IPI Gelar Pelatihan Budidaya Lele Sistem Biona dan Bionik

img-20161114-wa0004

JatengOnline, Solo – Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) DPC Karanganyar, menyelenggarakan pelatihan budidaya ikan lele sistem biona (bio natural) dan bionik (bio natural and aquaponic combination), Minggu (13/11/2016), bertempat di Bakso Tengkleng Karangpandan, jl. Lawu, Karanganyar, menghadirkan narasumber Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc, Ketua Jurusan Perikanan UMM, Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang.

Pelatihan dibuka Wasekdjen IPI Pusat, Yant Subiyanto, dalam sambutannya menyatakan pesantren tidak hanya sekedar mengajarkan ilmu agama semata, namun diharapkan juga mampu memberdayakan para santri untuk mandiri secara finansial.

“Ini saat era kebangkitan para santri dan pesantren untuk bisa menciptakan pekerjaan dan lapangan pekerjaan, khususnya bidang agrobisnis, pertanian dan perikanan. Sumber daya alam Indonesia sangat luar biasa, namun potensi ini belum digarap optimal ” ungkapnya.

Narasumber pelatihan, Riza Rahman Hakim, menyatakan ledakan populasi penduduk dunia memacu konsumsi ikan dan daging meningkat.

Namun diversifikasi makanan tidak sebanding dengan perkembangan penduduk. Di Indonesia tahun 2013 jumlah penduduk baru 240 juta, diprediksi tahun 2050 meningkat tajam menjadi 300 juta.

“Semua orang butuh makan bergizi dan mengandung protein. Tetapi daya beli rendah. Daging sapi harganya sangat mahal, maka ikan lele, menjadi alternatif pemenuhan protein, karena harga relatif murah ” ungkapnya.

Dari data yang ada konsumsi ikan di Indonesia paling rendah di Asean padahal salah satu penghasil ikan terbesar di dunia.

“Jepang SDM briliant, karena orang paling suka mengkonsumsi ikan, ” papar Riza.

Melihat kenyataan itu, Riza tergerak untuk membuat slogan one house one pond, satu rumah satu kolam lele untuk pemenuhan protein keluarga, dengan mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem biona dan sistem bionik.

Sistem biona dan bionik sangat mudah dikembangkan di perkotaan yang lahan sangat terbatas. Satu kolam plastik diameter 1 meter, bisa diisi seribu ekor lele.

Dalam waktu dua atau tiga bulan sudah bisa dipanen. Biona menggunakan teknologi organik, tidak menggunakan obat-obatan maupun pakan kimia, dan antibiotik.

Keunggulan lain sistem biona, efisien tempat, tidak mengganti air sampai panen, air tidak berbau menyengat, tidak perlu sortir. Kelulusan hidup lele berkisar 70-80 %. Lebih higienis, halal dan thoyib.

“Sedangkan sistem bionik merupakan pengembangan sistem biona, yaitu budidaya lele dikombinasikan dengan menanam sayuran organik. Mendapat daging ikan lele, sekaligus menyiapkan lalapannya, ” jelas Riza.

Diakhir pelatihan peserta diajak melakukan simulasi dan mencoba secara langsung budidaya lele dengan sistem biona maupun bionik. – arn

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger