Perias Manten Tak Lagi Mengindahkan Pakem

JATENGONLINE, SOLO – Kota Solo yang terkenal dengan busana Solo Putri (kebaya bludru) dan Basahan (dodot) dalam prosesi pernikahan. Dewasa ini pengantin Solo bisa dibilang hampir tidak menggunakan busana

Basahan dalam upacara pernikahan mereka. Berbagai alasan mereka lontarkan untuk menjawab pertanyaan mengapa mereka tidak menggunakan busana Basahan. Mereka lebih memilih kebaya modern yang menurut mereka lebih simple dan praktis. Sikap seperti ini yang menjadi bibit terkikisnya busana dodot.

Hanya saja ironis jika masyarakat Solo yang terkenal dengan sebutan Kota Budaya tapi masyarakatnya sendiri mengingkari kebudayaanya. Selain itu ada pergeseran juga dari perias manten Solo, mereka mencoba meramu dan menginterpretasikan bentuk luar atau penampilan fisik dari dodot.

Tapi mereka lupa dalam setiap elemen yang dikenakan mempelai memiliki tujuan dan makna tertentu. Ide untuk mengadakan workshop ini selain mengenalkan kebudayaan Jawa, diharapkan para pelaku (perias manten) memahami kembali makna dalam setiap elemen dodot.

Seperti disampaikan KRAT. Hartoyo Budoyonagoro S.Sn, nara sumber Workshop Rias Busana Sumber Tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat, “Teknik pemakaian Dodot tanpa pengait, tidak merusak kain, cepat dan rapi”. Bertempat di Sriwedari, Kusuma Sahid Prince Hotel Solo.Tanggal 3 Maret 2017) mendatang.

Dosen Luar Biasa di Institut Seni Indonesia Surakarta, KRAT. Hartoyo Budoyonagoro S.Sn, mengatakan, dirinya mulai mengenal rias manten tahun 1976. Dengan ketelatenan, semangat dan usaha yang dilakukan dari mulai belajar, bereksperimen dan berinovasi.

anigifksph“Perkembangan rias manten saat ini sangat baik dan semua berlomba untuk menjadi baik, tanpa lagi mengindahkan pakem, fenomena ini sungguh ironis,” terangnya, saat temu media di KSPH. Selasa (21/2/2017)

Seperti disampaikannya, tahun 1980 – 1985 KRAT. Hartoyo Budoyonagoro menjadi perias penari di Puro Mangkunegaran, dan belajar teknik rias tanpa menggunakan alat bantu dan penyiasatan bentuk mata.

Sedangkan saat ini, menurut KRAT. Hartoyo Budoyonagoro, kebanyakan dari para perias menafsir sendiri dan berusaha mencari inovasi yang sebenarnya justru menyesatkan generasi perias selanjutnya.

“Saya merasa bertanggung jawab dan mengemban amanah untuk menjaga tradisi ini,” imbuhnya.

Pada tahun 1985, KRAT. Hartoyo Budoyonagoro menjadi abdi dalem rias busana tari dan konsultan pemakaian dodot di Karaton Surakarta Hadiningrat sampai sekarang. Dan yang terakhir memakaikan dodot ISKS Pakoe Boewono XII waktu jumenengan tahun 2004 beserta Pangeran dan Sentana dalem.

Sehingga dengan workshop ini dapat menggugah pikiran dan hati perias manten khususnya, untuk tetap berada pada jalur dan pakem tradisi rias manten Solo. Agar penerus rias manten nantinya memahami akan pakem dan keaslian budayanya.

“Tradisi kita itu indah dan kaya akan makna kehidupan,” tegas KRAT Hartoyo. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger