UKM Solo Apresiasi TPSA Canada

JATENGONLINE, SOLO – Sejumlah eksportir Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) asal Solo menyatakan sangat tertarik menjajaki ekspor ke Canada yang selama ini membeli produk tekstil dam fashion apparel dari pihak ketiga, tidak langsung dari Solo.

“Kami harus mengenal betul karakteristik dari Kanada. Sebab, Timur Tengah punya karakter dan iklim berbeda. Dengan pengetahuan tersebut, harapannya kami bisa memberikan produk terbaik dan bisa bersaing di pasar Internasional,” ujar pemilik Puspa Dhewi Batik, Wenny Anggraeny Puspadhewi . Salah satu peserta lokakarya.

Diakui Wenny, ia memang butuh ilmu dan pendampingan untuk bisa mengembangkan pasar ekspor Eropa yang selama ini baru dijajaginya. Sehingga perlunya mengikuti lokakarya yang di selenggarakan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Kementrian Perdagangan, selama 2 hari di Royal Heritage Hotel Solo, 8-9 Mei 2017.

Dia juga menanggapi lokakarya yang digelar Canada-Indonesia Trade and Private Sector Assistance Projek (TPSA) ini sangat positif karena bermuatan edukasi soal selera, budaya dan hal-hal lain menyangkut Kanada.

“Kita tertarik, ini peluang bagus dan akan melakukan survey ke Kanada untuk penjajakan pasar baru,” ungkap Wenny disela mengikuti lokakarya ekspor apparel ke Kanada.

“Setau saya ini yang pertama adanya edukasi sebelum dilakukan ekspor apparel ke luar negeri difasilitasi NGO dan pemerintah Indonesia. Selama ini kita mencari referensi sendiri dengan berbagai cara,” ujarnya.

Selama lokakarya berlangsung, peserta hadir dari Solo Raya, Jawa Tengah dan Jawa Barat ini sangat antusias mengikuti sesi demi sesi lokakarya yang dilengkapi dengan peralatan penerjemahan bahasa tersebut.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah Liliek Setiawan mengatakan, dengan adanya pembekalan untuk pelaku UKM, diharapkan mereka bisa mengerti karakteristik masyarakat di suatu negera tujuan ekspor, sehinggga produk yang disiapkannya sesuai dengan permintaan pasar.

”Kami mengundang pihak dari Kanada untuk memberi informasi mengenai produk permintaan pasar sekaligus demografis dan geografis. Sehingga bisa menyiapkan produk tekstil sesuai permintaan konsumen Kanada,” jelas Liliek, disela mendampingi UKM mengikuti lokakarya.

Kegiatan ini didukung Kementrian Perdagangan RI, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan TFO Canada. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *