Cukai Rokok Naik, PHK Besar2 an

karayawan-rokok

Jutaan pekerja di pabrik rokok terancam terkena PHK massal bila harga cukai dinaikan

JatengOnline – Bila harga cukai rokok benar-benar dinaikkan oleh pemerintah, maka pemutusan hubungan kerja alias PHK besar-besaran akan terjadi. Dan, pabrik cerutu pun diperkirakan banyak yang tutup karena bangkrut.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo. Rencana pemerintah yang ingin menaikan harga cukai rokok ini pun mendapat protes keras dari wakil rakyat di Senayan. Karena menaikkan harga cukai akan mengakibatkan banyak pabrik rokok tutup karena bangkrut.

Kata Firman, penutupan pabrik akan diikuti pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. “(Tenaga kerja) industri pertembakauan mencapai 6 juta orang. Ini belum termasuk petani, yang jumlahnya 9 juta orang. Kalau dari 6 juta itu, 1 orangnya menghidupi 3 sampai 5 orang, bayangkan berapa juta rakyat Indonesia yang akan menjadi miskin,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi wartawan, Senin (03/10), politisi Partai Golkar ini menandaskan, dirinya sangat berharap, pemerintah jangan sampai didikte oleh pihak mana pun. “Kita juga harus membandingkan penghasilan per kapita Indonesia dengan negara-negara yang menginginkan kenaikan rokok itu. Berapa di kita dan berapa di mereka penghasilan per kapitanya,” paparnya.

Tukas Firman, kalau di mereka, pendapatan per kapita per orangnya tinggi. “Beli rokok 50 ribu juga pasti tidak masalah. Ini yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah,” cetus Firman.

Oleh karenanya, Firman meminta pemerintah tidak gegabah mengambil keputusan atau pun menerbitkan sebuah kebijakan. “Pemerintah harus benar-benar mengkaji dan mendalaminya terlebih dahulu,” tandas dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Saleh P. Daulay. Politisi PAN ini menolak rencana pemerintah menaikkan tarif cukai rokok sebesar 10,54 persen.

“Ada banyak faktor yang mungkin dipertimbangkan pemerintah. Termasuk, menghindari dampak meningkatnya pengangguran di sektor industri rokok akibat kenaikan cukui yang memberatkan. Mungkin itulah yang menyebabkan kenaikan cukai tidak bisa terlalu tinggi,” Saleh di Gedung DPR, Jakarta, Senin (03/10) menyatakan.

Menurut Saleh, untuk mengurangi jumlah perokok, sebaiknya pemerintah terus mengkampanyekan anti-rokok di masyarakat sehingga ada kesadaran yang tumbuh terhadap kesehatan. “Kampanye anti-rokok tidak hanya kepada para perokok. Malah kampanye itu proporsinya lebih besar diarahkan pada anak-anak muda yang belum merokok.

Selama ini, kampanye pada perokok telah banyak dilakukan. Hasilnya belum memuaskan. Karena itu, perlu upaya keras agar tidak muncul perokok-perokok baru,” beber mantan pimpinan Komisi VIII DPR ini.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat membantu industri rokok untuk memasarkan produksinya di luar negeri. “Kalau produksinya untuk dijual di negara lain, tentu tidak masalah. Setidaknya, tidak masalah bagi kita di Indonesia. Yang mengkhawatirkan, produksi semakin banyak tetapi dijual dan dikonsumsi di Indonesia,” Saleh berucap.

Sebagai informasi, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati akan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 147/PMK/.010/2016. PMK ini berisikan ketentuan kenaikan tarif cukai tertinggi sebesar 13,46 persen untuk jenis tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM) dan terendah adalah 0 persen untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan IIIB, dengan kenaikan rata-rata tertimbang sebesar 10,54 persen. – thejak

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger