Memahami Siklus Perekonomian Indonesia Dengan Kalender Jawa Hijriah

JATENGONLINE, SOLO – Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Noer Soetrisno mengkritalisasikan pemikirannya dalam sebuah buku bertajuk “Memahami Siklus Perekonomian Indonesia.” Buku tersebut mengupas tentang Kalender Jawa Hijriah (KJH) dan Perkembangan Ekonomi-Sosial di Indonesia. Peluncuran sekaligus Bedah Buku telah dilaksanakan di Syariah Hotel Solo pada hari Senin (19/12/2016).

“Model alternatif yang ditawarkan KJH memberi perspektif perguliran waktu dengan siklus yang teratur dalam jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Indonesia mengalami periodisasi perkembangan perekonomian mulai dari Ekonomi Perang pada awal kemerdekaan, Menuju Ekonomi Kerakyatan pada akhir 90an hingga awal 2000an. Namun untuk memahami siklus perekonomian Indonesia juga harus mempertimbangkan faktor nilai sosial budaya di masyarakat. Sehingga cukup kuat landasan untuk menguji kekuatan model siklus KJH bagi perekonomian Indonesia.

Pria kelahiran Blitar, 25 Desember 1949 ini memaparkan, KJH menggunakan dasar sistem penanggalan Jawa Hijriah ala Raja Mataram Sultan Agung. Dengan menetapkan pola tetap yaitu satu tahun Jawa terdiri atas 12 bulan 354 hari dan kabisat berumur 355 hari, yang berlangsung tiga kali dalam delapan tahun. Siklus delapan tahun atau satu windu ini yang digunakan untuk menggambarkan suasana kemasyarakatan yang terjadi selama masa delapan tahunan.

20161219_132437

Secara rinci, nama dan ciri Windu ini dibagi menjadi empat. Yaitu, Adi, berarti memiliki keunggulan dalam segala hal dan banyak hal baru muncul. Kuntara, berarti banyak perilaku dan gaya hidup baru. Sangara, berarti banjir. Dan sancaya yang berarti riang dan ramah.

Menurut perhitungannya, saat ini negara Indonesia sedang dalam tahap Windu Sangara dari tahun 2011-2019. “Sangara itu karena kondisinya banjir dimana-mana maka perekonomian jadi melambat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi indonesia hanya berkisar 5 persen saja. Untuk menghadapinya, harus cernat dan hemat,

Pihaknya menilai, siklus KJH ini sesuai dalam konteks perubahan perkembangan perekonomian. Siklus semacam ini dapat menjadi pedoman setiap pemimpin agar memahami berada di jaman dan siklus mana. Sehingga mampu mencari penyelesaian tiap-tiap persoalan pemerintahan.

Terlebih, siklus ini bertumpu pada keserasian dan harmoni semua unsur negara. Unsur itu berintikan rakyat (masyarakat), wilayah (alam dan lingkungan), kekuasaan (pemimpin dan sistem kepemimpinan) dan cerdik cendikia, yang dengan pengetahuannya mampu menemukan cara baru.

“KJH dapat dijadikan sebagai penanggalan yang memiliki prediktive power. Mampu menerangkan masa lalu secara kuat dan mampu memberikan indikasi arah perkembangan ke depan,” tuturnya. (rum)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger