemplatif.

3. Homage to anonymous, Islam sebagai sebuah praktik dan wacana spiritual ditafsir kembali dengan mengaitkan keberadaannya dengan sejarah, perempuan atau “sang liyan” yang dipinggirkan. 9 Patung dan 1 video mengetuk konsep Islam kultural, yang mengemuka kembali dalam konteks zaman sekarang: memberi ruang lebih luas secara politis bagi perempuan.

Pameran menjadi penting tatkala perempuan dalam konteks ke-Indonesiaan dihadapkan pada “kisah klasiknya” pada teritori ruang privat dan publik, sebagai keniscayaan dunia modern dan globalisasi yang menyisipkan kebimbangan, kegundahan atau bahkan identitas yang chaotic. Bambang Asrini Widjanarko, Kurator dan Agung Frigidanto, Ko Kurator. – rig

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger