Masih Minim Ekspor TPT ke Kanada

 

JATENGONLINE, SOLO – Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, ditemui pada Lokakarya Ekspor Produk Tekstil/Apparel ke Kanada atau Canada-Indonesia Trade and Private Sector Assistance Projek (TPSA) di Royal Heritage Hotel Surakarta, selama 2 hari, 8-9 Mei 2017.

Dikatakan Ade, bahwa tiap negara itu memiliki karakter, disamping iklim yang berbeda. Melihat perbedaan karakter di setiap negara itu, tentunya produk tekstil dan fashion yang dibutuhkan masyarakatnya pun juga pasti akan berbeda.

“Dengan adanya pembekalan untuk pelaku UKM, diharapkan mereka bisa mengerti karakteristik masyarakat di suatu negera tujuan ekspor produknya,” papar Ade.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) imbuh Ade, mendatangkan langsung dari pihak Kanada untuk memberi informasi mengenai demografis dan geografis. Sehingga produk tekstil yang disiapkan agar sesuai permintaan masyarakat Kanada.

“Selama ini ekspor ke Kanada masih sangat rendah. Hanya 1 persen dibandingkan ekspor ke negara lain. Padahal, potensi pasar di sana masih sangat bagus jika digarap serius,” terangnya.

Sementara itu, nilai ekspor produk tesktil atau apparel dalam beberapa tahun terakhir terus merosot. Maka, pelaku usaha kecil menengah (UKM) didorong untuk bisa membuat produk spesifik sesuai kebutuhan pasar di negara tujuan ekspor.

Sedangkan berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, saat ini nilai ekspor produk tekstil hanya USD 11,9 miliar. Nilai ini turun dibanding pada 2013 yang masih berkisar USD 13,2 miliar. Untuk memperbaiki kondisi ini, kementerian berupaya mendampingi UKM agar lebih siap ekspor.

Meski bukan menjadi selera mayoritas, namun tak sedikit masyarakat Kanada yang menyukai fashion bernuansa etnik. Potensi ini sangat bisa digarap UKM di Solo yang rata-rata juga memproduksi pakaian bergaya etnik.

Tindak lanjut dari lokakarya kemarin adalah pendampingan serta menjaring link pasar industri yang lebih besar. Ke depan, produk –produk yang sudah siap akan dipamerkan di Las Vegas. Diharapkan produsen akan bertemu dan berinteraksi langsung dengan buyer Amerika dan Kanada.

”UKM di Solo harus memiliki ciri khas tersendiri dan diusahakan limited edition. Meski mengalami penurunan, namun di tiga bulan terakhir ini ekspor kita bisa naik 3 persen,” papar Ade.

Tanda-tanda kenaikan yang masih tipis ini tentu membawa angin segar dan optimisme. Dikatakan Ade, potensi pasar ekspor hampir 17 persen, terbanyak tetap ke Amerika, disusul Uni Eropa, Jepang, lalu Timur Tengah. (ian)

Pemilik Puspa Dhewi Batik Solo, Wenny Anggraeny, salah satu peserta lokakarya,  mengaku, ia memang butuh ilmu dan pendampingan untuk bisa mengembangkan pasar ekspor Eropa, khususnya ke Kanada.

“Untuk itu, kami harus mengenal betul karakteristik dari Kanada. Sebab, Timur Tengah punya karakter dan iklim berbeda. Dengan pengetahuan tersebut, harapannya kami bisa memberikan produk terbaik dan bisa bersaing di pasar Internasional,” pungkasnya. (ian)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Theme
wordpress