Saatnya Indonesia Berlakukan Ecogreen

Andreas Lako dalam seminar ecopreneurship di Univet Sukoharjo.

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Kerusakan lingkungan akibat industri ekonomi yang terjadi di Indonesia sudah mulai menyebar dan harus segera ditanggulangi. Sayangnya saat ini kebijakan pemerintah untuk melaksanakan green economy dengan ecopreneurship masih sangat rendah dan lemah bargaining dari sisi hukum.

Seperti diungkapkan oleh Faisal Basri, pakar ekonomi politik dari Universitas Indonesia, bahwa perilaku industri di Indonesia harus segera diatur agar kelestarian alam tetap terjaga.

“Potensi energi di Indonesia itu sangat besar, namun selama ini masih bergantung pada minyak yang mnecapai 43% dan batubara 34%. Sedangkan pemanfaatan energy gas 19% dan ebt (energy baru dan terbarukan) hanya 4%. Kalau dimulai dari sekarang system ecogreen idealnya tahun 2025 nanti porsinya harus seimbang menjadi sekitar 22 – 30 % secara merata. Dan kelestarian alam tetap terjaga,” ungkap Faisal Basri dihadapan peserta seminar Ecopreneurship menuju alam lestari dan profit tinggi yang di gelar FE Univet Sukoharjo. Sabtu (13/5/2017)

Faisal yang juga anggota Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi Nasional, merekomendasikan pada pemerintah agar mendorong kemandirian energi dengan secara sadar mengembangkan energi baru dan terbarukan, prioritas pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi, penggunaan biofuel sebagai bahan bakar alat transportasi, dan pengembangan energi surya.

Hal senada juga disampaikan pembicara Andreas Lako, Guru besar Akuntansi Unika Soegijopranoto Semarang, namun lebih menekankan metode green bussines, yakni Paradigma bisnis yang menganjurkan bahwa dalam berbisnis untuk meraup keuntungan ekonomi (profit), korporasi perlu peduli dan bertanggung jawab melestarikan lingkungan planet) dan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat (people).

“Saatnya Indonesia beralih dari greedy economic menjadi green economic, jadi bukan hanya mementingkan laba namun secara terintegrasi juga mementingkan lingkungan sekitar dan berkelanjutan, dengan tidak lepas dari upaya memaksimal laba untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan menjaga kelestarian alam semesta,” kata Andreas Lako.

Pihaknya berharap generasi muda yang siap terjun di dunia bisnis dan kebijakan ekonomi mulai berpola pikir untuk melaksanakan green economi sejak dini. (jia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress Themewordpress
Advertisment ad adsense adlogger